Pages

Subscribe:

25 Desember 2010

Tukang Reparasi Telah Datang

Hari ini Dede datang ke tengah kota bersama ibunya, mereka berdua terpesona dengan suasana keramaian jalan tersebut.

Di antara suasana jalan yang sangat sibuk itu, tampak seorang paman sedang asyik memperbaiki barang barang elektronik di sampingnya.

Dede dengan antusias mendekati paman itu, tak lama kemudian Dede bertanya, ”Paman, bolehkah saya mengetahui apa yang sedang paman lakukan?”

Sang paman itu melihat sebentar kearah Dede dan berkata sambil tersenyum melihat wajah Dede yang sangat penasaran itu, ”Oh, paman sedang memperbaiki barang-barang elektronik ini”.

Si Dede kembali bertanya, ”Ada apa dengan barang-barang elektronik ini? Mengapa harus paman perbaiki?”

Lalu paman itu menghentikan pekerjaannya dan sambil tersenyum ramah menjelaskan, ”Barang-barang elektronik ini adalah milik pelanggan yang ingin diperbaiki. Mereka ingin memberikan kesempatan sekali lagi kepada barang-barang elektronik ini untuk menjalankan tugasnya. Namun jika barang-barang ini dipergunakan agak lama, akan ada sebagian onderdilnya yang sudah aus dan rusak sehingga harus diperbaiki atau diganti dengan yang baru. Nah kalau sudah diperbaiki begini, mungkin akan dapat berfungsi seperti sedia kala tanpa harus membuangnya.”

Dede setelah mendengar perkataan sang paman, dia lalu berpikir sejenak kemudian menolehkan kepala kepada ibunya yang berdiri di samping Dede dan bertanya, ”Mama…apakah manusia juga perlu direparasi?”

Ibunya tersenyum bijak dan membelai kepala Dede, ” Kalau seseorang terlalu banyak berbuat hal yang buruk dan memiliki konsep pikiran yang tidak betul, maka dia juga perlu direparasi”

Si Dede pun menganggukkan kepala tanda mengerti.

___________________________________

Apakah kita sudah mereparasi diri kita masing-masing???

Sekaranglah saat yang tepat untuk itu. Karena hari ini "Tukang Reparasi" telah datang ke dunia. Memperbaiki hal-hal buruk pada diri kita, dan menjadi Juru Selamat Manusia di dunia.


Selamat Natal 2010



Berkat Tuhan selalu beserta kita.

Amin.

21 Desember 2010

Rasa Gembira

Ada sekelompok pemuda sedang mencari rasa gembira, mereka mencari diberbagai tempat, tetapi yang mereka temukan malah rasa kesal, susah dan kesedihan.

Lalu mereka mencari guru mereka dan bertanya kepadanya apa itu gembira?

Guru itu berkata kepada mereka :”Kalian semua, sekarang tolong bantu saya membuat sebuah perahu!”

Sekelompok pemuda ini untuk sementara mengesampingkan hal mencari kegembiraan, dan mencari peralatan untuk membuat sebuah kapal.

Mereka menghabiskan 49 hari menumbangkan sebatang pohon besar, mengkorek isi pohon akhirnya terciptalah sebuah perahu kayu.

Setelah selesai mereka meletakkannya di sungai, lalu mengundang guru mereka naik diatas perahu, dengan sekuat tenaga mereka bersama mendayung perahu sambil bernyanyi, lalu guru itu bertanya kepada mereka :”Anak-anak! Apakah sekarang kalian gembira?”

Murid-muridnya serentak menjawab : ”Sangat gembira!”

Guru itu lalu berkata :”Inilah rasa gembira, ketika engkau sibuk mengerjakan hal yang lain dia akan tiba-tiba menemuimu.”

18 Desember 2010

Teratai

Pada sebuah kolam yang tenang, tumbuh sekelompok bunga Teratai yang cantik.

Udara lingkungan sekitar sangat menyejukkan hati. Bunga-bunga Teratai itu selalu bermandikan sinar matahari yang hangat, benar-benar sebuah tempat tinggal yang nyaman dan menyenangkan.

Namun suatu hari, ujung buah Teratai kering tiba-tiba menjatuhkan beberapa biji Teratai ke dasar kolam yang keruh.

Saat itu biji-biji Teratai ini tidak tahu apa yang harus dilakukan, tetapi mereka semua berpikir ingin segera kembali ke atas permukaan air tempat mereka berasal, dikarenakan dasar kolam ini begitu hitam, kotor dan dingin.

Didalam lingkungan baru itu, biji-biji Teratai ini menjadi sangat gugup.

Tepat saat mereka sedang dalam kebingungan, Ibu Teratai menundukkan kepalanya dan berkata, ”Anak-anakku janganlah cemas, asalkan kalian sudah memutuskan keinginan untuk kembali, dengan giat terus tumbuh ke atas, maka tak lama kelak kalian akan kembali ke atas permukaan air yang hangat.”

Setelah itu biji-biji Teratai ini mulai berdebat dalam lumpur kolam.

Permukaan kolam itu begitu tinggi, mereka berpikir rasanya sudah tak mungkin kembali lagi.

Sehingga ada sebagian biji Teratai sudah putus harapan. Bahkan diantaranya sudah terkelabui oleh pemandangan dasar kolam. Mereka melayang-layang ke lain tempat mengikuti aliran arus kolam itu.

Namun ada sebagian biji Teratai yang merasa yakin akan ucapan Ibu Teratai.

Mereka lalu memutuskan untuk tumbuh ke atas.

Terhadap berbagai ucapan sinis biji-biji lain mereka tidak menghiraukannya. Dan tak lama kemudian, mereka benar-benar mulai menancapkan akarnya, lalu tubuh mereka menjadi tinggi menjulang.

Setiap hari mereka terlihat tumbuh dengan cepat, sedangkan bagi mereka yang tidak giat tumbuh ke atas telah tersesat di berbagai sudut kolam.

Tepat saat sinar mentari pagi mulai muncul, sekelompok biji Teratai yang berani dan rajin ini, akhirnya berhasil kembali ke atas permukaan air yang selama ini mereka dambakan.

Terlihat sinar mentari hangat yang dahulu mereka kenal, tersenyum lembut menyambut mereka.

Begitu juga mereka akhirnya dapat bertemu kembali dengan Ibu Teratai yang bersama Teratai-Teratai lainnya, telah sejak dini menantikan kedatangan mereka.

15 Desember 2010

Lilin dan Korek Api

Disebuah rumah mungil dipinggir hutan, tinggal sebatang lilin kecil.

Ketika hari menjelang malam pemilik rumah tersebut menyalakan lilin kecil itu.

Tiba-tiba datang angin besar menerobos masuk ke jendela rumah itu. Wusshh! Si Lilin Kecil ini merasakan apinya telah padam. “Aduh, aku harus segera mencari cahaya, hari sudah semakin gelap”, kata Lilin Kecil dengan panik.

Si Lilin Kecil lalu keluar dari rumah itu dan berteriak kepada Paman Matahari, “Paman, bolehkah aku meminta sedikit cahayamu?”

“O o! Mana mungkin Nak, jarak kita kan terlalu jauh! Lagipula Paman harus segera pulang, karena malam akan tiba. Daah”, kata Paman Matahari dengan terburu-buru.

Hari sudah beranjak malam, si Lilin Kecil terus berjalan mencari cahaya.

Tiba-tiba dia melihat kilatan lampu mobil, dengan terburu-buru dia mengejar cahaya lampu mobil itu. “Tunggu! Tunggu! Lampu mobil, tolonglah aku!”, teriak Lilin Kecil sambil berlari-lari.

“Aduh!”, jerit Lilin Kecil, rupanya dia berlari dengan menggebu-gebu sehingga tidak melihat jalan dan menabrak tiang listrik. “Lilin Kecil hati-hatilah kalau berjalan,” kata Paman Tiang Listrik.

“Oh, maafkan saya, sebenarnya saya hanya ingin meminta sedikit cahaya, tetapi tidak ada yang menghiraukan saya,” kata Lilin Kecil tertunduk sedih.

“Sudahlah jangan bersedih hati,” kata Paman Tiang Listrik. “Paman punya teman kecil bernama Lampu Meja. Dia tinggal diseberang jalan itu. Cobalah menemuinya, mungkin dia bisa membantu masalahmu.”

Seketika itu wajah Lilin Kecil berubah gembira, setelah mengucapkan terima kasih kepada Paman Tiang Listrik. Lilin kecil pergi menemui si Lampu Meja.

“Cobalah masukkan sumbumu kedalam saklar itu, saya mendapatkan cahaya juga berasal dari sana”, saran si Lampu Meja.

Si Lilin Kecil itu dengan tidak sabar menancapkan sumbunya kedalam saklar tersebut. Tetapi kok tidak terjadi reaksi apa-apa ya. Berulang kali dicobanya, namun tetap tidak berhasil. De-ngan hati kecewa si Lilin Kecil meninggalkan tempat itu.

Si Lilin Kecil pulang dengan menundukkan kepala dan langkah gontai.

Dia merasa benar-benar putus asa. Ketika pikirannya sedang berkecamuk sedih, tiba-tiba dia mendengar jeritan mengaduh.

Oh, rupanya si Lilin Kecil lagi-lagi menabrak sesuatu.

“Aduh! Maafkan saya Korek Api, saya tidak melihatmu karena saya sibuk memikirkan kemana lagi mencari cahaya,” kata Lilin Kecil.

“Oh, kamu sedang mencari cahaya? Cepatlah julurkan sumbumu kesini, aku punya cahaya,” kata si Korek Api.

“Waah, benarkah? Baiklah kalau begitu”, kata si Lilin Kecil penuh semangat.

“Korek Api, Engkau baik hati sekali mau membantuku. Maukah engkau menjadi temanku?”

“Aku senang menjadi temanmu, Lilin Kecil. Ttt…tapi aku akan segera mati”, kata Korek Api dengan lemas.

“Tidak, tidak, aku tidak mau begini! Janganlah mati,” kata Lilin Kecil sambil menangis tersedu-sedu.

“Jjj…jangan sedih Lilin Kecil. Meskipun aku sudah tiada, tetapi cahayaku senantiasa berada di tubuhmu.”

Dan akhirnya si Korek Api itu benar-benar telah mati, namun cahaya Lilin Kecil telah menerangi rumah mungil itu sepanjang malam.

12 Desember 2010

Di tengah salju

Ada dua orang laki-laki berjalan di atas sebuah gunung yang diselimuti oleh salju dingin yang menusuk tulang.

Di tengah perjalanan mereka melihat seorang laki-laki tua jatuh dalam gumpalan salju.

Kalau dibiarkan, orang tua itu pasti akan terkubur salju, dan mati kedinginan. “Kita bawa saja dia dan jalan bersama.” ujar pemuda itu.

Mendengar usulan itu, dengan gusar rekannya berkata, “Cuaca yang buruk begini, untuk mengurus diri sendiri saja repot, mana bisa mengurus orang lain!” Petualang itu pun lalu pergi seorang diri.

Sang pemuda terpaksa seorang diri menggendong si kakek itu dan meneruskan berjalannya.

Ia tidak tahu sudah berapa lama berjalan, tubuh dibasahi oleh keringat, dan di luar dugaan, energi panas ini melumerkan tubuh kakek yang kaku kedinginan, dan secara berangsur-angsur kesadaran orang tua itu akhirnya pulih kembali.

Suhu kedua orang itu menjadi penghangat yang saling memberi kehangatan, sehingga dengan demikian lupa akan cuaca yang dingin.

“Syukurlah kek, akhirnya kita sampai juga.” Ketika melihat perkampungan di kejauhan, laki-laki itu memberitahukan pada kakek yang digendongnya.

Namun, setibanya mereka di persimpangan desa, terlihat kerumunan massa sedang membicarakan sesuatu. Sebenarnya apa yang telah terjadi?

Laki-laki itu berdesakan masuk di antara kerumunan massa dan begitu dilihat, ternyata seorang laki-laki tergeletak di atas gumpalan salju sudah meninggal dunia.

Ketika dengan cermat mengamati jenazah laki-laki itu itu, ia benar-benar sangat terkejut, laki-laki yang meninggal kedinginan di atas salju yang tidak begitu jauh jaraknya dari desa itu ternyata adalah rekannya yang demi keselamatan diri sendiri lalu pergi terlebih dahulu meninggalkan mereka waktu itu.

09 Desember 2010

Kura-kura

Pada suatu waktu, seseorang melihat seekor kura-kura kecil dijual di pasar hewan.

Ia membeli kura-kura tersebut, membawanya pulang dan menempatkannya didalam sebuah mangkuk berisi air dan memberinya makan.

Seminggu kemudian, kura-kura sudah tumbuh membesar dan tidak muat lagi di mangkuk tersebut. Melihat hal ini, orang ini berpikir bahwa meskipun ia menyayangi kura-kura ini, namun seharusnya ia melepaskannya ke sungai.

Dia dengan sedih melepaskan kura-kura tersebut ke sungai dan memandangnya sampai kura-kura tersebut berenang menjauh.

Beberapa tahun kemudian, pada saat terjadi bencana banjir besar, orang tersebut terjebur ke sungai.

Segera tubuhnya terseret arus sungai yang deras, namun tiba-tiba ia merasa kakinya menyentuh batu dan dapat menjejak, sehingga tidak tenggelam.

Penasaran, ia melongok ke bawah air sungai. Ternyata kakinya berada diatas punggung kura-kura yang sedang berenang.

Kura-kura tersebut menyebrangkannya dengan selamat ke tempat aman di sisi lain dari sungai tersebut.

Sesampainya di tepi, orang tersebut melompat ke daratan dan mengucapkan terima kasih.

Kura-kura tersebut memandangnya agak lama, mengingatkan dia akan kejadian beberapa tahun silam, saat dia membeli kura-kura kecil dan kemudian dilepaskan ke sungai.

Tak lama kemudian, sang kura-kura kembali ke dalam sungai dan berenang ke tengah, namun sambil terus memandang orang itu.

Kepalanya tetap berada di permukaan air, seolah-olah ingin terus menjaga orang tersebut dari mara bahaya.

_______________________________________

Dapat kita lihat bahwa orang yang berhati baik yang menyelamatkan kura-kura kecil.

Ia melakukan hal terbaik bagi kura-kura tersebut: melepaskannya kembali ke sungai.

Saat orang itu kemudian terancam nyawanya, kura-kura tersebut membalas kebaikannya dengan menyelamatkan hidupnya.

Meskipun mereka hidup di dunia berbeda dan menempuh jalan masing-masing, suatu jasa kebaikan itu akan terus mengikuti kita.

Jadi kita lakukanlah perbuatan baik sepanjang hidup. Meskipun kita tidak tahu kapan waktunya, dimana atau bagaimana cara kebaikan tersebut akan berbuah.

29 November 2010

Keras Kepala

Dua ekor kambing berjalan dengan gagahnya dari arah yang berlawanan di sebuah pegunungan yang curam, saat itu secara kebetulan mereka secara bersamaan masing-masing tiba di tepi jurang yang dibawahnya mengalir air sungai yang sangat deras.

Sebuah batang pohon telah dijadikan jembatan untuk menyebrangi jurang tersebut.

Pohon yang dijadikan jembatan tersebut sangatlah kecil sehingga tidak dapat dilalui secara bersamaan oleh dua ekor kambing.

Jembatan yang sangat kecil itu akan membuat orang yang paling berani pun akan menjadi ketakutan.

Tetapi kedua kambing tersebut tidak merasa ketakutan.

Rasa sombong dan harga diri mereka tidak membiarkan mereka untuk mengalah dan memberikan jalan terlebih dahulu kepada kambing lainnya.

Saat salah satu kambing menapakkan kakinya ke jembatan itu, kambing yang lainnya pun tidak mau mengalah dan juga menapakkan kakinya ke jembatan tersebut.

Akhirnya keduanya bertemu di tengah-tengah jembatan.

Keduanya masih tidak mau mengalah dan malahan saling mendorong dengan tanduk mereka sehingga kedua kambing tersebut akhirnya jatuh ke dalam jurang dan tersapu oleh aliran air yang sangat deras di bawahnya.

_________________________________

Sifat keras kepala dan tidak mau mengalah akan membuat kita celaka..

26 November 2010

Burung Gagak yang cerdik

Pada suatu musim yang sangat kering, dimana saat itu burung-burungpun sangat sulit mendapatkan sedikit air untuk diminum, seekor burung gagak menemukan sebuah kendi yang berisikan sedikit air.

Tetapi kendi tersebut merupakan sebuah kendi yang tinggi dengan leher kendi sempit.

Bagaimanapun burung gagak tersebut berusaha untuk mencoba meminum air yang berada dalam kendi, dia tetap tidak dapat mencapainya.

Burung gagak tersebut hampir merasa putus asa dan merasa akan meninggal karena kehausan.

Kemudian tiba-tiba sebuah ide muncul dalam benaknya.

Dia lalu mengambil kerikil yang ada di samping kendi, kemudian menjatuhkannya ke dalam kendi satu persatu.

Setiap kali burung gagak itu memasukkan kerikil ke dalam kendi, permukaan air dalam kendipun berangsur-angsur naik dan bertambah tinggi hingga akhirnya air tersebut dapat di capai oleh sang burung Gagak.

__________________________________

Kemauan, kreatifitas, dan pengetahuan bisa menolong diri kita pada saat yang tepat.

23 November 2010

Bulan yang sombong

Langit ditaburi bintang dan bulan yang bersinar indah. Senang sekali rasanya melihat keindahan malam dari ketinggian.

Alam di bawah tampak sunyi. Hampir di setiap beranda rumah, tampak orang duduk-duduk. Mereka memandang ke langit.

Bulan merasa senang, lalu katanya kepada bintang-bintang,"Lihat, teman-teman. Mereka mengagumiku."

"Mengagumimu? Belum tentu. Mungkin mereka mengagumi kami," kata sebuah bintang.

"Tapi dari bawah, aku kelihatan lebih besar dan indah!" sahut Bulan.

"Huh, sombong!" sungut sebuah bintang pada teman-temannya.


"Dia boleh saja sombong. Tapi, dia tak kan dapat mengalahkan Matahari," kata bintang yang lain.

"Apa?" sahut Bulan terkejut. "Ya, kau tak bisa mengalahkan Matahari. Karena Matahari lebih banyak penggemarnya".

Pagi hari, saat Matahari terbit, orang-orang ingin menyaksikannya.

Waktu Matahari naik, orang-orang berjemur untuk kesehatan.

Selain disukai, Matahari pun disegani. Walaupun ia bersinar terik, orang-orang tidak mengumpat.

Mereka hanya mencari tempat yang teduh. Matahari mempunyai jasa yang besar, mengeringkan jutaan pakaian yang dicuci orang.

"Terus terang, kami pun lebih menyukai Matahari karena ia hebat," kata sebuah bintang. "Tidak sombong lagi!" sahut bintang yang lain.

Bulan diam. Ia sangat kesal. Betulkah Matahari sehebat itu? Sepanjang malam ia tak bisa tenang. Ia terus berpikir bagaimana mengalahkan Matahari. Akhirnya Bulan mendapat akal.

Pagi datang. Matahari segera menghampiri bulan.

"Selamat pagi, Bulan. Sudah saatnya aku bekerja. Sekarang kau boleh beristirahat."

"Tidak!"

"Lo, kenapa?" tanya Matahari heran.

"Aku pun ingin bekerja pada siang hari," sahut Bulan.

"Bulan, siang hari akulah yang bertugas. Kau harus beristirahat supaya bisa tampil segara nanti malam," kata Matahari.

"Tidak! Sebenarnya aku ingin bertarung denganmu," kata Bulan.

"Bertarung? Bertarung bagaimana?" Matahari makin bingung.

"Bintang-bintang mengatakan kau lebih hebat dariku. Aku ingin lihat, apa benar kau lebih hebat?"

"Bagaimana caranya?" tanya Matahari.

"Aku akan tetap tinggal di sini bersamamu. Lalu kita lihat, siapa yang lebih disukai orang-orang," kata Bulan.

"Ha ha ha," Matahari tertawa geli. "Bulan, di pagi hari kau tak kan terlihat. Sinarku lebih kuat dari sinarmu. Jadi apa gunanya?"

Bulan tidak perduli. Ia ingin tetap tinggal bersama Matahari.

Tetapi, kemudian ia kecewa. Sepanjang hari ia di sana, tak seorang pun menyapanya. Mereka hanya menyapa Matahari. "Hu hu, tak seorang pun menyukaiku. Bintang-bintang benar, Matahari lebih hebat dariku," Bulan menangis sedih.

"Benar 'kan Matahari lebih hebat," kata bintang-bintang yang mengelilinginya.

"Sekarang beristirahatlah, Bulan. Malam segera tiba."

"Tidak, aku tidak mau! Tak seorang pun menyukaiku. Apa gunanya aku ada di sana?" sahut Bulan sedih.

"Bulan, dengarlah! Matahari itu tak sehebat yang kau kira. Tapi, kami senang pada Matahari. Karena ia tidak sombong. Kami pun senang padamu, asalkan kau tak sombong. Sebenarnya kau dan Matahari tak bisa dibandingkan. Masing-masing punya kelebihan. Sudahlah, jangan menangis lagi," hibur sebuah Bintang pada Bulan.

Bulan berhenti menangis. Benar apa yang dikatakan Bintang. Ia tak boleh sombong. "Bulan, coba lihat!" kata sebuah bintang. Di bawah, sekelompok anak melambai-lambaikan tangan.

"Ya, mereka menginginkan kau menerangi tempat itu. "Tapi uaaaah...." Bulan menguap.

"Bulan mengantuk karena sepanjang siang tidak tidur. Biarlah untuk malam ini ia istirahat," kata bintang-bintang.

Malam itu Bulan tidak bekerja. Ia tertidur dengan nyenyak. Biarlah malam itu langit tak dihiasi Bulan. Yang penting, Bulan telah menyadari kesalahannya. Ia tak lagi sombong dan tetap hadir setiap malam.

20 November 2010

Pelayan yang malas

Ada seorang yang sangat kaya, dia sangat rajin, setiap hari sebelum matahari terbit dia sudah bekerja diperkebunannya.

Dia mengupah beberapa pekerja untuk bekerja dirumahnya. Tentu saja terhadap pelayannya dia juga sangat disiplin, dia memberi peraturan kepada mereka setiap subuh begitu ayam berkokok mereka sudah harus bangun bekerja.

Pada permulaan, pelayan-pelayannya sangat rajin bekerja, lama kelamaan mereka menjadi malas : ”Woi, ayam jantan ini kenapa setiap pagi demikian tepat waktu berkokok ! Begitu hari mulai terang dia telah berkokok, hendak tidur agak lama sedikit juga tidak bisa, sungguh menyebalkan !“ Mereka terus mengomel, tetapi tidak berani melanggar peraturan majikannya.

Pada suatu hari, mereka mencoba mencari akal mengerjai ayam jantan yang tepat berkokok ini, tetapi mereka tidak mendapat ide yang bagus. Akhirnya, seorang diantara mereka mendapat sebuah ide : ”Kenapa tidak kita potong saja ayam ini ? Dengan begitu dia selamanya tidak akan bisa berkokok lagi, bagus kan ide saya ini?” dengan bangga dia menyampaikan ide ini kepada teman-temannya.

Teman-temannya setelah mendengar ide tersebut, mereka merasa ide ini tidak jelek, kenapa tidak dari dulu terpikir oleh mereka ide baik ini ? Akhirnya mereka segera akan melaksanakan ide tersebut, pada malam hari mereka menangkap ayam jantan tersebut, menyekap mulut dan membunuhnya dengan diam-diam.

Mereka semua sangat gembira ide mereka berjalan dengan mulus, akhirnya mereka tidak usah bangun pagi-pagi lagi. Dengan bersemangat mereka semua berkumpul mengobrol perbuatan mereka, sehingga sampai malam mereka tidak tidur.

Keesokan harinya, niat mereka sudah terkabul mereka dapat bangun agak siang karena ayam tidak berkokok lagi, mereka bekerja sambil bernyanyi-nyanyi, mereka merasa gembira karena sudah dapat mencuri waktu, selamanya mereka sudah dapat bangun agak siang.

Pada hari ketiga, hari belum terang, dengan tergesa-gesa majikan mereka masuk kedalam kamar para pelayan ini, dengan berteriak dia berkata : ”Bangun ! Semuanya bangun ! Sekarang sudah harus mulai bekerja !........”

Para pelayannya mengucek-gucek mata mereka yang ngantuk dengan terkejut, mereka kaget melihat majikan mereka didalam kamar dengan cepat mereka segera membenah diri sendiri mulai bekerja.

Rupanya majikan mereka sudah tahu bahwa ayam jantannya yang tepat waktu berkokok tersebut sudah hilang, sehingga begitu bangun tidur dia langsung menyerbu kekamar pelayan membangunkan mereka.

Pelayan yang mengeluarkan ide ini sangat menyesal, dengan menarik nafas panjang dia berkata : ”Ehm ! Sungguh sial, berharap tidak ada ayam yang tepat waktu berkokok dapat tidur agak lama sedikit, malahan sekarang setiap hari harus bangun lebih cepat dari dulu. Oh Tuhan ! kenapa aku menyampaikan ide yang demikian jelek !”

Akhirnya, semua pelayan ini harus bangun lebih cepat dan mulai bekerja lebih awal dari dahulu. Tetapi akhirnya mereka sadar bahwa lebih banyak pekerjaan yang mereka kerjakan mereka akan mendapat upah yang lebih banyak.

17 November 2010

Daun untuk si pemalas

Di pinggiran sebuah kota, tampak sebuah gubuk kecil yang kotor.

Disana hanya terdapat dua ruangan sempit. Tampak sang istri sedang menjahit di bawah tenda di depan rumah, sedangkan sang suami hanya duduk - duduk di atas tikar yang sobek.

“Suamiku, pergilah mencari pekerjaan, di rumah sudah hampir tidak ada uang!” pinta sang istri.

“Cari pekerjaan? Itu cara mencari uang yang sangat lama, saya sedang mencari jurus ampuh?” sahut sang suami.

Sang istri kembali berkata, “Kerja seberapa ya dapat seberapa, mana ada jurus ampuh segala? kamu selalu saja membaca buku dari aliran sesat yang tidak karuan itu.”

Tiba-tiba sang suami berteriak dengan gembira,”Eh . .lihat……lihat di buku ini menerangkan bahwa ada daun yang bisa membuat orang menghilang, aku segera pergi mencarinya.”

Sesampainya di hutan dia mulai mencari, “Ini tidak mirip, yang ini juga tidak mirip, ah . .itu dia di atas pohon, ya …yang ini dia dengan gambar di buku sama persis”.

Sang suami pun memanjat pohon tersebut, namun tiba-tiba ada angin kencang meniup daun yang ada di tangannya itu sehingga terbang.

“Celaka, jangan lari, jangan lari”, si suami mencoba meraih daun tersebut, akhirnya daun itu terjatuh ke bawah tercampur dengan daun-daun yang lain, sehingga dia jadi bingung, “Wah bagaimana ini? Ah! lebih baik semua saya bawa pulang saja, nanti di rumah baru di cari satu persatu”.

Maka dia pun membawa semua daun-daun tersebut hingga penuh satu keranjang.

Sesampainya di rumah, dicobanya daun itu satu persatu ditempelkan di wajahnya sambil bertanya pada istrinya, ”Hei, istriku, apakah aku kelihatan ?”

“Kelihatan”, jawab sang istri.

“Sekarang apa masih kelihatan?” tanya si suami lagi.

“Kelihatan”, jawab si istri lagi.

“Kalau begini apa masih kelihatan?” sambil mengganti dengan daun yang lain.

“Masih kelihatan”, sahut sang istri dengan sedikit jengkel.

Sekali lagi sang suami mengganti daun dan ditaruh di wajahnya, sambil bertanya lagi, “Kalau begini apa terlihat?”

Sang istri saking jengkelnya diberi pertanyaan yang sama berulang-ulang, maka menjawab seenaknya, ”Tidak kelihatan, tidak kelihatan.”

Sang suami berteriak dengan gembiranya, “Ha..ha..sungguh bagus, dengan daun ini kita akan segera jadi kaya.”

Maka pergilah sang suami ke pasar, sampai di depan penjual perhiasan, dia menaruh daun tersebut di depan mukanya dan berkata, ”Tidak terlihat, tidak terlihat”, sambil mengambil sebuah gelang emas.

Namun alangkah kagetnya, ketika sang penjual perhiasan berteriak sambil menyeret tangannya, “Hei pencuri! apa yang kamu lakukan, ayo kita ke kantor polisi.”

Massa pun berusaha memukulnya, si suami yang malas itu dengan wajah babak belur berteriak dengan bingung, “Ke… kkenn . . kenapa bisa jadi begini?”

14 November 2010

Nilai yang kita sandang

Pada suatu ketika, di sebuah taman kecil ada seorang kakek.

Di dekat kaket tersebut terdapat beberapa anak yang sedang asyik bermain pasir, membentuk lingkaran. Kakek itu lalu menghampiri mereka, dan berkata:

“Siapa diantara kalian yang mau uang Rp. 50.000!!”

Semua anak itu terhenti bermain dan serempak mengacungkan tangan sambil memasang muka manis penuh senyum dan harap.

Kakek lalu berkata, “Kakek akan memberikan uang ini, setelah kalian semua melihat ini dulu.”

Kakek tersebut lalu meremas-remas uang itu hingga lusuh. Di remasnya terus hingga beberapa saat.

Ia lalu kembali bertanya “Siapa yang masih mau dengan uang ini lusuh ini?” Anak-anak itu tetap bersemangat mengacungkan tangan.

“Tapi,, kalau kakek injak bagaimana? “. Lalu, kakek itu menjatuhkan uang itu ke pasir dan menginjaknya dengan sepatu. Di pijak dan di tekannya dengan keras uang itu hingga kotor. Beberapa saat, Ia lalu mengambil kembali uang itu. Dan kakek kembali bertanya: “Siapa yang masih mau uang ini?”

Tetap saja. Anak-anak itu mengacungkan jari mereka. Bahkan hingga mengundang perhatian setiap orang. Kini hampir semua yang ada di taman itu mengacungkan tangan. :)

___________________________

Cerita diatas sangatlah sederhana. Namun kita dapat belajar sesuatu yang sangat berharga dari cerita itu.

Apapun yang dilakukan oleh si Kakek, semua anak akan tetap menginginkan uang itu, Kenapa? karena tindakan kakek itu tak akan mengurangi nilai dari uang yang di hadiahkan. Uang itu tetap berharga Rp. 50.000

Seringkali, dalam hidup ini, kita merasa lusuh, kotor, tertekan, tidak berarti, terinjak, tak kuasa atas apa yang terjadi pada sekeliling kita, atas segala keputusan yang telah kita ambil, kita merasa rapuh.

Kita juga kerap mengeluh atas semua ujian yang di berikan-Nya. Kita seringkali merasa tak berguna, tak berharga di mata orang lain.

Kita merasa di sepelekan, di acuhkan dan tak dipedulikan oleh keluarga, teman, bahkan oleh lingkungan kita.

Namun jangan lupa:

Nilai dari diri kita, tidak timbul dari apa yang kita sandang, atau dari apa yang kita dapat.

Nilai diri kita, akan dinilai dari perangai kita. Tingkah laku kita. seberapapun kita diinjak oleh ketidak adilan, kita akan tetap diperebutkan, kalau kita tetap konsisten menjaga sikap kita.

12 November 2010

Kasih sayang orang tua

Konon pada jaman dahulu, di suatu tempat ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan.

Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya.

Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang.

Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan.

Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil. Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.

“Bu, kita! sudah sampai”,kata si anak. Ada perasaan sedih di hati si anak. Entah kenapa dia tega melakukannya.

Si ibu , dengan tatapan penuh kasih berkata:”Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus. Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang."

Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan”.

Demi mendengar kata-kata ibunya tadi, hancurlah hati si anak. Dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis. Dia membawa kembali ibunya pulang, dan merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia.

____________________


Cerita ini aku persembahkan untuk memperingati Hari Ulang Tahun Pernikahan Anakku tercinta :


Maria dan Kenji Sasai

Proficiat : 12 November 1999 - 12 November 2010



Semoga kalian menjadi orang tua yang baik seperti cerita di atas..
Yang mencintai anak dan keluarga lebih dari apapun..
Semoga Pernikahan kalian bisa langgeng, selalu bahagia sampai akhir hayat..

11 November 2010

Nuri

Ada seekor burung Nuri, meninggalkan rumah pergi melihat dunia yang lebih luas. Beberapa hari setelah terbang, dengan rasa lelah dan lapar iapun tiba di sebuah hutan, dan bermaksud untuk menetap sementara disitu.

Seekor Tupai yang melihat kedatangan Nuri itu, berloncatan gembira, lalu segera mengabarkan berita ini kepada seluruh binatang: “Hei, cepat lihat, ada tamu, ada tamu!”

Para binatang mengadakan upacara penyambutan selamat datang yang meriah pada Nuri, burung-burung menyanyikan lagu yang merdu, rusa-rusa menari riang, dan para monyet memetik buah buni yang segar dan lezat untuk Nuri.

Burung Nuri sangat terharu menghadapi semua penyambutan yang hangat ini.

Selanjutnya, selama beberapa bulan di hutan itu, semua margasatwa memperlakukan dengan sangat baik terhadap Nuri, semua makhluk disana sangat menyukainya.

Meskipun hidup dalam sukacita, tapi seiring dengan bergulirnya waktu, tak urung burung Nuripun menjadi rindu dengan kampung halamannya.

Lalu ia mohon pamit pada semua binatang dengan mengatakan: “Selama beberapa hari ini, saya sangat berterimakasih sekali atas perhatian kalian semua terhadap saya, namun saya harus segera pulang, jaga diri kalian baik-baik.”

Dengan perasaan berat, para binatang mengantar kepergian Nuri dalam perjalanan demi perjalanan, namun, meski dengan perasaan berat terpaksa mereka harus berpisah sampai disitu.

Beberapa hari kemudian, peristiwa yang malangpun terjadi. Hutan itu tiba-tiba terbakar, kobaran api itu begitu besar menyala-nyala, membuat segenap hutan merah membara hingga tampak di kejauhan ratusan mil.

Binatang-binatang dalam hutan tidak dapat menyelamatkan diri mereka, hingga banyak yang terluka maupun tewas, pemandangan demikian membuat kita tidak tega melihatnya.

Dari kejauhan burung Nuri melihat kobaran api di ujung sana, dalam benaknya ia berpikir suatu “musibah” telah terjadi, siang malam dan tanpa mengenal lelah ia bergegas ke hutan yang terbakar itu.

Ia terbang bolak balik ke sungai di sekitar hutan, dan membasahkan sayapnya ke air, kemudian menyemburkan air di sayapnya itu ke hutan.

Tidak tahu berapa kali sudah ia terbang bolak balik seperti itu, hingga membuatnya kelelahan, beberapa kali nyaris terpanggang oleh gelombang panas, sayap di badannya juga sudah terbakar, namun, kobaran api sedikit pun tidak melemah, malah semakin berkobar.

Sang Nuri sedikitpun tidak patah semangat, ia terus menyemburkan air.

Dewa langit melihat usaha sang Nuri lalu berkata : “Kau benar-benar tidak tahu diri, hanya dengan sedikit air yang disemburkan dari sayapmu itu sama sekali tidak bisa memadamkan kobaran api, untuk apa kamu berbuat demikian, salah-salah malah akan membahayakan nyawamu sendiri!”

Sang Nuri menjawab dengan mengatakan : “Saya tahu mungkin tidak dapat membantu, tapi saya pernah tinggal di sini, binatang-binatang di sana sangat baik terhadap saya.

Biar bagaimanapun, saya harus berusaha semampu saya, saya tidak bisa berpangku tangan melihat mereka semua mati terbakar hidup-hidup!”

Mendengar kata-kata sang Nuri, dewa sangat terharu, lalu segera memadamkan kobaran api hutan tersebut, akhirnya teman-teman Nuri terselamatkan.

______________________________

Tindakan Nuri ini sungguh layak kita tiru. Penuh perhatian, menekankan kesetiaan, tahu membalas budi, ketika sahabat menemui kesulitan, sudah semestinya kita berusaha menjulurkan tangan memberikan bantuan. Meskipun bantuan kita tidak seberapa tetapi ketulusan dan keiklasan adalah lebih penting dari besarnya bantuan itu sendiri.

08 November 2010

Sebutir biji lada

Ada seorang janda yang sangat berduka karena anak satu-satunya mati.

Sembari membawa jenasah anaknya, wanita ini menghadap Sang Guru untuk meminta mantra atau ramuan sakti yang bisa menghidupkan kembali anaknya.

Sang Guru mengamati bahwa wanita di hadapannya ini tengah tenggelam dalam kesedihan yang sangat mendalam, bahkan sesekali ia meratap histeris.

Alih-alih memberinya kata-kata penghiburan atau penjelasan yang dirasa masuk akal, Sang Guru berujar:

“Aku akan menghidupkan kembali anakmu, tapi aku membutuhkan sebutir biji lada.”

“Itu saja syaratnya?” tanya wanita itu dengan keheranan.

“Oh, ya, biji lada itu harus berasal dari rumah yang anggota penghuninya belum pernah ada yang mati.”

Dengan “semangat 45″, wanita itu langsung beranjak dari tempat itu, hatinya sangat antusias, “Guru ini memang sakti dan baik sekali, dia akan menghidupkan anakku!”

Dia mendatangi sebuah rumah, mengetuk pintunya, dan bertanya: “Tolonglah saya. Saya sangat membutuhkan satu butir biji lada. Maukah Anda memberikannya?” “Oh, boleh saja,” jawab tuan rumah. “Anda baik sekali Tuan, tapi maaf, apakah anggota rumah ini belum pernah ada yang mati?” “Oh, ada, paman kami meninggal tahun lalu.” Wanita itu segera berpamitan karena dia tahu bahwa ini bukan rumah yang tepat untuk meminta biji lada yang dibutuhkannya.

Ia mengetuk rumah-rumah berikutnya, semua penghuni rumah dengan senang hati bersedia memberikan biji lada untuknya, tetapi ternyata tak satu pun rumah yang terhindar dari peristiwa kematian sanak saudaranya. “Ayah kami barusan wafat…,” “Kakek kami sudah meninggal…,” “Ipar kami tewas dalam kecelakaan minggu lalu…,” dan sebagainya.

Ke mana pun dia pergi, dari gubuk sampai istana, tak satu tempat pun yang memenuhi syarat tidak pernah kehilangan anggotanya.

Dia malah terlibat dalam mendengarkan cerita duka orang lain.

Berangsur-angsur dia menyadari bahwa dia tidak sendirian dalam penderitaan ini; tak seorang pun yang terlepas dari penderitaan.

Pada penghujung hari, wanita ini kembali menghadap Sang Guru dalam keadaan batin yang sangat berbeda dengan sebelumnya.

Dia mengucap lirih, “Guru, saya akan menguburkan anak saya.” Sang Guru hanya mengangguk seraya tersenyum lembut.

Mungkin saja Sang Guru bisa mengerahkan kesaktian dan menghidupkan kembali anak yang telah mati itu, tetapi kalau pun bisa demikian, apa hikmahnya?

Bukankah anak tersebut suatu hari akan mati lagi juga? Alih-alih berbuat demikian Sang Guru membuat wanita yang tengah berduka itu mengalami pembelajaran langsung dan menyadari suatu kenyataan hidup yang tak terelakkan bagi siapa pun: siapa yang tak mati?

__________________

Penghiburan sementara belaka bukanlah solusi sejati terhadap peristiwa dukacita mendalam seperti dalam cerita di atas.

Penderitaan hanya benar-benar bisa diatasi dengan pengertian yang benar akan dua hal, yaitu kenyataan hidup sebagaimana adanya, bukan sebagaimana maunya kita, dan pada dasarnya penderitaan dan kebahagiaan adalah sesuatu yang bersumber dari dalam diri kita sendiri.

02 November 2010

Emas dan kuningan

Di sebuah negeri, hiduplah dua orang pengrajin yang tinggal bersebelahan.

Seorang diantaranya, adalah pengrajin emas, sedang yang lainnya pengrajin kuningan.

Keduanya telah lama menjalani pekerjaan ini, sebab, ini adalah pekerjaan yang diwariskan secara turun-temurun.

Telah banyak pula barang yang dihasilkan dari pekerjaan ini. Cincin, kalung, gelang, dan untaian rantai
penghias, adalah beberapa dari hasil kerajinan mereka.

Setiap akhir bulan, mereka membawa hasil pekerjaan ke kota.

Mereka akan berdagang barang-barang logam itu, sekaligus membeli barang-barang keperluan lain selama sebulan.

Beruntunglah, pekan depan, akan ada tetamu agung yang datang mengunjungi kota, dan bermaksud
memborong barang-barang yang ada disana.

Kabar ini tentu membuat mereka senang.

Tentu, berita ini akan membuat semua pedagang membuat lebih banyak barang yang akan dijajakan.

Siang-malam, terdengar suara logam yang ditempa. Setiap dentingnya, layaknya nafas hidup bagi mereka.

Tungku-tungku api, seakan tak pernah padam. Kayu bakar yang tampak membara, seakan menjadi penyulut semangat keduanya.

Percik-percik api yang timbul tak pernah di hiraukan mereka. Keduanya sibuk dengan pekerjaan
masing-masing.

Sudah puluhan cincin, kalung, dan untaian rantai penghias yang siap dijual. Dan lusa, adalah waktu yang tepat untuk berangkat ke kota.

Besoknya keduanya pun sampai di kota.

Hamparan terpal telah digelar, tanda barang dagangan siap dijajakan.

Keduanya pun berjejer berdampingan. Tampaklah, barang-barang logam yang telah dihasilkan.

Namun sayang ada kontras yang mencolok diantara keduanya.

Walaupun terbuat dari logam mulia, barang-barang yang dibuat oleh pengrajin emas tampak kusam.

Warnanya tak berkilau. Ulir-ulirnya kasar, dengan pokok-pokok simpul rantai yang tak rapi.

Seakan, sang pembuatnya adalah seorang yang tergesa-gesa.

“Ah, biar saja,” demikian ucapan yang terlontar saat pengrajin kuningan menanyakan kenapa perhiasaannya kawannya itu tampak kusam. “Setiap orang akan memilih daganganku, sebab, emas selalu lebih baik dari kuningan,” ujar pengrajin emas lagi, “Apalah artinya loyang buatanmu dibanding logam mulia yang kupunya, aku akan membawa uang lebih banyak darimu.”

Pengrajin kuningan, hanya tersenyum.

Ketekunannya mengasah logam, membuat semuanya tampak lebih bersinar.

Ulir-ulirnya halus. Lekuk-lekuk cincin dan gelang buatannya terlihat seperti lingkaran yang tak putus. Liku-liku rantai penghiasnya pun lebih sedap di pandang mata.

Ketekunan, memang sesuatu yang mahal. Hampir semua orang yang lewat, tak menaruh perhatian kepada pengrajin emas.

Mereka lebih suka mendatangi, dan melihat-melihat cincin dan kalung kuningan. Begitupun tetamu agung yang berkenan datang.

Mereka pun lebih menyukai benda-benda kuningan itu dibandingkan dengan logam mulia. Sebab, emas itu tidaklah cukup mereka tertarik, dan mau membelinya.

Sekali lagi, terpampang kekontrasan di hari pasar itu. Pengrajin emas yang tertegun diam, dan pengrajin kuningan yang tersenyum senang.

Hari telah sore, dan para tetamu telah kembali pulang. Kedua pengrajin itu pun telah selesai membereskan dagangan. Dan agaknya, keduanya mendapat pelajaran dari apa yang telah mereka lakukan hari itu.

___________________________

Ketekunan memang sesuatu yang mahal. Tak banyak orang yang bisa menjalani pekerjaan ini. Begitupun juga kemuliaan dan harga diri, tak banyak orang yang menyadari, bahwa kedua hal itu, kadang tak berasal dari apa yang kita sandang hari ini.

Setidaknya, tindak-laku kedua pengrajin itu, adalah potongan siluet kehidupan kita.

Ketekunan, adalah titian panjang yang licin berliku.

Seringkali, jalan panjang itu membuat kita terpelincir, dan jatuh. Seringkali pula, titian itu menjadi saringan penentu bagi setiap orang yang hendak menuju kebahagiaan di ujung simpulnya.

Namun, percayalah, ada balasan bagi setiap ketekunan. Di ujung sana, akan ada sesuatu yang menunggu setiap orang yang mau menekuni jalan itu.

Emas dan kuningan, bisa jadi punya nilai yang berbeda.

Namun, apakah kemuliaan dinilai hanya dari apa disandang keduanya? Apakah harga diri hanya ditunjukkan dari simbol-simbol yang tampak di luar? Sebab, kita sama-sama belajar dari pengrajin kuningan, bahwa loyang, kadang bernilai lebih dibanding logam mulia.

Dan juga bahwa kemuliaan, adalah buah dari ketekunan.

Bisa jadi saat ini kita pandai, kaya, punya kedudukan yang tinggi, dan hidup sempurna layaknya emas mulia. Namun, adakah semua itu berharga jika ulir-ulir hati kita kasar dan kusam? Adakah itu mulia jika, lekuk-lekuk kalbu kita koyak dan penuh dengan tonjolan-tonjolan kedengkian? Adakah itu semua punya harga, jika, pokok-pokok simpul jiwa yang kita punya, tak di penuhi dengan simpul-simpul ikhlas dan perangai yang luhur?

30 Oktober 2010

Pemberian Terbaik kepada Raja

Suatu ketika, hiduplah seorang petani bersama keluarganya.

Mereka menetap di sebuah kerajaan yang besar, dengan raja yang adil dan bijaksana.

Beruntunglah siapa saja yang tinggal disana. Tanahnya subur, keadaannya pun aman dan sentosa. Semuanya hidup berdampingan, tanpa pernah mengenal perang ataupun bencana.

Setiap pagi, sang petani selalu pergi ke sawah.

Tak lupa ia membawa bajak dan kerbau peliharaannya.

Walaupun sudah tua, namun bajak dan kerbau itu selalu setia menemaninya bekerja.

Sisi-sisi kayu dan garu bajak itu tampak mengelupas, begitupun kerbau yang sering tampak letih jika bekerja terlalu lama. "Inilah hartaku yang paling berharga", demikian gumam petani itu dalam hati, sembari melayangkan pandangannya ke arah bajak dan kerbaunya.

Tak seperti biasa, tiba-tiba ada serombongan pasukan yang datang menghampiri petani itu.

Tampak pemimpin pasukan yang maju, lalu berkata, "Berikan bajak dan kerbaumu kepada kami. "Ini perintah Raja!".

Suara itu terdengar begitu keras, mengagetkan petani itu yang tampak masih kebingungan.

Petani itu lalu menjawab, "Untuk apa, sang Raja menginginkan bajak dan kerbauku? "Ini adalah hartaku yang paling berharga, bagaimana aku bisa bekerja tanpa itu semua”.

Petani itu tampak menghiba, memohon agar diberikan kesempatan untuk tetap bekerja. "Tolonglah, kasihani anak dan istriku…berilah kesempatan sampai besok. Aku akan membicarakan dengan keluargaku…"

Namun, pemimpin pasukan berkata lagi, "Kami hanya menjalankan perintah dari Baginda. Terserah, apakah kau mau menjalankannya atau tidak. Namun, ingatlah, kekuasaannya sangat kuat. Petani semacam kau tak akan mampu melawan perintahnya." Akhirnya, pasukan itu berbalik arah, dan kembali ke arah istana.

Di malam hari, petani pun menceritakan kejadian itu dengan keluarganya.

Mereka tampak bingung dengan keadaan ini.

Hati bertanya-tanya, "Apakah baginda sudah mulai kehilangan kebijaksanaannya? Kenapa baginda tampak tak melindungi rakyatnya dengan mengambil bajak dan kerbau kita? Gundah, dan resah melingkupi keluarga itu.

Namun, akhirnya, mereka hanya bisa pasrah dan memilih untuk menyerahkan kedua benda itu kepada raja.

Keesokan pagi, sang petani tampak pasrah.

Bersama dengan bajak dan kerbaunya, ia melangkah menuju arah istana.

Petani itu ingin memberikan langsung hartanya yang paling berharga itu kepada Raja.

Tibalah ia di halaman Istana, dan langsung di terima Raja. "Baginda, hamba hanya bisa pasrah. Walaupun hamba merasa sayang dengan harta itu, namun hamba ingin membaktikan diri kepada Baginda. Duli Paduka, terimalah pemberian ini…."

Baginda Raja tersenyum.

Sambil menepuk kedua tangannya, ia tampak memanggil pengawal. "Pengawal, buka selubung itu!!

Tiba-tiba, terkuaklah selubung di dekat taman. Ternyata, disana ada sebuah bajak yang baru dan kerbau yang gemuk. Kayu-kayu bajak itu tampak kokoh, dengan urat-urat kayu yang mengkilap. Begitupun kerbau, hewan itu begitu gemuk, dengan kedua kaki yang tegap.

Sang Petani tampak kebingungan.

Baginda mulai berbicara, "Sesungguhnya, aku telah mengenal dirimu sejak lama. Dan aku tahu kau adalah petani yang rajin dan baik. Namun, aku ingin mengujimu dengan hal ini. Ternyata, kau memang benar-benar hamba yang baik. Engkau rela memberikan hartamu yang paling berharga untukku. Maka, terimalah hadiah dariku. Engkau layak menerimanya…."

Petani itu pun bersyukur dan ia pun kembali pulang dengan hadiah yang sangat besar, buah kebaikan dan baktinya pada sang Raja.

______________

Tidak banyak orang yang bisa berlaku seperti petani tadi.

Hanya sedikit orang yang mau memberikan harta yang terbaik yang dimilikinya kepada yang lain.

Namun, petani tersebut adalah satu dari orang-orang yang sedikit itu. Dan ia, memberikan sedikit pelajaran buat kita.

Sesungguhnya, Tuhan sering meminta kita memberikan terbaik yang kita punya untuk-Nya.

Tuhan, sering memerintahkan kita untuk mau menyampaikan yang paling berharga, hanya ditujukan pada-Nya.

Bukan karena Tuhan butuh semua itu, dan juga bukan karena Tuhan kekurangan. Namun karena sesungguhnya Tuhan Maha Kaya, dan Tuhan sedang menguji setiap hamba-Nya.

Tuhan sedang menguji, apakah hamba-Nya adalah bagian dari orang-orang yang beriman dan mau bersyukur.

Tuhan sedang menguji, apakah ada dari hamba-hamba-Nya yang mau menafkahkan harta di jalan-Nya.

Dan Tuhan, pasti akan memberikan balasan atas upaya itu dengan pemberian yang tak akan kita bayangkan.

Imbalan dan pahala yang akan kita terima, sesungguhya akan mampu membuat kita paham, bahwa Tuhan memang Maha Pemberi Kemuliaan.

Mari kita berikan yang terbaik yang kita punya kepada-Nya. Marilah kita tujukan waktu, kerja dan usaha kita yang terbaik hanya kepada-Nya. Karena sesungguhnya memang, kita tak akan pernah menyadari balasan apa yang akan kita terima atas semua itu.

Tuhan selalu punya banyak cara-cara rahasia untuk memberikan kemuliaan bagi hamba-Nya. Dan Dia akan selalu memberikan pengganti yang lebih baik untuk semua yang ikhlas kita berikan pada-Nya

27 Oktober 2010

Balas Budi

Ada seorang pemuda yang tinggal bersama bapaknya. Mata pencaharian mereka adalah bertani. Mereka mempunyai sepetak sawah kecil.

Walaupun mereka berdua miskin tetapi mereka berdua hidup dalam keadaan damai dan bahagia.

Bapaknya adalah seorang yang baik hati dan anaknya adalah seorang anak yang patuh.

Waktu berlalu tahun demi tahun. Bapaknya makin hari semakin tua, semakin tidak bertenaga lagi.

Walau sawah mereka kecil, tetapi jika hanya mengharapkan tenaga pemuda ini saja untuk menanam padi akan sangat susah.

Pada suatu hari Bapaknya mengeluarkan uang tabungannya selama bertahun-tahun hidup menghemat.

Ia menyuruh pemuda ini pergi membeli seekor kerbau untuk membantunya membajak sawah.

Saat dalam perjalan, karena kecapekan dia beristirahat di atas sebuah batu besar. Di kejauhan kedengaran suara anak kecil yang sedang bermain. Karena heran dia mendekati mereka.

Dia melihat beberapa orang anak dengan bambu memukul sebuah batu, tetapi batu itu kelihatan bisa bergerak, dilihat dengan jelas rupanya itu adalah 5 ekor kura-kura. Seekor lebih besar dan yang 4 ekor lebih kecil.

Kelompok anak kecil ini membalikkan kura-kura itu seperti gasing memutar mereka, dengan bambu memukul mereka dan memaksa mereka mengeluarkan kepalanya.

Pemuda ini tidak tega melihat kejadian ini, dan berkata kepada kelompok anak kecil ini.

”Kenapa kalian mempermainkan kura-kura ini? dia juga mahluk hidup yang mempunyai perasaan sakit dan takut,” katanya.

Kelompok anak kecil itu tidak menghiraukannya.

”Kami dengan susah payah menangkap seekor ibu kura-kura dan 4 ekor anaknya, bukan urusanmu bagaimana kami akan memperlakukan kura-kura ini!” Jawab mereka.

Sekelompok anak kecil ini makin dinasehati makin mempergunakan cara yang makin keji menyiksa kura-kura itu.

”Anak-anak melihat orang tua mereka dihina orang akan merasa sakit hati, orang tua yang melihat anak-anaknya disiksa orang lain juga akan sakit hati! Kalian tolong lepaskan keluarga kura-kura ini,” kata pemuda itu.

Sekelompok anak kecil ini tidak peduli, malah mereka mengambil tali dan mengikat ke 5 ekor kura ini menjadi satu dan melempar mereka kesana kemari.

Pemuda ini bertanya kepada kelompok anak kecil ini dengan cara apa mereka mau melepaskan kura-kura ini.

Mereka menjawab mereka akan menjual kura-kura ini, pemuda ini bertanya dengan berapa harga mereka akan menjualnya.

Mereka asal menjawab sebuah harga yang tinggi, pemuda ini memegang-megang uang dikantungnya berpikir jika membayar uang ini kepada kelompok anak ini maka dia tidak bisa membeli kerbau lagi, tetapi melihat mereka menyiksa kura-kura ini sungguh tidak tega, akhirnya dia menyerahkan semua uangnya kepada kelompok anak-anak ini.

Setelah melihat kelompok anak-anak ini pergi, dia berlutut dengan hati-hati melepaskan tali yang mengikat kura-kura ini, lalu seekor demi seekor dia melepaskan kura-kura ini ke sungai.

Mereka menengadahkan kepalanya memandang pemuda ini, mengeluarkan pancaran mata yang sangat berterima kasih.

”Cepat pergilah, jika tidak nanti kelompok anak kecil ini kembali lagi, kalian akan berada dalam keadaan bahaya, cepat berenang menjauh dari sini supaya saya dapat meninggalkan kalian dengan tenang!” Kata pemuda itu.

Keluarga kura-kura ini seakan mengerti apa yang dikatakannya berenang menjauh dengan cepat, tetapi ketika mereka sampai di pertengahan sungai mereka masih membalikkan kepalanya melihat pemuda ini.

Pemuda ini setelah pulang kerumah, menceritakan kejadian ini kepada bapaknya, bapaknya sangat gembira mendengar ceritanya.

”Perbuatanmu sungguh terpuji, dengan uang itu dapat menyelamatkan 5 nyawa, lebih berharga daripada membeli seekor kerbau! Kita berdua masih sehat, rajin sedikit bekerja pasti akan bisa mengumpulkan uang lagi membeli kerbau,” kata bapaknya.

Selang beberapa hari kemudian, pada suatu tengah malam, Bapaknya mendengar suara ketukan pintu .
“tok..tok.tok.”

Bapak lalu membuka pintu. Di depan pintu nampak seekor kerbau yang berdiri, di lehernya tergantung secarik kertas yang tertulis.

”Keluarga kura-kura dipinggir sungai mengumpulkan uang dan membeli seekor kerbau sebagai hadiah balas jasa kepada tuan penolong kam," bunyi kertas tersebut.

Walaupun ini adalah sebuah legenda, tetapi disini kelihatan jelas ada dua cara memperlakukan mahluk hidup.

Satu meremehkan mahluk hidup, menyiksa dan menyakitinya, sedang yang lain menyayangi semua mahluk hidup.

Walaupun wujud dan bentuk mereka sangat berlainan dengan kita, tetapi kita harus tetap menghormati, melindungi hak-haknya supaya dapat hidup dengan tenang.

Berbelas kasih kepada semua mahluk adalah sebuah kehangatan hati, sebuah pemandangan yang indah! Saya harap dalam kehidupan ini kita lebih banyak membuka hati kita melihat betapa indahnya alam semesta ini.

Betapa indahnya hidup ini, dengan segenap hati menjaga kelestarian alam semesta supaya dunia ini lebih dapat bersinar lebih cerah lagi.

23 Oktober 2010

Impian Sejati

Suatu hari, ada seorang muda yang bertemu dengan seorang tua yang bijaksana.

Si anak muda bertanya, “Pak, sebagai seorang yang sudah kenyang dengan pengalaman tentunya anda bisa menjawab semua pertanyaan saya”.

“Apa yang ingin kau ketahui anak muda ?” tanya si orang tua.

“Saya ingin tahu, apa sebenarnya yang dinamakan impian sejati di dunia ini”. Jawab si anak muda.

Orang tua itu tidak menjawab pertanyaan si anak, tapi mengajaknya berjalan-jalan di tepi pantai.

Sampai di suatu sisi, kemudian mereka berjalan menuju ke tengah laut.

Setelah sampai agak ke tengah di tempat yang lumayan dalam, orang tua itu dengan tiba-tiba mendorong kepada si anak muda ke dalam air.

Anak muda itu meronta-2, tapi orang tua itu tidak melepaskan pegangannya.

Sampai kemudian anak muda itu dengan sekuat tenaga mendorong keatas, dan bisa lepas dari cekalan orang tua tersebut.

“Hai, apa yang barusan bapak lakukan, bapak bisa membunuh saya” tegur si anak muda kepada orang bijak tersebut.

Orang tua tersebut tidak menjawab pertanyaan si anak, malah balik bertanya ,”Apa yang paling kau inginkan saat kamu berada di dalam air tadi ?”.

“Udara, yang paling saya inginkan adalah udara”. Jawab si anak muda.

“Hmmm, bagaimana kalo saya tawarkan hal yang lain sebagai pengganti udara, misalnya emas, permata, kekayaaan, atau umur panjang ?” tanya si orang tua itu lagi.

“Tidak ….. tidak …… tidak ada yang bisa menggantikan udara. Walaupun seisi dunia ini diberikan kepada saya, tidak ada yang bisa menggantikan udara ketika saya berada di dalam air” jelas si anak muda.

“Nah, kamu sudah menjawab pertanyaanmu sendiri kalau begitu. KALAU KAMU MENGINGINKAN SESUATU SEBESAR KEINGINANMU AKAN UDARA KETIKA KAMU BERADA DI DALAM AIR, ITULAH IMPIAN SEJATI” kata si orang tua dengan bijak.

20 Oktober 2010

Tiger and wolf

Di sebuah hutan, tinggallah seekor serigala pincang.

Hewan itu hidup bersama seekor harimau yang besar berbadan coklat keemasan.

Luka yang di derita serigala, terjadi ketika ia berusaha menolong harimau yang di kejar pemburu.

Sang serigala berusaha menyelamatkan kawannya. Namun sayang, sebuah panah yang telah di bidik malah mengenai kaki belakangnya.

Kini, hewan bermata liar itu tak bisa berburu lagi bersama harimau, dan tinggal di sebuah gua, jauh dari perkampungan penduduk.

Sang harimau pun tahu bagaimana membalas budi.

Setiap selesai berburu, di mulutnya selalu tersisa sepotong daging untuk dibawa pulang.

Walaupun sedikit, sang serigala selalu mendapat bagian daging hewan buruan.

Sang harimau paham, bahwa tanpa bantuan sang kawan, ia pasti sudah mati terpanah si pemburu.

Sebagai balasannya, sang serigala selalu berusaha menjaga keluarga sang harimau dari gangguan hewan-hewan lainnya.

Lolongan serigala selalu tampak mengerikan bagi siapapun yang mendengar. Walaupun sebenarnya ia tak bisa berjalan dan hanya duduk teronggok di pojok gua.

Rupanya, peristiwa itu telah sampai pula ke telinga seorang pertapa.

Sang pertapa, tergerak hatinya untuk datang, bersama beberapa orang muridnya.

Ia ingin memberikan pelajaran tentang berbagi dan persahabatan, kepada anak didiknya.

Ia juga ingin menguji keberanian mereka, sebelum mereka dapat lulus dari semua pelajaran yang diberikan olehnya.

Pada awalnya banyak yang takut, namun setelah di tantang, mereka semua mau untuk ikut.

Di pagi hari, berangkatlah mereka semua.

Semuanya tampak beriringan, dipandu sang pertapa yang berjalan di depan rombongan.

Setelah seharian berjalan, sampailah mereka di mulut gua, tempat sang harimau dan serigala itu menetap.

Kebetulan, sang harimau baru saja pulang dari berburu, dan sedang memberikan sebongkah daging kepada serigala.

Melihat kejadian itu, sang pertapa bertanya bertanya kepada murid-muridnya, “Pelajaran apa yang dapat kalian lihat dari sana..?”.

Seorang murid tampak angkat bicara, “Guru, aku melihat kekuasaan dan kebaikan Tuhan. Tuhan pasti akan memenuhi kebutuhan setiap hamba-Nya. Karena itu, lebih baik aku berdiam saja, karena toh Tuhan akan selalu memberikan rezekinya kepada ku lewat berbagai cara.”

Sang pertapa tampak tersenyum.

Sang murid melanjutkan ucapannya, “Lihatlah serigala itu. Tanpa bersusah payah, dia bisa tetap hidup, dan mendapat makanan.”

Selesai bicara, murid itu kini memandang sang guru. Ia menanti jawaban darinya. “Ya, kamu tidak salah. Kamu memang memperhatikan, tapi sesungguhnya kamu buta. Walaupun mata lahirmu bisa melihat, tapi mata batinmu lumpuh. Berhentilah berharap menjadi serigala, dan mulailah berlaku seperti harimau.”

________________________________________

Adalah benar bahwa Tuhan ciptakan ikan kepada umat manusia. Adalah benar pula, Tuhan menghamparkan gandum di tanah-tanah petani. Tapi apakah Tuhan ciptakan ikan-ikan itu dalam kaleng-kaleng sardin? Atau, adakah Dia berikan kepada kita gandum-gandum itu hadir dalam bentuk seplastik roti manis? Saya percaya, ikan-ikan itu dihadirkan kepada kita lewat peluh dan kerja keras dari nelayan.

Saya juga pun percaya, bahwa gandum-gandum terhidang di meja makan kita, lewat usaha dari para petani, dan kepandaian mereka mengolah alat panggang roti.

Begitulah, acapkali memang dalam kehidupan kita, ada fragmen tentang serigala yang lumpuh dan harimau yang ingin membalas budi.

Memang tak salah jika disana kita akan dapat menyaksikan kebesaran dan kasih sayang dari Tuhan.

Dari sana pula kita akan mendapatkan pelajaran tentang persahabatan dan kerjasama.

Namun, ada satu hal kecil yang patut diingat disana, bahwa: berbagi, menolong, membantu sudah selayaknya menjadi prioritas dalam kehidupan kita.

Bukan karena hal itu adalah suatu keterpaksaan, bukan pula karena di dorong rasa kasihan dan ingin membalas budi.

Berbagi dan menolong, memang sepatutnya mengalir dalam darah kita.

Disana akan ditemukan nilai-nilai dan percikan cahaya Tuhan. Sebab disana, akan terpantul bahwa kebesaran Tuhan hadir dalam tindak dan perilaku yang kita lakukan.

Di dalam berbagi akan bersemayan keluhuran budi, keindahan hati dan keagungan kalbu. Teman, jika kita bisa memilih, berhentilah berharap menjadi serigala lumpuh, dan mulailah meniru teladan harimau.

17 Oktober 2010

Petani dan Bangau

Seekor bangau mempunyai sifat yang sangat sederhana dan dikenal baik.

Pada suatu hari dia diundang oleh kelompok burung lain ke sebuah pesta makan-makan di ladang petani yang baru ditanami.

Namun pesta itu harus berakhir dengan terperangkapnya semua burung-burung di jaring petani.

Menyadari nantinya akan membuat keluarganya bersedih hati dan kesusahan, Si bangau memohon kepada sang petani untuk melepaskannya.

“Tolong. Biarkan saya pergi, Saya berasal dari keluarga baik-baik, dari keluarga bangau yang anda sendiri tahu adalah jujur dan sederhana. Disamping itu, saya tidak tahu kalau burung yang mengundang saya itu bermaksud mencuri disini” kata Si bangau memohon.

”Anda mungkin seekor burung yang sangat baik.” jawab sang petani, “Tetapi saya telah menangkap anda di jaring yang saya siapkan untuk menangkap pencuri dan Anda harus menerima hukuman yang sama dengan mereka.”
________________________________

Kita harus bertanggung jawab akan setiap jengkal perbuatan kita, jadi jangan ikut-ikutan ajakan berbuat buruk dari lingkungan sekitar, walaupun hanya sekali.

13 Oktober 2010

Empat Jenis Kuda

Di dunia ini ada 4 jenis kuda, kuda yang pertama adalah kuda yang penurut, pemiliknya memasang pelana dan penutup mata.

Sehari dia dapat berjalan ribuan kilometer, kecepatannya bagaikan meteor.

Ketika pemiliknya mengangkat pecutnya (cambuk), melihat bayangan pecut dia sudah tahu kemauan pemiliknya.

Kuda itu bergerak maju atau mundur, cepat atau lambat, segera memahami kemauan pemiliknya sehingga dengan cepat bisa mencapai tujuan. Dia adalah kuda penurut yang paling baik.

Jenis kuda yang kedua, ketika pemiliknya mengangkat pecutnya, dia melihat bayangan pecut, tetapi tidak segera bergerak.

Ketika pecut tersebut memecut ke ekornya, dia baru tahu kemauan pemiliknya, lari dengan cepat, dapat dikatakan responnya cepat, merupakan seekor kuda kuat yang cukup baik.

Jenis kuda yang ketiga, tidak peduli pemiliknya berkali-kali melecutkan pecutnya, ketika melihat bayangan pecut, tidak mempunyai respon.

Ketika perut bagaikan tetesan hujan memercut ke ekornya, dia masih tidak bergerak, responnya sangat lamban.

Ketika pecutnya menghantam badannya dia baru sadar, bergerak sesuai dengan kemauan pemiliknya. Dia adalah seekor kuda dengan respon yang lamban.

Jenis kuda yang keempat, ketika pemiliknya membunyikan pecut, dia tidak peduli.

Ketika pecut berkali-kali memercut ke badannya, dia masih tidak peduli.

Ketika majikannya menjadi sangat marah dan menyepak kakinya. Akhirnya, Kuda itu merasa kesakitan hingga menusuk tulang, sekujur tubuhnya berdarah, dia baru tersadar dari mimpinya, berlari dengan membabi buta.

Dia adalah seekor kuda yang susah diatur, respon lamban, bandel dan kuda yang sangat pemarah.



Ke empat jenis kuda ini bagaikan manusia yang mempunyai bakat dasar yang berbeda.

Manusia yang pertama ketika mendengar perubahan didunia ini, kehidupan yang akan dimusnahkan oleh petaka, dengan cepat sadar, dengan giat berusaha berbuat lebih baik yang dapat merubah nasibnya.

Seperti jenis kuda yang pertama, melihat bayangan pecut sudah dapat melesat kedepan dengan cepat, tidak menunggu pecutan maut merengut nyawanya baru menyesal kemudian.”

“Jenis manusia yang kedua, melihat kehidupan di dunia ini yang beraneka ragam, nasib baik dan nasib malang yang menimpa, kelahiran dan kematian, dengan cepat dapat memecut diri sendiri dengan cepat berbuat lebih baik lagi.

Seperti jenis kuda yang kedua, percut baru mengenai ke ekornya segera sadar dan melesat lari dengan cepat mencapai tujuan.”

“Jenis manusia yang ketiga, melihat sanak keluarga dan kerabat sebelum meninggal terjangkit penyakit menanggung penderita tubuh yang membusuk dan kesakitan sampai meninggal, baru sadar dan mulai menghargai kehidupan dan berbuat lebih baik.

Seperti jenis kuda yang ketiga ketika merasakan percutkan yang sangat menyakitkan segenap tubuh baru tersadar, responnya sangat lamban.”

“Sedangkan jenis manusia keempat, jika diri sendiri yang terkena penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan maut sedang menanti, pada saat ini baru menyesal.

Kenapa dahulu tidak berusaha berbuat lebih baik, menyia-yiakan kehidupan di dunia ini. Seperti jenis kuda yang keempat, ketika kesakitan bagaikan menusuk ke tulang, baru berlari dengan cepat. Tetapi semua itu sudah terlambat.”

10 Oktober 2010

Genggaman tangan

“Engkau seharusnya menyisakan sedikit waktu untuk kolegamu, membantunya menyelesaikan sedikit masalah, walaupun masalah itu adalah masalah sepele. Membantunya menyelesaikan hal yang menurut Anda adalah masalah sepele yang tidak berharga tetapi baginya mempunyai arti yang sangat besar.”

Abraham Lincoln.

______________________________________________

Ketika perang meletus di Amerika, Abraham Lincoln sering pergi ke rumah sakit membesuk para prajurit yang terluka. Pada suatu hari, dokter memperkenalkannya dengan seorang prajurit muda yang sekarat. Abraham Lincoln berjalan ke tempat tidurnya.

“Apa yang bisa saya bantu?” Presiden bertanya kepadanya.

Prajurit yang terluka ini tidak mengenali presiden, dengan susah payah dia menjawab dengan suara lirih, ”Dapatkah engkau membantu saya menulis sehelai surat untuk ibuku?”

Setelah tersedia pena dan kertas, presiden dengan serius menulis apa yang dipesankan pemuda ini.

“Kepada mama yang tercinta, ketika saya menjalankan tugas saya, saya terluka parah, saya takut saya tidak akan berada di sisi mama lagi. Mama jangan sedih, tolong bantu saya mencium Mary dan Johan. Tuhan memberkati mama dan papa.”

Keadaan prajurit ini sudah sangat lemah tidak dapat melanjutkan perkataannya lagi, oleh sebab itu Abraham Lincoln membantunya menanda tangani surat itu, dan menambah satu patah kata, ”Abraham Lincoln mewakili anakmu menulis surat ini.”

Prajurit muda ini memohon melihat surat ini sekali lagi. Ketika dia mengetahui siapa yang mewakili dia menulis surat ini dia sangat terkejut,

“Apakah benar engkau Bapak presiden?” Tanya pemuda ini untuk menyakinkan.

“Benar, saya adalah presiden,” Jawab Abraham Lincoln dengan tenang, kemudian dia bertanya lagi kepada pemuda itu apa lagi yang bisa dilakukan untuknya?

“Bisakah engkau menggenggam tangan saya?” Prajurit ini memohon “Hal ini akan membantu saya menjalani sisa hidup saya didunia ini.”

Di kamar rumah sakit yang sunyi ini, presiden yang tinggi besar ini menggenggam tangan prajurit muda ini, berkata dengan lembut dan penuh perhatian serta mendorong semangat, sampai maut menjemput pemuda malang ini.

07 Oktober 2010

Obat Dewa

Dahulu kala ada seorang anak yang hidup bersama ibunya. Ayahnya barus saja meninggal. Suatu saat ibunya sakit keras. Dia mencari seorang tabib dan meminta datang ke rumahnya untuk memeriksa penyakit ibunya.

Sang tabib tidak dapat mendiagnosa penyakit ibunya, lalu dengan sembarangan tabib itu mengatakan kepadanya.
”Menurut saya hanya obat dewa yang bisa menyembuhkan penyakit ibumu,” ujar tabib.

Anak ini setelah mendengar perkataan tabib dengan serius menanggapi, lalu dia pergi ke kota bertanya ke setiap toko yang ada di kota itu.
”Apakah ada jual obat dewa?” Katanya kepada penjual di toko.

Ada pemilik toko yang menjawab tidak ada, ada juga pemilik toko yang menganggapnya hanya iseng ingin membuat onar dan mengusirnya keluar dari toko.

Hari pertama dengan putus asa dia pulang ke rumah.

Hari kedua dia pergi ke setiap jalan dan memasuki setiap toko bertanya.
Setelah hari gelap dengan sedih menundukkan kepala pulang dengan tangan kosong.

Hari ketiga melihat tubuh ibunya makin hari makin lemah, dia lalu bertekad pergi ke kota yang lebih jauh untuk mencari obat Dewa itu. Dia memasuki setiap toko. Akhirnya dia tiba di sebuah penginapan.

Pada saat itu ada seorang tamu di penginapan tersebut sedang makan siang dan mendengar pertanyaannya. Tamu ini dengan penuh perhatiaan lalu bertanya kepadanya di mana rumahnya dan kenapa harus beli obat dewa?

Anak tersebut lalu menceritakan keadaan ibunya kepada tamu itu. Tamu itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kotak . Di dalam kotak terdapat berbagai macam obat. Tamu itu mengambil salah satu tablet dan berkata kepadanya.
”Ini adalah obat dewa, engkau bawa pulang untuk menyembuhkan penyakit ibumu!” Lalu dia mengambil satu-satunya uang 1 sen yang dimiliki untuk membayar obat ini.

Anak itu sangat gembira lalu dia pulang ke rumahnya. Sampai di rumah dengan gembira dia berteriak.
”Mama, saya telah membeli obat dewa, setelah mama makan mama akan segera sembuh,” teriaknya.

Keesokan harinya datang seorang tabib yang datang ke rumahnya memeriksa ibunya, mengobatinya dengan akupuntur dan memasak semangkok obat untuknya, lalu dia merasakan badannya menjadi lebih sehat, segera dapat turun dari tempat tidur.

Kedua orang ibu dan anak ini merasa sangat berterima kasih kepada tabib.

Mereka berlutut mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan nyawanya.

Tabib berkata mereka tidak usah berterima kasih kepadanya, harus berterima kasih kepada orang yang memberikan mereka obat dewa itu.

Rupanya orang yang memberi mereka obat dewa ini adalah seorang pejabat tinggi di Kerajaan.

Dia terharu melihat seorang anak yang demikian berbakti kepada ibunya, lalu memerintahkan seorang dari tabib istana datang mengobati penyakit ibunya.

Tabib ini lalu mengeluarkan sepucuk surat yang ditulis oleh pejabat tinggi ini dan memberikan kepada ibunya.

Di dalam surat itu tertulis.

”Sungguh beruntung engkau memiliki seorang anak yang demikian berbakti, untuk menyelamatkan engkau, dia pergi keseluruh penjuru mencari obat dewa untuk mengobati penyakitmu. Tetapi engkau harus selalu ingat, yang benar-benar dapat menyelamatkan nyawa manusia sebenarnya bukan obat dewa, tetapi cinta kasih antara sesama manusia.”

04 Oktober 2010

Penjaga Harta

Pada zaman dahulu kala, seorang Biksu berjalan melewati rumah orang kaya.

Orang kaya ini kebetulan tidak berada di rumah.

Rumah orang kaya ini sangat mewah, perabot furniture di dalam rumah sungguh nyaman. Di dalam ruang tamu ada sebuah kursi malas yang mewah.

Orang kaya ini memelihara seekor anjing. Anjing ini menjadi kesayangan majikannya. Biasanya kursi malas yang ada diruang tamu ini tidak boleh diduduki orang lain.

Hanya anjing itu yang selalu tidur di kursi malas yang empuk dan hangat itu. Anjing itu bahkan sangat jarang dan hampir tidak pernah meninggalkan kursi malasnya.

Bahkan, ketika si anjing makan sehari tiga kali pun, dia tetap duduk di atas kursi ini. Makanan anjing ini dihidangkan dengan peralatan makan yang sangat mewah.

Ketika Biksu memasuki rumah itu, bertepatan saat anjing ini sedang makan.

Ketika anjing ini melihat Biksu, dia melompat turun dari kursinya, menyalak dengan galak, sehingga Biksu tidak bisa mendekatinya.

Biksu kemudian berkata kepada anjing ini, ”Sifat tamakmu terhadap harta masih belum berubah, pada kehidupan yang lalu begitu, pada kehidupan sekarang masih tetap tidak bisa berubah.”

Setelah berkata demikian sang Biksu membalikkan badan meninggalkan tempat itu.

Anjing ini setelah mendengar perkataan sang Biksu, dengan sedih menelungkupkan badannya di lantai.

Tidak berapa lama kemudian, majikannya pulang. Anjing ini tidak seperti biasanya dengan gembira menyambut majikannya, tetap menelungkupkan badannya di lantai.

Majikannya memanggilnya, dia tetap tidak berdiri dan mendekati majikannya, kelihatannya dia sangat sedih.

Akhirnya majikannya menanyakan kepada pembantunya, siapa yang menyakiti anjingnya sehingga anjingnya kelihatan sangat sedih?

Pembantunya kemudian bercerita bahwa tadi sang Biksu lewat.

Anjingnya turun dari kursi malas menyalak dengan galak. Tetapi setelah Biksu berkata beberapa kata, anjing ini berubah menjadi sedih, makanannya juga tidak disentuh.

Orang kaya ini sangat menyayangi anjingnya, setelah mendengar cerita bergegas pergi mencari Biksu dan bertanya kepadaNya, ”Engkau demikian berbelas kasih, kenapa ketika melewati rumah saya, memarahi anjing saya, hingga dia menjadi sangat sedih?” tanyanya.

Sang Biksu menjawab dengan bijaksana.

”Engkau sangat menyayangi anjingmu, karena anjingmu pada kehidupan yang lalu adalah ayah kandungmu. Kehidupan dahulu dia juga sangat suka kepadamu, hal ini adalah wajar,” katanya.

Orang kaya ini setelah mendengar perkataan Biksu, di hatinya timbul kecurigaan lalu dia bertanya kepada Biksu lagi, ”Bagaimana saya bisa membuktikan bahwa dia pada kehidupan yang lalu adalah benar-benar ayah saya?”

Biksu mengatakan kembali kepada orang kaya tersebut.
”Dia mempunyai kebiasaan, mempunyai keterikatan yang sangat besar kepada harta, ketika engkau kecil, karena takut kehilangan hartanya, dia menyembunyikan uang dan harta karunnya. Karena keterikatan yang parah terhadap harta karunnya, sehingga ketika dia meninggal masih khawatir kepada uang dan harta karun yang disimpan sehingga dia reinkarnasi menjadi anjing dirumahmu. Sejak lahir dia sudah sangat menyukaimu, biasanya setiap hari dia tidak pernah meninggalkan kursi malas yang biasanya diduduki ayahmu, jika engkau tidak percaya, pulanglah dan tanyakan kepadanya dimana dia dahulu menyimpan hartanya?”

Orang kaya ini setelah mendengar perkataan Biksu, lalu pulang ke rumahnya. Sambil mengelus-elus anjingnya dia berjongkok bertanya kepada anjingnya.
”Jika benar engkau memang ayah saya, tolong bawa saya ketempat dimana engkau menyembunyikan uang dan harta karunmu?”

Akhirnya, anjing ini tidak berhentinya mengendus-endus dibawah kursi malas, dengan tangannya mengaruk-garuk lantai. Melihat gerakan anjingnya, setengah percaya setengah curiga, akhirnya dia menyuruh pembantunya mencangkul lantai di bawah kursi malas.

Setelah dicangkul lebih kurang satu meter, mereka melihat sebuah kotak besar.

Di dalam kotak ternyata berisi uang dan harta karun. Kotak uang dan harta karun itu, selama ini tersembunyi di bawah kursi malas!”

Setelah melihat kotak berisi uang dan harta karun ini, karena sedih orang kaya itu meneteskan airmata.

”Sungguh mengerikan! Jika di dalam hati tamak dengan harta sungguh mengerikan! Ayah saya demi menjaga hartanya, setelah meninggal, rela reinkarnasi menjadi seekor anjing demi menjaga hartanya. Sungguh kasihan, sungguh menyedihkan dan juga sungguh menakutkan!” katanya

02 Oktober 2010

Matamu adalah pelita tubuhmu

Disuatu desa terpencil dipinggiran kota , tinggalah seorang anak laki-laki bersama 6 saudaranya, kehidupan keluarga ini terlihat sangatlah sederhana, orang tuanya hanya seorang buruh tani, kakak dan adiknya semua masih bersekolah sementara ibunya hanya seorang ibu rumah tangga yang hanya mengurusi keluarga.

Untuk membantu keuangan keluarganya setiap hari selepas pulang sekolah , ia pergi kepasar untuk berjualan asongan.

Pada suatu hari saat anak ini sedang menjajakan dagangannya, tiba-tiba ia melihat sebuah bungkusan kertas koran yang cukup besar , terjatuh dipinggir jalan, lalu diambilnya bungkusan tersebut, kemudian dibukanya bungkusan itu, namun betapa kaget dan terkejutnya ia, ternyata isi bungkusan tersebut berisi uang dalam nominal besar.

Tampak diraut wajahnya rasa iba dan bukan kegembiraan, ia tampak kebinggungan, karena ia yakin uang ini pasti ada yang memilikinya , pada saat itu juga anak ini langsung berinisiatif untuk mencari si pemilik bungkusan tersebut, sambil mencari-cari sipemiliknya, tiba-tiba seorang ibu dengan ditemani seorang satpam datang dengan berlinang air mata menghampiri anak kecil itu , lalu ibu ini berkata “dek, bungkusan itu milik ibu, isi bungkusan itu adalah uang”.

Uang untuk biaya rumah sakit, karena anak ibu baru saja mengalami kecelakan korban tabrak lari, saat ini anak ibu dalam keadaan kritis dan harus cepat dioperasi karena terjadi pendarahan otak, kalau tidak cepat ditangani ibu khawatir jiwa anak ibu tidak akan tertolong.

Pagi ini ibu baru saja menjual semua harta yang ibu miliki untuk biaya rumah sakit, Ibu sangat membutuhkan uang ini untuk menyelamatkan jiwa anak ibu.

Lalu anak kecil tersebut berkata,” benar bu, aku sedang mencari pemilik bungkusan ini, karena aku yakin pemilik bungkusan ini sangat membutuhkan. “Ini bu !, milik ibu”.

Setelah itu anak kecil tersebut langsung berlari pulang , sesampai dirumah ia ceritakan semua kejadian yang baru saja dialami kepada Ibu nya.

Lalu ibunya berkata , “ Benar anak ku ! “, kamu tidak boleh mengambil barang milik orang lain, walau pun itu dijalanan , karena barang itu bukan milik kita. Ibu sangat bangga pada mu nak, walau pun kita miskin , namun kamu KAYA dengan KEBAIKAN dan KEJUJURAN.

Untuk apa kita memiliki kekayaan yang melimpah, sementara kita harus mengorbankan nyawa orang lain . “Kamu sungguh anak yang baik nak” , ibu sangat bersyukur mempunyai anak seperti mu.

Hari ini ibu percaya, kamu sudah menyelamatkan satu jiwa melalui kebaikan dan kejujuran mu, kamu harus jaga terus kejujuranmu , karena kejujuran dapat menyelamatkan banyak orang dan kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana . “Apa yang bukan milik kita, pantang untuk kita ambil”.

(“Matamu adalah pelita tubuhmu, Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu. Karena itu perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi gelap. Jika seluruh tubuhmu terang dan tidak ada bagian yang gelap, maka seluruhnya akan terang, sama seperti apabila pelita menerangi engkau dengan cahayanya.” )

30 September 2010

Pematung Raja

Suatu ketika, hiduplah seorang pematung.

Pematung ini, bekerja pada seorang raja yang masyhur dengan tanah kekuasaannya. Wilayah pemerintahannya sangatlah luas.

Hal itu membuat siapapun yang mengenalnya, menaruh hormat pada raja ini.

Sang pematung, sudah lama sekali bekerja pada raja ini. Tugasnya adalah membuat patung-patung yang diletakkan menghiasi taman-taman istana.

Pahatannya indah, karena itulah, ia menjadi kepercayaan raja itu sejak lama.

Ada banyak raja-raja sahabat yang mengagumi keindahan pahatannya saat mengunjungi taman istana.

Suatu hari, sang raja mempunyai rencana besar. Baginda ingin membuat patung dari seluruh keluarga dan pembantu-pembantu terbaiknya.

Jumlahnya cukup banyak, ada 100 buah.

Patung-patung keluarga raja akan di letakkan di tengah taman istana,sementara patung prajurit dan pembantunya akan di letakkan di sekeliling taman.

Baginda ingin, patung prajurit itu tampak sedang melindungi dirinya.

Sang pematung pun mulai bekerja keras, siang dan malam. Beberapa bulan kemudian, tugas itu hampir selesai.

Sang Raja kemudian datang memeriksa tugas yang di perintahkannya. “Bagus. Bagus sekali, ujar sang Raja. “Sebelum aku lupa, buatlah juga patung dirimu sendiri, untuk melengkapi monumen ini.”

Mendengar perintah itu, pematung ini pun mulai bekerja kembali. Setelah beberapa lama, ia pun selesai membuat patung dirinya sendiri.

Namun sayang, pahatannya tak halus. Sisi-sisinya pun kasar tampak tak dipoles dengan rapi. Ia berpikir, untuk apa membuat patung yang bagus, kalau hanya untuk di letakkan di luar taman. “Patung itu akan lebih sering terkena hujan dan panas,” ucapnya dalam hati, pasti, akan cepat rusak.”

Waktu yang dimintapun telah usai. Sang raja kembali datang, untuk melihat pekerjaan pematung. Ia pun puas.

Namun, ada satu hal kecil yang menarik perhatiannya. “Mengapa patung dirimu tak sehalus patung diriku? Padahal, aku ingin sekali meletakkan patung dirimu di dekat patungku. Kalau ini yang terjadi, tentu aku akan membatalkannya, dan menempatkan mu bersama patung prajurit yang lain di depan sana.”

Menyesal dengan perrbuatannya, sang pematung hanya bisa pasrah. Patung dirinya, hanya bisa hadir di depan, terkena panas dan hujan, seperti harapan yang dimilikinya.

_________________

Seperti apakah kita menghargai diri sendiri? Seperti apakah kita bercermin pada diri kita?

Bagaimanakah kita menempatkan kebanggaan atas diri kita? Ada kalanya memang, ada orang-orang yang selalu pesimis dengan dirinya sendiri. Mereka, kerap memandang rendah kemuliaan yang mereka miliki.

Namun, apakah kita mau dimasukkan ke dalam bagian itu. Saya percaya, tak banyak orang yang menghendaki dirinya mau dimasukkan sebagai orang yang pesimis. Kita akan lebih suka menjadi orang yang bernilai lebih. Sebab, Allah pun menciptakan kita tak dengan cara yang main-main. Allah menciptakan kita dengan kemuliaan mahluk yang sempurna.

Dan teman, sesungguhnya, kita sedang memahat patung diri kita saat ini. Tapi patung seperti apakah yang sedang kita buat? Patung yang kasar, yang tak halus pahatannya, ataukah patung yang indah, yang memancarkan kemuliaan-Nya? Patung yang bernilai mahal, yang menjadi hiasan terindah, atau patung yang berharga murah yang tak layak diletakkan di tempat utama?

Memang, tak ada yang tahu akan ditempatkan dimana patung-patung diri kita kelak.

Karena hanya Allah lah Maha Tahu. Karenanya, bentuklah patung-patung itu dengan indah. Pahatlah dengan halus, agar kita bisa ditempatkan di tempat yang terbaik, di sisi-Nya. Poleslah setiap sisinya dengan kearifan budi, dan kebijakan hati, agar memancarkan keindahan. Susuri setiap lekuknya dengan kesabaran, dan keikhlasan.

Pahatan yang kita torehkan saat ini, akan menentukan tempat kita di akhirat kelak. Bentuklah “patung” diri Anda dengan indah!

28 September 2010

Lomba Lari

Karena banyak mahluk hidup yang ingin masuk ke surga, akhirnya Tuhan memutuskan memakai cara berlomba lari siapa yang menjadi pemenangnya boleh masuk ke surga?

Kebetulan manusia dan kura-kura dibagi menjadi satu kelompok untuk berlomba.

Manusia dengan congkak melihat kura-kura yang gerakannya sangat lamban.

”Apakah engkau pantas berlomba dengan saya?” kata manusia.

Perlombaan baru dimulai, manusia sudah berlari sangat jauh, ketika memalingkan kepala melihat kebelakang, bayangan kura-kura saja tidak kelihatan.

Sudah hampir mencapai garis finish, manusia bermaksud berlari dengan kencang, pada saat itu garis merah tiba-tiba melambung dengan tinggi, berubah menjadi sebuah gunung yang tinggi, ketika manusia merangkak naik selangkah dia menjadi tersungkur jatuh selangkah, saat ini dia merasa sangat panik keringatnya bercucuran, tetapi dia tetap tidak dapat naik.

Diantara penonton ada yang berteriak :”lepaskan bebanmu.”

Manusia berpikir :”Saya tidak membawa beban.” Dengan terkejut dia memandang kearah penonton.

“Lepaskan rasa takutmu!” Penonton berteriak lagi.

Manusia melepaskan rasa takutnya.

“Lepaskan rasa dendammu!” Penonton berteriak.

Manusia melepaskan rasa dendamnya.

“Lepaskan keinginanmu untuk menang!” Penonton berteriak lagi.

Manusia merasa sangsi, pada saat itu, kura-kura berhasil melewatinya, akhirnya kura-kura yang menjadi pemenang.

Manusia tidak bisa menerima kenyataan ini, akhirnya dia pergi mencari malaikat yang menjadi juri.

”Kura-kura hanya menggendong sebuah rumah, sedangkan engkau mempunyai keterikatan terhadap jabatan, ketenaran dan harta, bebanmu lebih berat daripada kura-kura, bagaimana bisa masuk ke surga?” kata Juri malaikat.

Manusia dalam menjalani kehidupannya seharusnya bersifat jujur, sabar, toleran, baik hati. Tetapi karena dalam kehidupan manusia ini ingin mengejar harta, jabatan dan ketenaran, sehingga membuat kehidupan manusia menjadi ruwet dan tidak ada ketenangan didalam hati. Kenapa tidak mencoba membuang semua beban ini? Cobalah jalani hidup ini dengan rela.

06 September 2010

Hati yang bahagia

Suatu ketika, tersebutlah seorang raja yang kaya raya.

Kekayaannya sangat melimpah. Emas, permata, berlian, dan semua batu berharga telah menjadi miliknya.

Tanah kekuasaannya, meluas hingga sejauh mata memandang.

Puluhan istana, dan ratusan pelayan siap menjadi hambanya.

Karena ia memerintah dengan tangan besi, apapun yang diinginkannya hampir selalu diraihnya.

Namun, semua itu tak membuatnya merasa cukup. Ia selalu merasa kekurangan.

Tidurnya tak nyenyak, hatinya selalu merasa tak bahagia. Hidupnya, dirasa sangatlah menyedihkan.

Suatu hari, dipanggillah salah seorang prajurit tebaiknya.

Sang Raja lalu berkata, “Aku telah punya banyak harta. Namun, aku tak pernah merasa bahagia. Karena itu, ujar sang raja, “aku akan memerintahkanmu untuk memenuhi keinginanku. Pergilah kau ke seluruh penjuru negeri, dari pelosok ke pelosok, dan temukan orang yang paling berbahagia di negeri ini. Lalu, bawakan pakaiannya kepadaku.”

“Carilah hingga ujung-ujung cakrawala dan buana. Jika aku bisa mendapatkan pakaian itu, tentu, aku akan dapat merasa bahagia setiap hari. Aku tentu akan dapat membahagiakan diriku dengan pakaian itu. Temukan sampai dapat! ” perintah sang Raja kepada prajuritnya.

Mendengar titah sang Raja, prajurit itupun segera beranjak. Disiapkannya ratusan pasukan untuk menunaikan tugas.

Berangkatlah mereka mencari benda itu. Mereka pergi selama berbulan-bulan, menyusuri setiap penjuru negeri. Seluas cakrawala, hingga ke ujung-ujung buana, seperti perintah Raja.

Di telitinya setiap kampung dan desa, untuk mencari orang yang paling berbahagia, dan mengambil pakaiannya.

Sang Raja pun mulai tak sabar menunggu. Dia terus menunggu, dan menunggu hingga jemu.

Akhirnya, setelah berbulan-bulan pencarian, prajurit itu kembali. Ah, dia berjalan tertunduk, merangkak dengan tangan dan kaki di lantai, tampak seperti sedang memohon ampun pada Raja.

Amarah Sang Raja mulai muncul, saat prajurit itu datang dengan tangan hampa.
“Kemari cepat!!. “Kau punya waktu 10 hitungan sebelum kepalamu di penggal. Jelaskan padaku mengapa kau melanggar perintahku. Mana pakaian kebahagiaan itu!” gurat-gurat kemarahan sang raja tampak memuncak.

Dengan airmata berlinang, dan badan bergetar, perlahan prajurit itu mulai angkat bicara. “Duli tuanku, aku telah memenuhi perintahmu. Aku telah menyusuri penjuru negeri, seluas cakrawala, hingga ke ujung-ujung buana, untuk mencari orang yang paling berbahagia. Akupun telah berhasil menemukannya.

Kemudian, sang Raja kembali bertanya, “Lalu, mengapa tak kau bawa pakaian kebahagiaan yang dimilikinya?

Prajurit itu menjawab, “Ampun beribu ampun, duli tuanku, orang yang paling berbahagia itu, TIDAK mempunyai pakaian yang bernama kebahagiaan.”
____________________

Kebahagiaan tidak di temukan dalam gemerlap harta dan permata, ttidak hadir dalam indahnya istana-istana megah, tidakk pada besarnya penghasilan kita, mewahnya rumah kita.

Kebahagiaan hadir pada kesederhanaan, pada kebersahajaan.

Kebahagiaan itu ada di hati, di dalam kalbu ini. Kebahagiaan, tak berada jauh dari kita, asalkan kita mau menjumpainya. Ya, asalkan kita mau mensyukuri apa yang kita punyai, dan apa yang kita miliki.