Pages

Subscribe:

30 November 2011

Keledai Terpeleset

Seorang pedagang, menuntun keledainya untuk melewati sebuah sungai yang dangkal.

Selama ini mereka telah melalui sungai tersebut tanpa pernah mengalami satu pun kecelakaan, tetapi kali ini, keledainya tergelincir dan jatuh ketika mereka berada tepat di tengah-tengah sungai tersebut.

Ketika pedagang tersebut akhirnya berhasil membawa keledainya beserta muatannya ke pinggir sungai dengan selamat, kebanyakan dari garam yang dimuat oleh keledai telah meleleh dan larut ke dalam air sungai.

Gembira karena merasakan muatannya telah berkurang sehingga beban yang dibawa menjadi lebih ringan, sang Keledai merasa sangat gembira ketika mereka melanjutkan perjalanan mereka.

Pada hari berikutnya, sang Pedagang kembali membawa muatan garam. Sang Keledai yang mengingat pengalamannya kemarin saat tergelincir di tengah sungai itu, dengan sengaja membiarkan dirinya tergelincir jatuh ke dalam air, dan akhirnya dia bisa mengurangi bebannya kembali dengan cara itu.

Pedagang yang merasa marah, kemudian membawa keledainya tersebut kembali ke pasar, dimana keledai tersebut di muati dengan keranjang-keranjang yang sangat besar dan berisikan spons.

Ketika mereka kembali tiba di tengah sungai, sang keledai kembali dengan sengaja menjatuhkan diri, tetapi pada saat pedagang tersebut membawanya ke pinggir sungai, sang keledai menjadi sangat tidak nyaman karena harus dengan terpaksa menyeret dirinya pulang kerumah dengan beban yang sepuluh kali lipat lebih berat dari sebelumnya akibat spons yang dimuatnya menyerap air sungai.
______________________________________________

Cara yang sama, tidak selalu sesuai untuk digunakan dalam segala situasi.

27 November 2011

Orang kaya yang baik hati

Pada zaman dahulu kala, terdapat sebuah desa kecil yang sederhana dan indah.

Disana ada seorang yang kaya raya yang baik, yang suka menolong orang lain.

Terkadang, tetangga rumah datang meminjam bahan pangan padanya. Namun karena tetangganya banyak yang miskin, maka ketika mereka hendak mengembalikan bahan pangan yang dipinjaminya itu, orang kaya itu tidak mau menerima.

Para tetangga merasa bahwa orang kaya ini sudah berbaik hati meminjamkan bahan pangan, itu sudah sangat membantu, mana boleh tidak mengembalikan? Tidak, harus dikembalikan kepadanya.

Lalu orang kaya ini memotong 2 bagian kendi besarnya, sebagian besar dan sebagian lagi kecil.

Ketika tetangga datang untuk meminjam bahan pangan, tuan Yang menimbang dengan centong besar, centong demi centong bahan pangan dipinjamkannya kepada tetangga.

Pada saat tetangga mengembalikan bahan pangan yang dipinjamnya itu, tuan Yang menimbangnya dengan centong kecil, hanya mengambil sedikit saja.

Diusianya yang ke-80 musim gugur tahun itu, tanaman gandum juga telah matang, orang kaya itu bermaksud hendak ke ladang untuk melihat sejenak gandumnya. Lalu, dengan terhuyung-huyung ia menopang tongkat pergi ke ladang gandumnya seorang diri.

Tiba-tiba, langit tertutup oleh awan hitam, petir bergemuruh di ladang. Melihat keadaan seperti ini, dalam benaknya dia berpikir , “Saya sudah tua, tidak bisa jalan lagi, lebih baik mati disini saja!”

Saat itulah, orang kaya itu mendengar satu suara keras bergema di ladangnya, “Dewa guntur, dewi petir dan naga laut, kalian dengar baik-baik, orang kaya yang baik saat ini berada di ladang rumahnya, setitik airpun tidak boleh kalian teteskan di atas gandumnya!”

Setelah lama berlalu, hujan yang disertai petir akhirnya berhenti, orang kaya itu bangun dari atas ladangnya dan begitu melihat, tidak ada setetes airpun membasahi ladang gandum tempat ia berbaring, sedangkan ladang gandum orang lain semuanya terbenam air.

Setelah orang kaya itu pulang ke rumah, ia menceritakan kepada putra-putrinya tentang peristiwa yang dialaminya itu, lantas dengan disertai putra-putrinya mereka berlutut menyembah, memanjatkan puji syukur dan terimakasih atas anugerah Yang Maha Kuasa.
______________________________

Mengapa kilatan petir tidak sampai melukai orang kaya yang baik hati itu?

Sebab seumur hidupnya ia memperlakukan orang dengan baik, selalu memikirkan kepentingan orang lain.

Kita harus selalu ingat prinsip bahwa baik dan jahat ada balasannya, percaya bahwa setiap hal yang dilakukan manusia, baik yang kecil maupun besar, Yang Maha Kuasa selalu melihatnya. Karena itu, semua orang berusaha berbuat hal yang baik, tidak melakukan perbuatan jahat.

24 November 2011

Jepit Rambut Sang Putri

Dikisahkan seorang Raja memiliki tujuh Putri, ketujuh Putri yang cantik ini adalah kebanggaan Raja, kesayangan beliau.

Semua orang tahu perihal rambut panjang mereka yang hitam berkilauan itu. Dan dikenal hingga seluruh pelosok negeri. Karena itu, Raja menghadiahkan kepada mereka masing-masing 100 jepit rambut yang indah. Karena mereka sangat memperhatikan penampilannya, terutama pada rambut mereka.

Suatu pagi, Putri sulung sang Raja bangun dari tidurnya, dan seperti biasa ia menata rambutnya dengan jepitan rambut. Namun ia mendapati jepitan rambutnya kurang satu, lalu secara diam-diam ia ke kamar Putri kedua Raja, dan mengambil satu jepitan rambut.

Begitu halnya dengan Putri kedua ketika mendapati jepitan rambutnya kurang satu, lalu ia ke kamar Putri ketiga untuk mengambil jepit rambutnya.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Putri ketiga, saat ia mendapati jepitan rambutnya kurang satu, lalu dengan diam-diam ia ke kamar Putri keempat.

Putri keempat juga melakukan hal yang sama dengan putri-putri sebelumnya mengambil jepitan rambut saudarinya, Putri kelima.

Demikian juga dengan Putri kelima, ia mengambil jepitan rambut Putri keenam dan Putri keenam terpaksa juga mengambil jepitan rambut Putri ketujuh.

Akibatnya, jepitan rambut Putri ketujuh hanya tersisa 99 buah. Dan dia tak bisa melakukan hal seperti kakaknya.

Keesokannya, pangeran dari negeri tetangga yang tampan dan gagah tiba-tiba berkunjung ke istana, dan katanya kepada sang Raja: “Kemarin, burung Murai piaraan saya menggondol sebuah jepitan rambut, saya pikir ini pasti kepunyaan para putri, dan ini sepertinya suatu takdir yang unik, tidak tahu putri mana yang kehilangan jepitan rambut ini?”

Para putri Raja telah mendengar hal ini, dan dalam benak mereka masing-masing hendak berkata : “Punya saya, punya saya.”

Hanya Putri ketujuh yang ke luar sambil berkata: “Jepitan rambut saya hilang satu.”

Baru saja selesai berkata, rambut panjangnya yang indah jatuh tergerai karena kurang sebuah jepitan rambut. Dan sang Pangeran tak bisa tidak menjadi terkesima melihatnya.

Akhir dari cerita, sudah pasti sang Pangeran dan Putri Raja tersebut hidup bahagia selamanya sejak itu.
__________________________________

Mengapa begitu ada kekurangan, lalu berusaha keras untuk melengkapinya?

Seratus buah jepitan rambut, bak seperti sebuah kehidupan yang utuh sempurna. Namun dengan berkurangnya satu jepitan rambut, keutuhan ini terasa menjadi tidak lengkap.

Namun, justru karena kekurangan itu, kelak akan ada perubahan (baik), kemungkinan yang tak terhingga, bukankah ini sebuah peristiwa yang patut disyukuri!

Lantas bagaimana menghadapi kekurangan dalam perjalanan hidup yang tak terhindarkan?

Menghindar belum tentu dapat mengelakkan. Menghadapi belum tentu menyedihkan,

seorang diri (kesepian) belum tentu tidak bahagia. Mendapatkan belum tentu bisa kekal abadi. Kehilangan belum tentu tidak akan memiliki lagi.

Jangan terburu-buru berkata tiada pilihan lain jangan mengira di dunia ini hanya ada benar dan salah.

Jawaban sejumlah besar peristiwa bukan hanya ada satu. Jadi, selamanya ada jalan keluar bagi kita. Anda bisa mendapatkan alasan untuk sedih, tapi Anda juga bisa mendapatkan alasan untuk gembira.

21 November 2011

Pelajran bagi Samurai

Seorang samurai bertubuh kekar dan tegap pada suatu hari mendatangi seorang pertapa bertubuh kecil dan kurus. "Hai pertapa," katanya dengan nada suara yang terbiasa memberikan perintah, "Ajarkan saya tentang surga dan neraka!"

Si pertapa mendongakkan kepalanya memandang samurai gagah di depannya and menjawabnya:, "Mengajarkanmu tentang surga dan neraka? Saya tidak dapat mengajarkan apapun juga kepadamu. Pergilah sekarang.”

Si samurai tampak marah. Mukanya merah padam menahan rasa marah yang tinggi. Ia cabut pedangnya dan mengangkat di atas kepalanya bersiap untuk menebas petapa itu dengan pedangnya.

"Itulah neraka," kata si pertapa dengan nada yang tenang.

Si samurai terkejut. Ketenangan dan kepasrahan dari mahluk kecil itu; yang bersedia mempertaruhkan hidupnya, telah memberikan pelajaran mengenai neraka kepadanya! Ia perlahan menurunkan pedangnya. Ia merasakan rasa lega dan tiba-tiba merasa sangat tenang.

"Dan itulah surga," kembali si pertapa berkata dengan tenang.

17 November 2011

Yosaku dan Otsuru

Dahulu kala di suatu tempat di Jepang, hidup seorang pemuda bernama Yosaku. Pekerjaannya adalah mencari kayu bakar di gunung dan menjualnya ke kota. Uang hasil penjualan dibelikannya makanan.

Terus seperti itu setiap harinya. Hingga pada suatu hari ketika ia berjalan pulang dari kota ia melihat sesuatu yang menggelepar di atas salju.

Setelah di dekatinya ternyata seekor burung bangau yang terjerat diperangkap sedang meronta-ronta. Yosaku segera melepaskan perangkat itu. Bangau itu sangat gembira, ia berputar-putar di atas kepala Yosaku beberapa kali sebelum terbang ke angkasa.

Karena cuaca yang sangat dingin, sesampainya dirumah, Yosaku segera menyalakan tungku api dan menyiapkan makan malam. Saat itu terdengar suara ketukan pintu di luar rumah.

Ketika pintu dibuka, tampak seorang gadis yang cantik sedang berdiri di depan pintu. Kepalanya dipenuhi dengan salju. "Masuklah, nona pasti kedinginan, silahkan hangatkan badanmu dekat tungku," ujar Yosaku. "Nona mau pergi kemana sebenarnya ?", Tanya Yosaku.

"Aku bermaksud mengunjungi temanku, tetapi karena salju turun dengan lebat, aku jadi tersesat." "Bolehkah aku menginap disini malam ini ?".

"Boleh saja Nona, tapi aku ini orang miskin, tak punya kasur dan makanan." ,kata Yosaku.

"Tidak apa-apa, aku hanya ingin diperbolehkan menginap". Kemudian gadis itu merapikan kamarnya dan memasak makanan yang enak.

Ketika terbangun keesokan harinya, gadis itu sudah menyiapkan nasi. Yosaku berpikir bahwa gadis itu akan segera pergi, ia merasa kesepian. Salju masih turun dengan lebatnya. "Tinggallah disini sampai salju reda." Setelah lima hari berlalu salju mereda.

Gadis itu berkata kepada Yosaku, "Jadikan aku sebagai istrimu, dan biarkan aku tinggal terus di rumah ini." Yosaku merasa bahagia menerima permintaan itu. "Mulai hari ini panggillah aku Otsuru", ujar si gadis.

Setelah menjadi Istri Yosaku, Otsuru mengerjakan pekerjaan rumah dengan sungguh-sungguh. Suatu hari, Otsuru meminta suaminya, Yosaku, membelikannya benang karena ia ingin menenun.

Otsuru mulai menenun. Ia berpesan kepada suaminya agar jangan sekali-kali mengintip ke dalam penyekat tempat Otsuru menenun.

Setelah tiga hari berturut-turut menenun tanpa makan dan minum, Otsuru keluar. Kain tenunannya sudah selesai. "Ini tenunan ayanishiki. Kalau dibawa ke kota pasti akan terjual dengan harga mahal".

Yosaku sangat senang karena kain tenunannya dibeli orang dengan harga yang cukup mahal. Sebelum pulang ia membeli bermacam-macam barang untuk dibawa pulang.

"Berkat kamu, aku mendapatkan uang sebanyak ini, terima kasih istriku. Tetapi sebenarnya para saudagar di kota menginginkan kain seperti itu lebih banyak lagi.

"Baiklah akan aku buatkan", ujar Otsuru. Kain itu selesai pada hari keempat setelah Otsuru menenun. Tetapi tampak Otsuru tidak sehat, dan tubuhnya menjadi kurus. Otsuru meminta suaminya untuk tidak memintanya menenun lagi.

Di kota, Sang Saudagar minta dibuatkan kain satu lagi untuk Kimono tuan Putri. Jika tidak ada maka Yosaku akan dipenggal lehernya. Hal itu diceritakan Yosaku pada istrinya. "Baiklah akan ku buatkan lagi, tetapi hanya satu helai ya", kata Otsuru.

Karena cemas dengan kondisi istrinya yang makin lemah dan kurus setiap habis menenun, Yosaku berkeinginan melihat ke dalam ruangan tenun. Tetapi ia sangat terkejut ketika yang dilihatnya di dalam ruang menenun, ternyata seekor bangau sedang mencabuti bulunya untuk ditenun menjadi kain. Sehingga badan bangau itu hampir gundul kehabisan bulu.

Bangau itu akhirnya sadar dirinya sedang diperhatikan oleh Yosaku, bangau itu pun berubah wujud kembali menjadi Otsuru. "Akhirnya kau melihatnya juga", ujar Otsuru.

"Sebenarnya aku adalah seekor bangau yang dahulu pernah Kau tolong", untuk membalas budi aku berubah wujud menjadi manusia dan melakukan hal ini," ujar Otsuru. "Berarti sudah saatnya aku berpisah denganmu", lanjut Otsuru.

"Maafkan aku, kumohon jangan pergi," kata Yosaku. Otsuru akhirnya berubah kembali menjadi seekor bangau. Kemudian ia segera mengepakkan sayapnya terbang keluar dari rumah ke angkasa.

Tinggallah Yosaku sendiri yang menyesali perbuatannya.

14 November 2011

Petani dan Kebun Apel

Di sebuah Desa yang damai dan tentram, tinggallah sebuah keluarga petani yang rajin di kaki bukit. Keluarga yang bahagia ini hanya mempunyai seorang anak perempuan.

Pada suatu hari, si ayah petani yang rajin ini pergi ke ladangnya diatas bukit untuk bercocok tanam. Tiba-tiba datanglah seorang kakek yang aneh mendekati si Petani itu.

“Pak Tani, saya mempunyai 5 buah biji buah apel yang lezat dan manis sekali. Apabila dirawat dengan baik, maka dalam waktu 2 tahun pohon apel ini akan sudah dapat berbuah lebat. Maukah anda membelinya dengan 10 keping uang perak?”, kata kakek aneh tersebut dengan penuh harap.

Si Petani itu memandangi 5 biji apel itu dengan penuh kecurigaan,”Bagaimana mungkin 5 biji apel ini dihargai 10 keping uang perak?! Mahal sekali. Jangan-jangan kakek aneh ini ingin menipuku,” pikir si Petani itu.

Namun ketika dia melihat wajah kakek aneh itu tidak menampakkan sedikit pun niat jahat, malah menimbulkan iba di hati Pak Tani. “Kakek ini pasti dalam kesulitan sehingga dia harus menjual biji apel ini, tidak ada salahnya aku membelinya. Kalaupun benih ini tidak tumbuh seperti yang diharapkan, paling tidak saya telah membantunya,” pikir Pak Tani.

“Baiklah saya akan membelinya,” kata Pak Tani. Setelah menerima uang pemberian dari Petani itu, kakek aneh ini segera lenyap dari pandangan. “Sungguh kakek yang aneh,” gumam Pak Tani.

Pada hari itu juga Pak Tani menanam 5 biji apel ini diladangnya.

Hari berganti hari, Pak Tani dan Ibu Tani bergantian merawat benih apelnya. Terkadang anak perempuannya juga ikut membantu membersihkan rumput liar disekitar pohon apel itu. Dalam waktu singkat 5 benih apel itu tumbuh dengan suburnya.

Tak terasa 2 tahun telah berlalu. Kelima pohon apel itu benar-benar telah menghasilkan buah-buah apel merah yang besar dan ranum. Ibu Tani dan anaknya segera memetik buah apel yang ranum dan memakannya.

“Hmm, benar-benar apel yang lezat! Kakek aneh itu tidak menipu kita, Pak,” kata Ibu Tani dengan riang.

“Jika kita jual ke kota, orang-orang pasti mau membelinya dengan harga tinggi,” timpal Pak Tani sambil membayangkan keuntungan besar yang bakal diperolehnya.

Beberapa hari kemudian, keluarga Petani ini hendak memanen pohon apel mereka. Dengan riang Pak Tani memikul keranjang bambunya pergi ke kebun apel.

Namun ketika mereka tiba di kebun, alangkah terkejutnya. Kebun apel yang penuh harapan itu telah porak poranda. Ternyata binatang-binatang hutan seperti monyet, burung, babi hutan, tupai dan lain-lain, sedang asyik menikmati buah apel mereka. Mereka telah menghabiskan hampir semua buah apel yang siap panen.

Petani itu pulang dengan tangan hampa dan penuh kekecewaan. Sejak saat itu Pak Tani tidak mau lagi pergi ke kebun apelnya diatas bukit. Mereka telah beralih memelihara hewan ternak di rumahnya.

Tak terasa dua tahun telah berlalu, suatu pagi anak perempuan mereka mengajak bertamasya ke atas bukit, tempat kebun apel mereka dahulu. “Tak ada salahnya kita kesana melihat-lihat kebun apel itu. Lagipula tempat disana sangat indah dan sejuk,” pikir Pak Tani.

Kemudian mereka berangkat ke atas bukit itu. Sesampai disana, alangkah terkejutnya Pak Tani melihat kebun apelnya. “Bbba...bbagaimana mungkin bisa menjadi begini?!” kata Pak Tani tergagap-gagap melihat kebunnya dipenuhi dengan pohon-pohon apel yang sedang berbuah ranum. “Dibukit ini hanya dihuni babi hutan dan burung-burung. Mungkinkah ada orang yang menanam pohon apel di kebun kita?”, kata Pak Tani penuh keheranan.

Anak perempuan mereka berkata,”Tidak ayah, sewaktu para binatang itu memakan buah apel kita, bukankah mereka membuang biji-biji apel itu berserakan di setiap jengkal tanah kebun kita? Biji-biji itu ternyata tumbuh menjadi pohon-pohon apel ini.”

“Ya Tuhan, buahnya lebih lebat daripada pertama kali kita menanamnya. Ini baru benar-benar panen besar”, ujar Petani itu dengan penuh rasa syukur.
_____________________________________--

Pelajaran apa yang dapat kita petik dari cerita ini? Pengalaman pak Tani ini memberikan contoh pada kita bahwa janganlah melakukan sesuatu dengan setengah-setengah dan harus mengerjakan sesuatu dengan kesungguhan hati. Kecewa sesaat namun tidak patah semangat dapat merubah kegagalan menjadi sebuah keberhasilan.

11 November 2011

Ayah, Anak, dan Keledai

Ini kisah tentang bapak, anak lelaki dan keledainya yang merepotkan.

Bagaimana tidak, tiap hari mereka harus menyediakan rumput, dan, yang paling tidak enak, harus selalu membersihkan kotoran keledai di kandang.

“Mending piara ayam, bisa bertelur!” kata si anak pada suatu hari. “Piara keledai hanya bikin repot!”

Si Bapak menghela nafas. Maklum akan kekesalan anaknya.

“Mending kalau keledai itu bisa membersihkan kotorannya sendiri!” si anak meneruskan kesalnya.

“Tak ada keledai sepandai itu, nak!” kata bapak coba menenangkan hati anaknya. “dia tidak sekolah, kan?”

“Laiyalah! Mana ada sekolah keledai?” sambut anaknya, makin kesal menanggapi gurauan si ayah. “Kenapa tidak kita jual saja keledai ini, pak?”

Kita jual? Si Bapak merenung.

“Nak, keledai itu kenangan dari kakekmu! Kau cucu lelaki kebanggan yang lahir di hari yang sama dengan keledai itu. Maka kakekmu menamaimu Dongki, yang artinya keledai mungil! Nama bapak sendiri kan Dongkus, alias keledai besar!”

Si Bapak senyum bernostalgia. Sebaliknya si anak, Dongki, makin kesal dengan keledai yang ternyata lahir di hari yang sama. Bukan suatu kehormatan besar lahir di hari yang sama dengan keledai! Bernama keledai mungil pula! Huh, apa kita bermarga Keledai?!

Dongki minta si bapak untuk menyingkirkan binatang itu.

Dengan perasaan apa boleh buat, pak Dongkus setuju.

Matahari pagi mulai menghangati bumi, ketika tiga mahluk Tuhan beda posisi ini jalan beriringan menuju pasar di kota.

“Hei, kalian bertiga mau kemana?” seorang tetangga menyapa mereka. Pak Dongkus menjawab singkat bahwa mereka akan ke pasar di kota.

“Kalian punya keledai kenapa tidak dinaiki? Dimana otak kalian?” kata tetangga usil itu.

Panas kuping pak Dongkus mendengar teguran tetangga itu. Setelah berunding dengan Dongki, ia naik ke punggung keledai, sementara si anak berjalan mengiringi. Namun belum 50 meter berjalan, gangguan kedua muncul.

“Bapak macam apa itu? Dirinya enak-enak naik keledai, anaknya disuruh jalan kaki! Sayang anak, dong!”

Suara tetangga kedua ini makin memerahkan telinga. Cepat-cepat pak Dongkus merosot dari punggung keledai. Ia tak mau dituduh tidak sayang anak.

Kini giliran ‘si Keledai Mungil’ Dongki naik dipunggung keledai asli. Sementara ‘si Keledai Besar’ Dongkus jalan kaki mengiringi. “Sekarang tak akan ada yang mencela lagi,” katanya dalam hati. “Bukankah aku seorang ayah yang sayang anak?”

Lagi-lagi pak Dongkus salah duga.

“Wah! Ini anak tidak hormat pada orangtua!” Seorang tukang rumput yang berpapasan jalan mencela. “Anak enak-enak naik keledai, ayahnya yang tua itu dibiarkan jalan kaki! Kamu juga! Kenapa orangtua tidak bisa didik anak?”

Anak dan bapak sama-sama kena semprot!

Anak-bapak duduk di bawah pohon, tak jauh dari hutan. Stres. Sama-sama stress. Apa pun yang mereka lakukan salah semua. Keduanya sepakat bahwa keledai warisan yang berhari ulangtahun sama dengan Dongki itu benar-benar merepotkan adanya. Pasar kota masih jauh, bagaimana cara menuju kesana yang aman dari cela orang?

Sementara itu, diam-diam keledai berjalan sendiri menuju hutan, tempat yang selama ini ia dambakan.

Tiba-tiba Dongki bersorak lihat jauh disana keledai menghilang ke hutan.

“Ayah, kita bebas sekarang!” teriaknya sambil menunjuk hutan. Si ayah setuju. “Ya, kita bebas dari tuan keledai yang merepotkan itu!”

Mereka pun pulang dengan riang, tidak takut lagi ada yang mencela bagaimana mereka bersikap terhadap keledainya!
_________________________________

Pesan moral:
Kita tak akan pernah bisa memuaskan semua orang. Maka, jadilah dirimu sendiri dan lakukan apa yang kau anggap benar.

08 November 2011

Kakek dan Monster

Alkisah pada sebuah perkampungan miskin, penduduk kampung itu hidup dalam kemiskinan. Kenapa penduduk kampung ini miskin? Karena penduduk kampung ini sangat malas, tidak ada yang mau bekerja mencari nafkah, sehingga mereka miskin sampai tidak memiliki makanan.

Untuk makan sehari-hari saja mereka tidak bisa mencukupi, sehingga anak-anak di perkampungan ini kekurangan gizi dan selalu kelihatan lesu. Pada suatu hari, ada seorang kakek yang pipi kirinya ditumbuhi daging sambil meniup seruling mendatangi kerumunan anak-anak yang lesu tersebut. “Anak-anak bersemangatlah, ikuti kakek menari!”

Kakek tersebut dengan muka yang ramah tersenyum berkata sambil menari riang. Melihat keriangan kakek tersebut anak-anak jadi bersemangat dan ikut menari, mereka menari dengan gembira sekali, kemudian datang seorang kakek yang pipi kanannya ditumbuhi daging, dengan marah dan nafas tersengal-sengal dia berteriak :

“Semua berhenti, kalian menari dan tertawa-tawa, berisik, semua berhenti!”

Kakek yang pipi kanannya ditumbuhi daging sambil menarik tangan anaknya dengan marah pulang ke rumahnya.

“Aduh, sayang sekali dengan susah payah aku membuat anak-anak ini gembira dan bersemangat sebentar, engkau membuyarkan semangat anak-anak ini!” kata kakek yang baik itu. Apa boleh buat terpaksa kakek tersebut menari sendirian sambil menari dia naik ke gunung, melihat tariannya rubah dan kelinci kecil di hutan juga ikut menari.

Rubah kecil sambil memukul perutnya “tung ! tung ! tung !” kelinci kecil dan kera saling bergandengan tangan menari dengan gembira.

Pada saat mereka menari dengan gembira tiba-tiba turun hujan deras, membuat mereka semua berlarian ke sarang mereka masing-masing untuk berteduh, kakek tersebut juga mencari tempat berteduh kebetulan ada pohon yang berlubang. Sambil menunggu hujan berhenti, kakek tersebut tertidur.

Dia terbangun saat sudah tengah malam, dia mendengar suara hiruk pikuk di luar dan merasa heran, sehingga dia mengintip ke luar. Dia merasa sangat terkejut.

Dia melihat sekelompok monster duduk mengelilingi api unggun, dia sangat terkejut dan ketakutan. Dia melihat seorang monster yang paling besar duduk di tengah-tengah dan seorang monster yang bermuka merah dan hijau dengan hormat mempersembahkan anggur kepada monster besar tersebut.

“Hari ini kita berbahagia, mari kita bersulang !”

Kakek tersebut mendengarkan percakapan mereka. Anak buah monster tersebut mulai meniup seruling, memukul genderang, ketua monster tersebut berkata:

“Menarilah!” mendengar teriakan ketuanya, monster muka hijau mulai menari, tetapi melihat tariannya ketuanya berteriak: “Sungguh bodoh, tarian apa ini !” dan memukul kepala monster muka hijau, monster muka hijau dengan ketakutan lari kembali ke tempat duduknya.

“Baiklah, berikutnya siapa yang mau menari lagi?” teriak ketua mereka, anak buahnya dengan bertepuk tangan menyemangati orang yang hendak ke luar menari, tetapi tidak ada seorangpun berani maju.

Kakek melihat semua kejadian tersebut dengan jelas, walaupun ketakutan melihat kejadian tersebut, tetapi mendengar suara seruling dan genderang yang merdu, dengan tidak sadar kakek tersebut mulai menari dengan riangnya.

“La….La….La…La“ sambil menyanyi dan menari kakek tersebut tidak teringat lagi kepada ketakutannya.

Kakek tersebut terus menari dengan gerakan yang indah sehingga monster-monster tersebut jadi terpesona. Mereka terpesona dan dengan gembira mereka semua bertepuk tangan untuk kakek ini.

Kakek tersebut menari, bernyanyi dan sambil meminum anggur dengan para monster tersebut dengan gembira, akhirnya ketua monster juga menjadi senang.

Mereka mengikuti kakek tersebut menari mereka membuat sebuah lingkaran yang besar sambil menari dengan gembira. “ha…ha…ha…ha !” ketua monster tersebut tertawa, “aku belum pernah melalui hari yang segembira hari ini, ayo menari terus pada hari yang berbahagia ini!”

Para monster dan kakek tersebut lupa waktu menari terus, fajar mulai menyingsing dari hutan terdengar suara: “Kuku ruyuk” terdengar suara ayam yang menandakan hari telah pagi. Pada saat ini para monster tersadar dan berteriak: “Oh ya, celaka fajar sudah menyingsing kita harus segera menghilang.” Para monster tersebut sudah bersiap-siap menghilang.

“Kakek tua, sudah menyusahkan engkau, kami semua sangat gembira kalau bisa nanti malam engkau bisa datang lagi kita bisa menari bersama-sama lagi.” kata ketua monster tersebut.

“Baiklah, nanti malam aku pasti datang menepati janji” tetapi ketua monster kurang percaya kepada janji kakek tersebut dan berkata: “Jika engkau tidak datang, kami pasti tidak bisa menari dan meminum anggur dengan gembira, supaya engkau dapat menepati janjimu, engkau harus meninggalkan sebuah benda berharga dari badan engkau sebagai jaminan akan menepati janjimu.”

“Barang!Bbarang berharga apa ya?” kakek tersebut berpikir dan “Oh ya! barang berharga aku ! Daging yang tumbuh divpipi kiriku adalah barang berharga! Ambillah!” Akhirnya monster tersebut dengan sekuat tenaganya menarik daging yang tumbuh di pipi kiri kakek tersebut.

“Ini, aku juga kasih barang berharga untuk engkau” kata ketua monster tersebut.

Ketua monster tersebut dari dadanya mengeluarkan sebuah bungkusan yang berisi emas memberikannya kepada kakek ini, karena dia melihat ketulusan dan kebaikan kakek ini, maka dia memberikan hadiah berharga tersebut kepada kakek ini.

Kakek yang baik hati ini setelah menerima hadiah sambil menunduk mengucapkan terima kasih, beberapa saat kemudian ketika dia mengangkat kepalanya dia melihat para monster tersebut telah menghilang, kakek merasa badannya menjadi ringan setelah memberikan daging tumbuh di pipinya kepada monster, maka dengan gembira dia membawa bungkusan yang berisi emas pulang ke kampungnya.

Akhirnya, kakek yang baik hati ini sampai di kampungnya, dia membagi-bagikan emas tersebut kepada penduduk kampung, dan berpesan kepada mereka harus rajin bekerja supaya tidak kelaparan. Melihat kebaikan kakek tersebut orang kampung menjadi sadar, dan semua mulai bekerja. Kakek berpesan kepada mereka: “Mulai saat ini kalian harus rajin menanam padi, supaya panen dapat berhasil dan kalian semua tidak kelaparan lagi.”

Tetapi, pada saat ini adalah seseorang yang sangat tidak senang, yaitu kakek yang pipi kanannya ditumbuhi daging, dalam hati dia sangat marah dan cemburu melihat daging di pipi kiri kakek tersebut telah lenyap.

“Sekarang, di kampung ini, hanya aku yang pipi ditumbuhi daging”

Dalam hatinya sangat geram dan marah. Setelah mendengar cerita kakek tersebut tentang perjanjian dengan para monster. “alam ini aku menggantikan Anda pergi menemui para monster.” katanya.

Pada malam harinya, ia berangkat ke hutan, menuju ke tempat yang diceritakan kakek yang baik hati. Mencari pohon yang berlubang besar, kemudian dia dengan sabar menunggu sampai tengah malam, setelah tengah malam, tiba–tiba dia melihat terdapat api unggun dan para monster bermunculan berkumpul mengeliling api.

Tidak berapa lama kemudian, terdengar suara mereka bercanda dan tertawa gembira pestapun segera dimulai. Para monster mulai meniup seruling, memukul genderang dan menepuk tangan menandakan pesta dimulai.

“Pesta segera dimulai! “ teriak ketua monster tersebut, kakek dalam lubang mendengar teriakan tersebut segera membungkus kepalanya dengan kain, sambil mengerakan kaki dan tangannya dengan kaku menari ke luar dari lubang, gerakan tariannya sangat kaku dan jelek.

“Berhenti! Berhenti! Melihat gerakan tarianmu yang begitu kaku dan jelek, membuat kami kehilangan selera berpesta dan anggur menjadi tidak enak, sungguh jelek!” ketua monster tersebut berteriak dengan marah sambil menghentikan gerakan tarian kakek yang kaku tersebut. “Nih! Kukembalikan barang jelek ini padamu, dan jangan sekali-kali muncul di depan kami lagi.”

Dengan sangat marah ketua monster berteriak kepada kakek yang jahat ini sambil melemparkan daging pipi kakek yang baik hati ke pipi sebelah kiri kakek yang jahat ini.

“Cepat kamu pergi!” teriak ketua monster sambil menyepak pantat kakek jahat ini sampai menggelinding turun dari gunung.

Sekarang kedua pipinya ditumbuhi daging dan kepalanya juga benjol-benjol karena menggelinding dari atas gunung, dia sangat menyesal karena memang tidak bisa menari, dan karena ketamakan hatinya maka dia menjadi seperti ini, dia sangat malu dengan perbuatannya.

Walaupun kakek jahat ini merasa sangat menyesal asal perbuatannya, tetapi semua kejadian tidak dapat diulang lagi, maka dengan sembunyi-sembunyi dia lari pulang ke rumahnya takut bertemu dengan para penduduk kampung dia menyembunyikan dirinya di dalam rumah.

Kakek yang baik hati mengetahui kejadian yang menimpa dia, datang berkunjung sambil membawa nasi dan lauk pauk. “Aku sangat menyesal! Karena semua kejadian aku yang memulai membuat engkau sangat menderita, maafkan aku ya!” kata kakek yang baik hati ini.

Ketika kakek yang jahat mendengar kakek yang baik berkata demikian, dalam hati dia merasa sangat malu dan menyesal, karena dia sudah benar-benar kelaparan, dengan melahap nasi dan lauk pauk yang dibawa oleh kakek yang baik hati ini.

Kejadian aneh terjadi ketika dia melahap makanan tersebut dia merasakan daging di pipi kanannya terlepas dari pipinya, dan ketika dia melahap makanan kedua kalinya dia merasakan daging di pipi kirinya juga sudah terlepas. Kakek yang baik hati setelah melihat kejadian ajaib ini juga sangat gembira.

Setelah kejadian ini kakek yang jahat tersebut mulai sadar, sejak itu dia berubah menjadi tidak tamak dan tidak iri hati kepada orang lain dan mulai ramah terhadap setiap orang dan rajin bekerja, sehingga dia berubah menjadi seorang yang bahagia.

Demikian juga penduduk kampung ini yang semula sangat malas berubah menjadi rajin dan ramah sehingga seluruh kehidupan penduduk kampung ini berubah menjadi makmur dan berbahagia selalu.

04 November 2011

Calon Raja

Ada sebuah kerajaan yang besar dan amat makmur. Negeri ini dipimpin oleh Raja tua yang adil bijaksana, seluruh rakyat sangat mencintainya. Namun sayangnya Raja tua ini tidak dikarunia seorang putra mahkota.

Suatu hari Raja tua ini berkata kepada perdana menterinya, “Saya sudah terlampau tua untuk terus memerintah.”

Melihat gelagat ini, sang Perdana Menteri segera menghibur, “Baginda tidak perlu cemas, anda masih kelihatan sehat, lagipula siapa yang mampu memimpin negeri ini dengan adil dan bijaksana seperti Baginda?”

Tetapi Raja tua lebih tahu kondisi dirinya sendiri tak menanggapi ucapan perdana menterinya itu. Dia lalu berkata, “Saya tidak mempunyai seorang putra mahkota untuk menggantikan saya. Oleh karena itu saya ingin mencari seorang anak yang dapat dididik untuk menjadi penggantiku.”

Perdana menteri segera berkata,”Tapi Baginda….. hal itu tidaklah mudah.” Dengan tersenyum Raja tua itu mengatakan bahwa dia tahu caranya.

Keesokan harinya Raja tua meminta perdana menteri untuk mengumpulkan rakyat di istana, karena Raja ingin menyampaikan sebuah sayembara untuk mencari penerus tahtanya.

Tak seberapa lama rakyat sudah berkumpul di istana, mereka sangat ingin tahu sayembara apa gerangan yang ingin disampaikan sang Raja bijak itu.

“Besok pukul 10 pagi saya akan memberikan kepada setiap anak-anak di seluruh negeri, satu biji bunga. Barang siapa yang bisa menghasilkan bunga paling indah, maka saya akan mendidiknya untuk menjadi putra mahkota kerajaan ini. Kelak dialah yang akan menggantikanku.”

Pagi-pagi sekali, para orang tua yang membawa anak-anaknya sudah berkumpul di lapangan istana. Mereka sudah tidak sabar ingin segera mendapatkan biji bunga itu.

Tepat pukul 10 pagi, setiap anak-anak bergilir naik ke podium raja untuk menerima pemberian biji bunga dari Raja tua. Masing-masing anak telah dibekali satu pot berisi tanah humus untuk ditanami biji tersebut.

Setelah semua anak mendapatkan biji tersebut, Raja tua itu berkata,”Dua bulan lagi, bawalah bunga ini ke istana. Siapa yang memiliki bunga paling indah dialah pemenangnya.”

Sementara itu, hidup seorang anak yatim. Dia tinggal di sebuah rumah sederhana bersama ibunya. Anak yatim itu adalah anak yang jujur dan rajin, semua teman-temannya menyukainya.

Setelah menerima biji bunga dari raja, dengan rajin anak yatim itu merawat biji bunga itu.

Setiap hari dia tidak pernah lupa menyiraminya. Namun dua minggu telah berlalu, tak tampak tanda-tanda biji bunga itu akan bertunas.

Anak yatim itu semakin heran dan sedih ketika teman-teman di sekolahnya, membicarakan biji bunga mereka sudah mulai bertunas, bahkan mulai terlihat akan menghasilkan bunga berwarna apa.

Teman sekolahnya pun menyarankan agar lebih banyak lagi menyiram air dan memberikan sinar matahari.

Sepulang sekolah, anak yatim itu bercerita kepada ibunya tentang bibit bunga milik teman-temannya yang sudah bertunas dan mulai tampak warna bunganya.

Ibunya menghibur, ”Anakku, jangan sedih. Coba lihat beberapa hari lagi. Kamu begitu teliti merawatnya, kamu sudah berusaha sekuat tenaga.”

Tepat dua bulan pada hari yang telah ditentukan, tibalah saatnya pemilihan bunga yang paling indah.

Anak-anak dari pelosok negeri sudah berbaris rapi di depan istana sambil membawa pot berisi bunga beraneka macam warna yang indah bentuknya. Pemandangan di depan istana hari ini sungguh menyedapkan mata.

Sang perdana menteri melihat begitu banyak bunga yang indah, bahkan hampir semuanya indah, sehingga dia berpikir bahwa Raja pasti akan kesulitan menentukan pemenangnya.

Tetapi ternyata Raja tua itu tidak begitu berminat membandingkan bunga mana yang terindah, sang Raja terus berjalan mengitari anak-anak tersebut dengan sesekali bergumam.

Pada saat semua orang sedang berharap cemas menanti keputusan Raja, datanglah seorang anak dengan ditemani ibunya.

Ya, dialah si anak yatim, tampaknya dia datang terlambat. Saat melintasinya, tiba-tiba Raja tua berhenti dihadapan si anak yatim.

Dengan wajah heran Raja tua itu bertanya kepada Song jin,” Anakku, mengapa kau datang terlambat dan hanya membawa pot berisi tanah kemari?”

Si anak yatim menjawab dengan agak takut-takut, “Mohon maaf Baginda Raja, hamba terlambat karena ragu-ragu untuk menunjukkan biji bunga milik hamba yang tidak bisa bertunas dan tumbuh seperti biji bunga milik teman-teman lain. Padahal hamba sudah merawatnya setiap hari. Pada mulanya hamba berencana untuk tidak hadir. Tetapi karena dorongan ibu hamba, akhirnya hamba memutuskan untuk hadir. Karena bagaimanapun juga inilah hasil hamba selama 2 bulan ini.” Seraya menyodorkan pot berisi tanah itu kepada Raja tua.

Mendengar pengakuan polos dari si anak yatim itu, banyak orang yang menertawakannya.

Namun sang Raja tua itu tersenyum puas dan berkata, “Tadi setelah melihat semua bunga-bunga ini, saya mengira bakal gagal menemukan penggantiku. Tapi ternyata sekarang, saya telah menemukannya.” Semua orang yang hadir di situ pun menjadi heran mendengar pernyataan raja tua ini.

“Tapi..tapi bukankah Baginda Raja mengatakan akan memilih siapa yang bisa menghasilkan bunga yang paling indah?”, sahut beberapa orang tua yang ada disana.

Raja tua tertawa dan berkata,”Memang benar saya telah berkata begitu, tetapi itu hanyalah untuk menguji calon penerusku. Sesungguhnya mana bisa menentukan penerus kerajaan hanya dengan menggunakan sayembara bunga terindah seperti ini. Yang saya cari dalam kontes ini adalah kejujuran hati.”

“Lantas mengapa Baginda memilih anak itu? Apakah anak yang lain tidak jujur semua?” tanya mereka.

“Tanyakan saja kepada mereka sendiri”, sahut Raja tua sambil tersenyum.

Anak-anak yang lain pun hanya menunduk memandangi bunga-bunga indah mereka. ”Sesungguhnya, biji-biji bunga itu telah terlebih dahulu saya rebus dalam kuali. Jadi mana mungkin dapat bertunas dan berbunga? Hanya anak yatim inilah yang benar-benar menunjukkan hasil dari biji bungaku dulu. Jadi bukankah dia anak yang paling jujur dan dapat dipercaya? Bukankah pantas, jika dia yang menjadi penerus tahta kerajaan ini?”

Para orang tua yang hadir merasa malu akan perbuatan mereka. Diam-diam mereka mengagumi kebijakan Raja tua dalam hati. Semua orang pun akhirnya bersorak gembira menyambut pewaris tahta kerajaan yang baru.
_____________________________________________

Sebagai calon pemimpin bangsa masa depan, kejujuran hati adalah hal utama yang harus dipegang teguh. Negara makmur dan sejahtera ditentukan oleh pemimpin-pemimpin yang jujur. Bukankah kita semua ingin negara kita menjadi negara yang besar dan kuat?

01 November 2011

Anak yang berbakti pada Ibu

Dahulu kala tinggallah seorang anak muda bersama ibunya yang buta. Karena menderita sakit, maka ibunya hanya bisa berbaring di atas ranjang sepanjang tahun.

Musim dingin pada bulan Desember tahun itu, salju sedang beterbangan turun, ibunya sudah beberapa hari berturut-turut tidak makan. Anak muda yang sangat mencemaskan ibunya itu lalu bertanya, “Ibu, makanan apa yang ibu inginkan?”

Ibunya memahami keadaannya yang sangat miskin, dia sendiri sepanjang tahun hanya bisa berbaring di atas ranjang yang malah akan memperberat tanggungan keluarga. Kali ini dia sudah membulatkan tekad tidak makan dan minum dan menunggu ajal tiba.

Sang anak sangat cemas, ia berharap ibunya bisa makan sedikit, walaupun itu hanya sedikit bubur tajin untuk menyelamatkan nyawa ibunya dari maut.

Ibunya juga mengetahui di saat musim dingin seperti ini, permukaan sungai pun sudah beku menjadi es, bagaimanapun juga anaknya tidak akan bisa menyulap seekor ikan untuk dimakan. Agar anaknya tetap di rumah dan tidak pergi ke mana-mana, dengan nada yang tidak bersungguh-sungguh dia berkata bahwa dia ingin makan ikan.

Pemuda ini adalah seorang yang sangat berbakti. Dia mengira ibunya benar-benar ingin makan ikan, dia sangat girang sekali, dia pun beranggapan kali ini ibunya pasti akan tertolong.

Tetapi saat dia menengok keluar rumah, di luar hanyalah terlihat hamparan salju yang putih, angin sedang bertiup menderu-deru. Si pemuda kembali khawatir, ia tidak tahu harus kemana untuk mencari ikan, salju telah membekukan semua sungai menjadi es.

Tetapi karena sangat ingin menolong ibunya, dengan membulatkan tekad, pemuda itu meminta ibunya untuk me-nunggu, dan dia pun berlari menerjang keluar menuju ke sungai yang berada di dekat rumahnya.

Pemandangan yang ada di depan matanya saat itu hanyalah permukaan sungai yang tertutup oleh salju dan es yang sangat tebal. Mustahil untuk mendapatkan ikan dalam kondisi seperti ini.

Hatinya pun gelisah. Tapi dia sangat ingin sekali memenuhi keinginan ibunya. Dia lalu berdoa kepada Tuhan agar membantu untuk menolong ibunya. Kemudian, dia membuka baju dan menggunakan panas tubuhnya yang sangat lemah itu untuk mencairkan permukaan sungai yang sangat dingin menusuk tulang itu.

Dapat dikatakan apa yang terjadi kemudian sungguh aneh. Mungkin berkat ketulusan hati si pemuda itu sehingga doanya membuahkan hasil. Secara ajaib salju dan es yang menutupi permukaan sungai itu sebagian mencair dengan cepat. Mendadak seekor ikan segar melompat keluar ke atas permukaan es.

Pemuda itu menjadi girang dan ia sangat bersyukur kepada Tuhan, serta berterima kasih kepada ikan itu. Seumur hidupnya dia tidak pernah membunuh, saat itu dia memegang ikan itu dan berkata, “Saya sebenarnya tidak ingin melukaimu, saya hanya ingin menolong ibu, terpaksa saya harus mengambil dagingmu sedikit.”

Si pemuda hanya mengambil daging ikan itu dari satu sisi saja dan tidak melukai organ dalam ikan itu, lalu ikan itu dia lepaskan kembali ke dalam sungai.

Malam itu, si pemuda segera memasak dan menyuapi ibunya yang sekarat dengan sup ikan yang lezat itu. Sangat ajaib, setelah minum sup ikan itu tubuh ibunya kian hari kian membaik dan penglihatannya pun berangsur-angsur pulih.
_______________________________________

Apa yang bisa kita petik dari cerita di atas?

Suatu niat dan kelakuan yang begitu agung, sungguh telah menggetarkan dan mengharukan langit dan bumi, akhirnya ia akan mendapatkan balasan dengan apa yang disebut keajaiban oleh manusia. Meskipun banyak orang tidak mempercayainya, tetapi keajaiban ini benar-benar pernah dialami oleh orang-orang tertentu.

Ada orang yang telah divonis oleh dokter bahwa sakitnya sudah tidak dapat disembuhkan, tetapi akhirnya ia mendapatkan kesembuhan yang tak terduga; ada yang sedang dalam kesulitan keuangan untuk membayar uang masuk sekolah anaknya, tiba-tiba mendapatkan rejeki senilai persis yang diperlukan untuk keperluan sekolah anaknya, dan lain-lain kejadian lagi.

Semua hal-hal mengharukan ini sebenarnya menandakan apa? Tak lain dan tak bukan adalah untuk mengingatkan manusia bahwa Sang Pencipta senantiasa tahu akan perilaku, hati dan pikiran setiap insan-Nya!

Ada orang merasa telah menjadi orang baik, tetapi mengapa malang nasibnya?

Sesungguhnya, orang yang benar-benar baik, ia tidak akan mengeluh terhadap nasibnya. Ia akan sepenuhnya menyadari bahwa Yang Kuasa adalah Maha Belas Kasih, tentu telah mengatur nasibnya sedemikian rupa adalah untuk kebaikannya juga. Sang Pencipta tentu punya maksud-maksud lain yang tidak kita pahami.

Orang yang menganggap dirinya sendiri orang baik, apakah benar-benar baik? Dia mungkin ramah kepada semua orang, tetapi apakah hatinya tidak dipenuhi dengan kedengkian, dan apakah pikirannya benar-benar bersih dari hal-hal yang kotor dan jahat? Lagi pula dengan mengeluh, bukankah itu berarti dia sedang menyalahkan Sang Pencipta?

28 Oktober 2011

Ujian Hakim

Suatu ketika ada seorang penulis yang terampil dan cukup pintar.

Dia mengikuti ujian di pengadilan tapi gagal.

Sambil berdiri ditempat pengumuman dia memaki-maki para hakim yang mengeluarkan hasil ujian itu, merasa para hakim tidak bisa mengenali dia yang memiliki bakat.

Bersamaan saat itu, ada seorang bijak lewat dan mendengarnya.

Sambil tersenyum Dia berkata, “ Saya bisa memastikan bahwa tulisan Anda sangatlah buruk,”

Mendengar itu, sang penulis terampil itu kemudian melampiaskan kemarahannya pada orang bijak itu.
“ Mengapa menertawakan tulisanku, Anda belum membacanya bagaimana bisa tahu kalau itu buruk? “

Orang bijak itu menjawab, “ Kunci untuk menulis adalah hati harus tenang dan terus menjaganya untuk tetap tenang. Sekarang Anda memaki-maki Hakim dan sangat marah, bagaimana bisa menghasikan karya yang baik? “

Sang penulis terampil sangat terkejut dan menyadari kesalahanya, akhirnya dia meminta bantuan kepada orang bijak itu.

“Tulisan tentu harus baik, tapi jika ditakdirkan untuk gagal, keterampilan sebaik apapun tidak akan membantu Anda, Jalan terbaik adalah mengubah sikap dan perilaku,” jelas orang bijak itu.

Kemudian sang penulis terampil bertanya, “ Bagaimana cara untuk mengubahnya? ”

Orang bijak itu menjawab, “ Jika mengikuti ajaran Sang Pencipta dan melakukan perbuatan baik, apa yang tidak bisa Anda dapatkan? “

Sang penulis terampil sambil mendesah berkata, “Saya hanya seorang sarjana miskin. Dimana bisa menemukan cukup uang untuk melakukan perbuatan baik? “

Orang bijak itu menjawab, “Jadilah orang yang penuh belas kasih dan mengultivasi sifat baik, Hal yang paling penting adalah hati. Setiap saat menanamkan kebaikan dalam hati. Rendah hati dan selalu siap membantu orang lain dengan hati yang benar-benar tulus. Ikuti ajaran Tuhan, orang tidak perlu uang untuk melakukan perbuatan baik. Mengapa tidak sebaiknya intropeksi diri daripada memaki hakim tersebut.”

Sejak saat itu sang penulis terampil sangat baik pada semua orang dan ketat mematut dirinya. Berkultivasi kebaikan dan menjadi orang yang bermoral tinggi.

Dia mendirikan sekolah, menghimbau penduduk untuk bersekolah. Mengajar tiap orang tidak melakukan perbuatan menyimpang dan melakukan perbuatan baik tak peduli betapa kecil situasinya. Dia sangat dipuji oleh penduduk.

Tiga tahun berlalu, sang penulis terampil mencoba kembali ikut ujian. Dan dia lulus ujian pengadilan.

Dia tetap rendah hati, dan terus membantu orang yang membutuhkan.
___________________________________________

Semoga tulisan ini dapat menumbuhkan moral bagi penerus bangsa.

SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA

25 Oktober 2011

Ayam Jago yang sombong

Ada dua ayam jago tinggal di peternakan yang sama, mereka tidak tahan melihat satu sama lain. Akhirnya suatu hari mereka berkelahi habis-habisan menggunakan paruh dan cakar. Mereka bertarung sampai salah satu dari mereka kalah, kesakitan dan merangkak ke sudut untuk bersembunyi.

Ayam jago yang telah memenangkan pertarungan terbang ke atas kandang dan dengan bangga mengepakkan sayap, berkokok dengan sekuat tenaga untuk memberitahu dunia tentang kemenangannya.

Tapi seekor elang berputar di atas, tertarik akan keangkuhan sang jagoan dan menukik ke bawah mengangkat ayam jago itu, dibawa pergi ke sarang elang.



Lawannya melihat kejadian itu dan keluar dari pojok, akhirnya keluar sebagai penguasa peternakan tersebut.

Moral cerita: "Kesombongan membawa malapetaka"

22 Oktober 2011

Srigala yang egois

Di tengah sungai ada sebuah pulau kecil, diatas pulau tumbuh sebatang pohon buah pir yang sedang berbuah sangat ranum, buahnya banyak sekali.

Srigala ingin memakan buah pir, tetapi tidak bisa menyeberangi sungai.

Monyet juga ingin memakan buah pir, tetapi juga tidak bisa menyeberangi sungai.

Monyet dan srigala kemudian berembuk, akan membuat sebuah jembatan menyeberangi sungai dan memetik buah pir kemudian dibagi rata.

Monyet dan srigala bekerja sama dengan sekuat tenaga mereka mengambil sebatang pohon diletakkan antara pinggir sungai dan pulau kecil membuat sebuah jembatan kecil yang hanya bisa diseberangi satu orang saja.

Jembatan ini sangat kecil, tidak mungkin pada saat bersamaan diseberangi dua orang,

Srigala berkata kepada monyet, “Saya pergi keseberang lebih dahulu, kemudian engkau menyusul.”

Srigala segera menyeberangi jembatan sampai dipulau, sifat licik srigala segera timbul dia ingin sendirian menguasai buah pir, lalu dia membuang jembatan kayu kedalam sungai.

Srigala dengan licik tertawa sambil berkata kepada monyet, “Nyet, pulanglah ke rumahmu, engkau tidak punya kesempatan memakan buah pir ini.”

Mendengar dan melihat perbuatan srigala yang licik, monyet sangat marah, tetapi dia segera sadar dengan tertawa terbahak-bahak dia berkata,” ha…ha..ha.. Srigala licik memang engkau dapat memakan habis semua buah pir ini, tetapi engkau selamanya tidak bisa kembali kesini lagi!”

Setelah mendengar perkataannya, srigala berubah menjadi panik, lalu dengan memohon dia berkata kepada monyet, “monyet yang baik, kita berdua adalah sahabat, tolong carikan akal supaya saya dapat kembali kesana!”

Monyet tanpa menjawab membalikkan badan meninggalkan srigala sendirian dipulau itu.

______________________________

Moral cerita: orang yang egois selalu menganggap dirinya lebih pintar dari orang lain, selalu mencari kesempatan mengambil lebih banyak keuntungan dari orang lain, mereka tidak menyadari keegoisan mereka malahan dapat merugikan diri sendiri, ingin menyakiti orang lain akhirnya diri sendiri yang disakiti.

19 Oktober 2011

Antri dong..

Pada jam makan siang, di pujasera sangat ramai, semua orang antri membeli makan siang, Jack berada disebuah kedai mie dia berada di barisan yang antri sangat panjang, orang yang mengantri semakin lama semakin banyak, kelihatannya sama sekali tidak bergerak.

Ada seorang gadis cantik yang memakai baju seragam, tiba-tiba masuk ke depan antrian itu karena pemuda yang mengantri didepan Jack melihatnya lalu mengajaknya masuk kebarisan antriannya.

Barisan orang-orang yang antri segera memprotes, semua pandangan mata ditujukan ke gadis ini, Jack juga kehilangan kesabarannya, dengan ketus berkata kepada gadis ini, “Hai Nona, waktu sangat berharga bagi setiap orang, silahkan antri dibelakang!”

Pemuda yang menarik gadis ini membalikkan badan memelototi Jack sambil berkata, “Tolong, jangan ikut campur!” lalu membalikkan kembali badannya bercanda dengan gadis ini.

Menghadapi keadaan demikian, Jack hanya bisa menghela nafasnya, dengan tidak sabaran menggelengkan kepalanya.

Barisan antri berjalan dengan perlahan, tiba-tiba ada seseorang menyapa Jack, “Jack, tolong saya ingin segera membeli 1 mangkok mie, waktu rapat sudah sangat mendesak, tidak ada waktu mengantri!

Ketika Jack menoleh kepalanya melihat rupanya bosnya, ia mempersilakan bosnya menggantikan posisinya, sedangkan diri sendiri berjalan ke bagian belakang barisan mulai antri.

Ketika Jack sudah berada dibarisan belakang sedang mengantri, matanya memandang ke depan, gadis cantik yang tadi berada didepannya pergi meninggalkan dari antrian karena malu.

_________________________________

Untuk membuat orang lain menyadari kesalahannya, dikatakan gampang juga tidak gampang. Orang selalu berkata, contoh diri yang baik mempunyai kekuatan yang sangat besar, mempratekkan dan melakukan langsung lebih ampuh dari hanya ngomong saja, dapat langsung menyentuh ke hati orang lain.

16 Oktober 2011

Pingsan gara-gara Nyamuk

Ada seorang tukang cuci yang gundul.

Pada suatu hari dia membawa anaknya pergi ke sungai mencuci pakaian, setelah sampai di pinggir sungai mulai mencuci pakaian, setelah mencuci habis semua pakaian sudah tengah hari, mereka berdua lalu berkemas-kemas hendak pulang ke rumah.

Pada saat itu adalah musim panas, di tengah hari matahari sangat terik, karena telah bekerja mencuci pakaian setengah hari, kedua tangannya menjadi pegal, kakinya menjadi lemas, pinggangnya sakit, tubuhnya terasa lelah semuanya.

Ditambah musim panas matahari sangat terik, membuat seluruh pakaiannya basah kuyup oleh keringat, lalu dia mencari sebatang pohon yang rindang, menghamparkan plastik tempat pakaian diatas tanah dibawah pohon merebahkan tubuhnya yang lelah ingin beristirahat sebentar, angin sepoi-sepoi membuat dia segera tertidur nyenyak.

Karena musim panas banyak nyamuk berkeliaran, ada seekor nyamuk terbang kearahnya, hinggap diatas kepalanya yang gundul mulai menggigit dan mengisap darahnya.

Anaknya sangat menyayangai orang tuanya, dia adalah seorang pemuda yang sangat berbakti, pada saat ini dia melihat nyamuk tersebut menggigit dan mengisap darah bapaknya, dia menjadi marah, dengan telunjuknya dia menunjuk kepada nyamuk dan memaki, “Hai bajingan busuk, engkau sungguh berani menggigit dan mengisap darah bapakku, aku akan menghajar engkau!”

Dia bermaksud memukul nyamuk itu dengan tangannya, tetapi kemudian berubah pikiran: memakai tangan memukul sangat ringan, menguntungkan nyamuk ini! Sambil berpikir demikian lalu dia mengambil kayu untuk mencuci pakaian, membidik dengan tepat nyamuk yang berada diatas kepala bapaknya, mengangkat kayu dengan sekuat tenaga memukul ke arah nyamuk ini.

Akhirnya nyamuk ini segera terbang, tidak kena, tetapi bapaknya karena kepalanya dipukul dengan sekuat tenaga dengan kayu pingsan seketika.

____________________

Memukul nyamuk cukup dengan telapak tangan, hasilnya sudah pasti akan kena sasaran, dengan kayu malahan hasilnya akan meleset.

Oleh sebab itu ketika kita membuat sebuah keputusan melaksanakan sebuah hal, bukan dengan kekerasan dapat menyelesaikan persoalan, kita harus dengan bijaksana melihat masalah dan mencari jalan yang paling aman menyelesaikan masalah tersebut.

13 Oktober 2011

Rubah Penghianat

Seekor Keledai dan seekor Rubah telah menjadi sahabat dekat sejak lama, dan sering sekali terlihat berduaan.

Suatu hari sepasang binatang itu secara tidak sengaja bertemu seekor Singa. Keledai sangat ketakutan, tetapi Rubah menenangkannya.

“Aku akan berbicara dengannya,” kata Rubah.

Kemudian Rubah berjalan dengan gagah menemui Singa.

“Yang Mulia,” Rubah mengatakannya dengan nada yang rendah, agar Keledai tidak dapat mendengarkannya.

“Aku mendapatkan sebuah rencana yang bagus di dalam pikiranku. Jika Yang Mulia berjanji tidak akan menyakitiku, aku akan membawa binatang bodoh itu ke arah sana ke dalam sebuah lubang dimana dia tidak dapat keluar, dan Yang Mulia akan dapat memuaskan nafsu makan Yang Mulia.”

Singa setuju dan membiarkan Rubah kembali ke Keledai.

“Aku telah membuat sebuah perjanjian dengan dia agar tidak menyakiti kita,” kata Rubah. “ Tetapi ikutilah aku, aku tahu sebuah tempat yang bagus untuk bersembunyi sampai dia pergi.”

Lalu Rubah membawa Keledai masuk ke sebuah lubang yang sangat dalam. Tetapi ketika Singa sudah yakin bahwa Keledai telah menjadi miliknya dan siap untuk dilahap, dia malahan menyerang dan memakan Rubah Penghianat terlebih dahulu.

Moral cerita: ‘Penghianat akan dibalas dengan penghianatan juga’

10 Oktober 2011

Rantai Kehidupan

Ada seorang pertapa, ia hanya membawa sehelai kain, lalu naik ke gunung untuk bertapa.

Ketika dia hendak mencuci pakaian dia memerlukan sehelai kain yang lain sebagai pengganti, akhirnya dia turun gunung meminta sehelai kain kepada penduduk desa.

Penduduk desa sudah mengenalnya sebagai seorang pertapa, tanpa banyak bertanya mereka memberinya sehelai kain sebagai pakaian pengganti.

Ketika pertapa ini sampai di gubuknya di atas gunung, dia melihat seekor tikus. Tikus ini sering datang mengganggunya ketika dia sedang bermeditasi, mengigit pakaian penggantinya.

Karena dia telah bersumpah seumur hidupnya tidak akan membunuh mahluk hidup, oleh sebab itu dia tidak menyakiti tikus ini, tetapi dia tidak mempunyai cara mengusir tikus ini, akhirnya dia turun ke gunung meminta seekor kucing untuk dipelihara.

Setelah dia memelihara kucing tersebut, lalu dia berpikir, “Apa yang harus dia makan? Saya tidak ingin dia memangsa tikus tersebut, tetapi tidak mungkin dia seperti saya hanya memakan buah dan sayuran saja.“

Akhirnya dia pergi lagi ke desa meminta seekor lembu betina, sehingga kucing ini bisa meminum susu lembu.

Tetapi setelah beberapa lama berada di atas gunung, dia merasa dia telah membuang terlalu banyak waktu untuk memelihara lembu betina ini.

Akhirnya dia turun gunung lagi pergi ke desa, mencari seorang gelandangan yang sangat miskin, dia lalu membawa gelandangan yang tidak mempunyai rumah ini naik ke gunung tinggal bersamanya dan menyuruh dia mengurus lembu betinanya.

Gelandangan ini setelah beberapa lama tinggal di atas gunung lalu mengeluh kepada pertapa.

“Saya tidak sama dengan engkau, saya memerlukan seorang istri, saya memerlukan kehidupan berkeluarga seperti orang biasa,” ujar gelandangan itu.

Pertapa ini setelah mendengar keluhan itu, merasa benar juga tidak mungkin gelandangan ini akan seperti dia hanya bertapa.

Setelah tahun-tahun berlalu, semakin banyak hal yang harus dipenuhi, semakin banyak hal yang harus dilengkapi, akhirnya di atas gunung itu sudah jadi sebuah desa.

__________________________

Cerita ini sebenarnya terjadi di dalam kehidupan kita semua, timbulnya keinginan bagaikan sebuah mata rantai, dia akan merantai kita terus menerus, selamanya tidak ada kepuasan.

Hal yang paling menyedihkan adalah manusia selalu mencari alasan yang tidak masuk akal untuk memenuhi keinginannya.

07 Oktober 2011

Bertemu Bunda Maria

Pada suatu pagi di musim dingin, banyak orang yang berjalan menuju suatu tempat, mereka semua mendengar bahwa tempat tersebut akan dikunjungi Bunda Maria.

Dalam perjalanan menuju ketempat tersebut, terlihat semua orang sibuk saling mengejar berjalan didepan supaya dapat duluan sampai ketempat tersebut mereka mempunyai alasan yang pertama ingin cepat-cepat melihat Bunda Maria, yang kedua adalah mengungkapkan ketulusan hati mereka.

Diantara orang ramai ini, ada seorang bapak-bapak yang separuh baya, dia adalah seorang guru di sebuah sekolah dasar, dia sangat menghormati Bunda Maria.

Ditengah jalan dia melihat ada seorang nenek tua. Nenek tua tersebut bajunya compang camping, tidak tahu apa sebabnya, mungkin karena terlalu lapar atau alasan yang lain, tergeletak ditepi jalan.

Kelihatannya sudah banyak orang yang mengetahui keadaan nenek malang tersebut, karena didekatnya terdapat uang dan makanan yang menumpuk. Tetapi tidak ada seorangpun berhenti bertanya kepadanya bagaimana keadaannya? tidak ada seorangpun yang berusaha menolong nenek yang malang ini, karena mereka semua sibuk melanjutkan perjalanan ingin bertemu dengan Bunda Maria.

Hanya bapak paruh baya ini, melihat keadaan bahaya yang menimpa nenek malang ini, dia berhenti lalu memapah nenek ini sambil mengambil mantelnya dipakai ke tubuh nenek malang ini.

Kemudian dia bertanya kepada orang yang lewat sebentar, dan memikul nenek tersebut melalui sebuah jalan kecil didesa ini menuju ke puskesmas mencari pengobatan untuk nenek malang ini.

Sambil memangkul nenek ini dia berjalan dijalan yang tidak rata , berusaha dengan cepat dengan susah payah, pada saat ini dia sama sekali tidak ingat tujuan sebenarnya ingin bertemu ke Bunda Maria.

Dia hanya ingin dengan cepat menyelamatkan nenek ini, akhirnya disebuah jalan yang sepi, nenek ini tiba-tiba berkata, “Anak baik, berhenti disini saja, tolong turunkan saya, sekarang saya merasa sudah baikan!”.

Dengan hati-hati dia menurunkan nenek ini dari punggungnya sambil membalikkan badannya melihat keadaan nenek ini, dia menjadi tertegun- nenek yang tadinya bajunya compang camping kelihatannya tua, lemah dan sakit-sakitan, pada saat ini kelihatan wajah yang anggun dan welas asih.

Seketika itu dia tidak bisa mengucapkan sepatah katapun, tetapi didalam hatinya segera mengerti keadaan yang terjadi di depan matanya…

Bunda Maria berkata kepadanya, orang yang benar-benar ingin bertemu dengan-Nya bukan dengan perkataan atau gerakan mereka, tetapi adalah orang yang seperti kamu dengan hati yang berbelas kasih, cinta kasih dan tulus hati yang benar-benar keluar dari hati nuraninya.

Siapapun tidak menyangka, selain pria paruh baya ini yang dengan susah payah tanpa memperdulikankan keadaannya menyelamatkan seorang nenek yang tidak dikenal yang akhirnya hanya dia sendiri yang benar-benar bertemu dengan Bunda Maria sedangkan mereka semua yang bergegas pergi ingin bertemu dengan Bunda Maria akhirnya mereka sama sekali tidak bertemu dengan Bunda Maria yang sebenarnya.

26 September 2011

Jadilah singa yang menyisakan makanan untuk orang lain

Ada seseorang melihat ada seekor serigala yang tidak punya kaki.

Walaupun serigala ini tidak mempunyai kaki, tetapi kelihatan serigala ini sangat gemuk dan sehat, kelihatannya dia tidak kekurangan makanan.

Dia merasa sangat heran :”seekor srigala tanpa kaki bagaimana dapat hidup dihutan belantara dan memburu mangsa untuk makanannya?

Kemudian, dia melihat seekor singa menggigit seekor rusa. Dengan sangat rakus dan tergesa-gesa singa ini mengerogoti mangsanya, lalu setelah perutnya kenyang, berlalu dari tempat itu: lalu baru kemudian serigala ini memakan remah-remah daging rusa yang ditinggalkan singa itu, dengan demikian dia mengisi perutnya sampai kenyang.

Keesokan harinya, kejadian ini berulang kembali.

Rupanya setiap hari srigala ini mempertahankan hidupnya dari bekas sisa-sisa makanan singa.

Ketika orang ini melihat kejadian ini, merasa Tuhan sangat adil dan berbelas kasih, terhadap seekor srigala tanpa kaki saja sudah diatur santapan yang dapat mengenyangkan perut setiap hari.

Oleh sebab itu, mulai saat ini orang tersebut tidak mengerjakan pekerjaan apapun lagi, menunggu Tuhan memberi dia makan.

Sesudah beberapa hari berlalu, Tuhan tidak memberi dia sebutir beras, teman dan saudaranya juga tidak datang menanyakan keadaannya, akhirnya dia menjadi kurus kering, pada saat dia merasa sangat lapar.

Suatu saat dia mendengar sebuah suara yang berkata :
”Manusia! Engkau seharusnya seperti seekor singa itu menyisakan makanan untuk orang lain, kenapa harus sama dengan srigala yang tergantung kepada orang lain, menunggu belas kasihan orang lain memakan sisa makanan dari orang lain?

Selagi muda mempunyai tenaga harus bekerja dengan giat mencari makan dan membagi kepada orang lain, jangan hanya bermalas-malas menunggu belas kasihan dari orang lain, orang bijak harus giat bekerja untuk menghidupkan diri sendiri dengan begitu kehidupan yang dijalani akan berarti.

Hanya orang bodoh yang menunggu belas kasihan dan pemberian orang lain untuk kelangsungan hidupnya membuat dia menjadi orang yang tidak berguna dan diremehkan orang lain."

23 September 2011

Anjing, Ayam, dan Rubah

Seekor anjing dan seekor ayam jantan yang berteman akrab, berharap bahwa satu saat mereka akan dapat berkeliling dunia dan menemukan petualangan baru. Sehingga mereka kemudian memutuskan untuk meninggalkan tanah pertanian dan melakukan perjalanan keliling dunia melalului sebuah jalan yang menuju ke hutan.

Kedua sahabat itu berjalan bersama dengan semangat dan tidak bertemu dengan petualangan yang mereka sering bicarakan.

Pada malam hari, ayam jantan, mencari tempat untuk bertengger seperti kebiasaannya, dia melihat sebuah pohon yang berlubang dan dipikirnya pohon tersebut sangat baik untuk dijadikan tempat menginap.

Sang anjing dapat menyelinap ke dalam lubang pohon tersebut dan sang ayam dapat terbang ke atas salah satu dahan pohon tersebut. Keduanya lalu tertidur dengan nyenyak di pohon tersebut.

Disaat fajar mulai menyingsing, ayam jantan tersebut terbangun dan sejenak dia lupa dimana dia berada. Dia mengira dirinya masih di tanah pertanian dimana tugasnya adalah membangunkan seisi rumah pada pagi hari.

Sekarang dengan berdiri diatas jari kakinya, dia mengepakkan sayapnya dan berkokok dengan semangat.

Tetapi bukannya petani yang terbangun mendengar dia berkokok melainkan dia membangunkan seekor rubah yang tidur tidak jauh dari pohon tersebut.

Rubah tersebut dengan cepat melihat ke arah ayam tersebut dan berpikir bahwa dia mendapatkan sarapan pagi yang sangat lezat.

Dengan cepat dia mendekati pohon dimana ayam jantan bertengger, dan berkata dengan sopan:

"Selamat datang di hutan kami, tuanku yang agung. Saya tidak dapat berbicara bagaimana senangnya saya bertemu dengan anda di tempat ini. Saya merasa yakin bahwa kita akan menjadi teman baik."

"Saya merasa tersanjung, tuan yang baik." kata ayam jantan tersebut dengan malu-malu. "Jika kamu memang mau, pergilah ke pintu rumahku di bawah pohon ini, pelayanku akan membiarkan kamu masuk."

Rubah yang sedang lapar itu tidak mencurigai apapun, berjalan ke arah lubang dibawah pohon tersebut seperti yang disuruhkan, dan dalam sekejap mata anjing yang tadinya tidur di dalam lubang pohon itu menyergapnya.

Pesan Moral: Siapa yang akan menipu, akan menerima akibatnya sendiri.

20 September 2011

The Dog and the Shadow

Seekor anjing yang mendapatkan sebuah tulang dari seseorang, berlari-lari pulang ke rumahnya secepat mungkin dengan senang hati.

Ketika dia melewati sebuah jembatan yang sangat kecil, dia menunduk ke bawah dan melihat bayangan dirinya terpantul dari air di bawah jembatan itu.

Anjing yang serakah ini mengira dirinya melihat seekor anjing lain membawa sebuah tulang yang lebih besar dari miliknya.

Bila saja dia berhenti untuk berpikir, dia akan tahu bahwa itu hanyalah bayangannya.

Tetapi anjing itu tidak berpikir apa-apa dan malah menjatuhkan tulang yang dibawanya dan langsung melompat ke dalam sungai.

Anjing serakah tersebut akhirnya dengan susah payah berenang menuju ke tepi sungai.

Saat dia selamat tiba di tepi sungai, dia hanya bisa berdiri termenung dan sedih karena tulang yang dibawanya malah hilang, dia kemudian menyesali apa yang terjadi dan menyadari betapa bodohnya dirinya.


Pesan Moral: Sangatlah tidak bijaksana bila kita memiliki sifat yang serakah

05 Agustus 2011

Rahasia Sehat dan Panjang Umur

Ada seorang kakek yang yang sangat bijak.

Kakek ini kesehatannya sangat baik, mukanya memancarkan sinar terang dan kemerah-merahan, sama sekali tidak sama dengan kakek yang berusia 80 tahun.

Kenapa dia bisa membuat dirinya demikian sehat dan panjang umur?

Rupanya dia mempunyai sebuah rahasia. Rahasia itu adalah ketika kakek dan nenek ini menikah, mereka berdua membuat sebuah kesepakatan bahwa setelah mereka menikah, jika mereka bertengkar, setelah terbukti siapa yang benar maka pihak yang kalah harus keluar dan berjalan-jalan di pekarangan rumah.

Selama bertahun-tahun, bahkan tanpa perlu membuktikan siapa yang benar, setiap terjadi pertengkaran kakek ini yang akan mengalah dan berjalan-jalan di pekarangan rumah.

Namun ada sebuah pertanyaan, kenapa Kakek iniyang selalu mengalah?

Dan Kakek ini menjawab ini menjawab karena dia agak bodoh.

Apakah benar begitu? Sebenarnya Kakek ini sama sekali tidak bodoh, juga bukan selamanya dia yang berbuat salah.

Tetapi dia selalu mengalah, setiap terjadi pertengkaran dia yang akan berjalan-jalan dipekarangan rumahnya.

Semua hal itu dilakukan untuk mengurangi terjadi pertengkaran yang lebih besar dan menyakitkan satu sama lain, perbuatan seperti itu patut ditiru.

Coba kita pikirkan sekarang, didunia ini ada berapa orangkah yang dapat selalu mengalah? Dalam setiap pertengkaran selalu mengalah dan mundur selangkah.

Fakta menyatakan, orang yang sudah bertengkar, nalarnya selalu tidak jernih, karena selalu hanya bisa berbicara tetapi kehilangan akal sehat.

Oleh sebab itu, ketika seseorang hanya mempergunakan mulutnya berbicara, bertengkar dan mengkritik orang lain, maka lama kelamaan dia sudah tidak suka lagi mempergunakan “telinganya”, akhirnya dia kehilangan hati, otaknya untuk tidak berpikir dengan jernih dan bijak lagi.

Tetapi seseorang yang suka mengalah, toleran terhadap orang lain, maka orang tersebut akan murah rejeki dan panjang umur.

Ada sebuah buku yang mengatakan:
“Mundur selangkah anda akan menemukan laut luas dan angkasa tak terbatas”

Semangat seperti itu adalah hal yang patut ditiru oleh kita semua.

02 Agustus 2011

Kesombongan Pohon Besar

Sebuah pohon besar tumbuh dekat sungai, disekitarnya juga banyak ditumbuhi alang-alang.

Ketika angin bertiup, pohon besar itu berdiri tegak dan sombong mengangkat ratusan rantingnya ke langit. Sedangkan alang-alang membungkuk rendah menghindari angin.

“Itu kan hanya tiupan angin kecil, mengapa sampai menundukan kepala sampai menyentuh permukaan air? Berdirilah yang tegak dan kokoh meskipun badai datang, seperti saya, si Pohon Besar!”

Alang-alang menjawab “Angin memang tidak mencelakai, kami hanya menunduk dan menghindar sebelum angin membuat kami patah. Anda selama ini dengan kesombongan dan mengandalkan kekuatan, menentang dan melawan angin. Suatu saat semuanya akan berakhir. ”

Seperti apa yang dikatakan Alang-alang, badai besar datang dari utara.

Pohon besar berdiri dengan sombong dan menantang badai.

Sedangkan Alang-alang tetap menunduk.

Angin bertiup semakin kencang bahkan lebih kencang dari biasanya.

Akhirnya Pohon besar karena kesombongannya tumbang sampai ke akar-akarnya. Alang – alang pun ikut sedih dengan tumbangnya pohon besar itu.

______________________________________________

Lebih baik mengalah daripada sombong dan keras kepala karena akan menghancurkan diri sendiri

30 Juli 2011

Ujian Kejujuran

Dahulu kala adalah seorang petani yang sangat miskin, tetapi orangnya sangat jujur dan baik.

Pada suatu hari ketika orang miskin ini sedang berjalan dipasar, dia melihat ada sebuah tas kulit tergeletak di jalan, ketika dia membuka tas tersebut didalam tas seluruhnya berisi emas.

Lalu dia berpikir orang yang kehilangan tas yang demikian berharga ini pasti sangat panik, oleh sebab itu dia duduk dipinggir jalan menunggu pemilik tas ini.

Setelah menunggu beberapa lama, ia melihat seorang wanita yang sedang menangis dengan sedih berjalan ke arahnya, setelah bertanya dan memastikan tas berisi emas ini milik wanita ini, orang miskin ini mengembalikannya kepadanya.

Pemilik emas ini setelah mendapatkan kembali tasnya merasa sangat gembira, dia lalu memberikan uang kepada si miskin sebagai imbalan, tetapi si miskin bersikeras tidak menerima pemberian.

Pada saat itu istri si miskin mendengar pembicaraannya dengan pemilik tas tersebut, dengan lugu dia berkata kepada pemilik tas ini,” Saya sering mendengar orang mengatakan emas, tetapi bagaimana bentuk emas tersebut saya sama sekali tidak pernah melihatnya, dapatkah engkau memperlihatkan kepada saya bagaimana bentuk emas itu?”

Pemilik tas itu segera membuka tasnya menunjukkan emas itu kepada istri si miskin.

Setelah pemilik emas itu berlalu dari tempat itu, istri si miskin membalikkan badannya berkata kepada suaminya, “Ketika saya sedang mencari kayu bakar di hutan, waktu itu hampir sampai di tepi jurang, saya pernah lihat di sebuah gua terpencil, didalamnya banyak sekali emas yang seperti tadi dibawa ibu tersebut. Namun saya tidak tahu bahwa itu adalah emas dan berharga, jadi saya biarkan saja."

Setelah mendengar perkataan istrinya, si miskin lalu mengajak istrinya ke tempat dia menemukan emas tersebut.

Benar saja ketika mereka sampai disana ternyata gua terpencil itu adalah tempat harta karun emas, akhirnya mereka berdua memasukkan emas-emas tersebut kedalam goni membawanya pulang ke rumah mereka, mulai saat itu mereka menjadi orang kaya.

Emas tersebut yang berada dalam gua memang dikaruniakan Tuhan untuk mereka berdua, hanya Tuhan mencoba menguji mereka, untuk melihat kedua suami istri ini apakah mereka memang orang yang jujur?

Mereka berdua berhasil melewati ujian tersebut, dengan jujur mengembalikan emas tersebut kepada pemiliknya.

Akhirnya Tuhan menyerahkan semua emas yang didalam gua itu ke tangan mereka.

__________________________________________

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA


09 Juli 2011

KEMBALI PADA JATI DIRI ......

Semakin lama saya hidup , semakin saya sadar akan pengaruh sikap dalam kehidupan .Sikap lebih penting daripada ilmu,daripada uang ,daripada kesempatan,daripada kegagalan,daripada keberhasilan,daripada apapun yang mungkin dikatakan atau dilakukan seseorang.

Sikap lebih penting daripada penampilan,karunia atau keahlian .Hal yang paling menakjubkan adalah kita memiliki pilihan untuk menghasilkan sikap yang kita miliki pada hari itu .

Kita tidak dapat mengubah masa lalu,kita tidak dapat mengubah tingkah laku orang .Kita tidak dapat mengubah apa yang pasti terjadi .SATU HAL YANG DAPAT KITA UBAH ADALAH SATU HAL YANG DAPAT KITA KONTROL ,DAN ITU ADALAH SIKAP KITA.


Akhirnya .....SELURUH PILIHAN TERLETAK DI TANGAN ANDA.......,tidak ada JIKA atau TETAPI .Andalah pengemudinya ,Andalah yang menentukan JALAN HIDUP ANDA.

08 Juni 2011

Gundul Pacul


Tentunya kita tidak asing lagi dengan lagu "Gundul-gundul Pacul".

Gundul gundul pacul-cul,gembelengan
Nyunggi nyunggi wakul-kul, gembelengan
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar…


Lagu jawa ini sudah ada semenjak tahun 1400, merupakan pesan dan warisan berharga dari leluhur kita dan mempunyai arti filosofi yang sangat dalam.

Namun 600 tahun kemudian, di era milenium ini, arti dan pesan tersebut serasa angin lalu, hanya didengarkan sebagai lagu.

Oleh sebab itu, mari kita simak lagi, apa arti dan pesan keramat yang ada di balik lagu tersebut.

Gundul Pacul

Gundul adalah, kepala plontos tanpa rambut.

Kepala adalah lambang kehormatan, kemuliaan seseorang. Rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala.

Maka gundul artinya kehormatan yang tanpa mahkota.

Pacul adalah, cangkul yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat.

Dalam lagu ini dilambangkan sebagai kawula rendah yang pada waktu itu kebanyakan adalah petani.

Apabila kata Gundul dan pacul digabung jadi "Gundul Pacul", artinya bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia adalah pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Bagi orang Jawa, pacul adalah "Papat kang ucul" (empat yang lepas).

Yang artinya bahwa, kemuliaan seseorang akan sangat tergantung empat hal, yaitu bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya.

1. Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat.
2. Telinga digunakan untuk mendengar nasehat.
3. Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan.
4. Mulut digunakan untuk berkata-kata yang adil.

Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya.
_______________________________________________________

Nyunggi wakul

Nyunggi artinya adalah, membawa sesuatu di kepala.

Wakul artinya adalah, simbol kesejahteraan rakyat. Yang isinya adalah Kekayaan negara, sumberdaya, Pajak dll.

Artinya bahwa kepala yang dia anggap kehormatannya berada di bawah bakul milik rakyat.

Kedudukannya di bawah bakul rakyat. Siapa yang lebih tinggi kedudukannya, pembawa bakul atau pemilik bakul?

Tentu saja pemilik bakul. Pembawa bakul hanyalah pembantu si pemiliknya.
______________________________________________________

Gembelengan:

Gembelengan adalah, melenggak lenggokkan kepala dengan sombong dan bermain-main.

Banyak pemimpin yang lupa bahwa dirinya sesungguhnya mengemban amanah rakyat, besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya..

Banyak pemimpin yang:
1. Menggunakan kekuasaannya sebagai kemuliaan dirinya.
2. Menggunakan kedudukannya untuk berbangga-bangga di antara manusia.
3. Dia menganggap kekuasaan itu karena kepandaiannya.

Saat ini banyak pemimpin yang masih gembelengan, lupa bahwa dia mengemban amanah penting membawa bakul dikepalanya.

Akibatnya, "Wakul ngglimpang segane dadi sak latar"

Bakul terguling dan nasinya tumpah ke mana-mana.

Jika pemimpin gembelengan, maka sumber daya akan tumpah ke mana-mana.

Dia tak terdistribusi dengan baik. Kesenjangan ada dimana-mana.

Nasi yang tumpah di tanah tak akan bisa dimakan lagi karena kotor. Maka gagallah tugasnya mengemban amanah rakyat..

02 Mei 2011

Berat Semangka VS Hati Nurani

Di sebuah desa ada sebuah kios yang menjual semangka, pemilik kios buah itu sangat ahli, dia pasti bisa dengan tepat mengatakan berat dari semangka tersebut tanpa harus menimbangnya.

Pada suatu hari seseorang yang tinggal disekitar daerah itu, datang untuk membeli semangka.

Tanpa ditimbang pemilik kios itu mengatakan berat semangka tersebut, “Yang ini 1.3 kg dan yang ini 1.5 kg.”

Pembeli itu tidak percaya kepada penjual semangka itu, lalu mengambil semangka itu dan ditimbangnya, benar saja berat semangka tersebut seperti yang dikatakan oleh penjualnya.

Kemudian, pembeli itu mengambil sebuah semangka yang besar, dan memberikannya kepada pemilik kios sambil berkata, "jika kamu dapat menebak berat semangka ini, aku akan memberikan segepok uang kepada kamu, uang tersebut cukup untuk membeli 2 kg semangka.

Pemilik kios dengan gembira menyetujui, lalu dengan hati-hati mengangkat melon itu, setelah ditimang-timang ditangannya dia malah berhenti sebentar, beberapa saat kemudian, semua orang yang mengelilingi kios semangka-nya, mendesaknya mengatakan berapa berat semangka tersebut?

Akhirnya pemilik kios menjawab, “1.3 kg”.

Namun ternyata salah, setelah ditimbang berat semangka itu adalah 1.5 kg.

________________________________

Kenapa bisa salah???

Segepok uang, dapat mengacaukan suasana pemilik kios itu, sehingga membuat dia kehilangan keterampilan dan bakat dasarnya yang biasanya sangat tepat.

Jika seseorang lebih mementingkan harta duniawi maka akan semakin mudah kehilangan hati nuraninya.

Hati manusia bagaikan air, namun, hanya ada sedikit desiran angin, akan menimbulkan riak permukaan air yang tenang tersebut.

Kehidupan dunia yang warna-warni penuh dengan godaan, seperti mobil mewah, uang, gadis cantik, ketenaran dan kekuasaan, selalu seperti badai yang menerjang ke dalam hati. Jika tidak berhati-hati, akan membuat kita kehilangan hati nurani, sehingga sulit untuk mengembalikan sifat dasar kita yang penuh kemurnian, kedamaian dan kebaikan.

Seseorang jika dapat hidup dengan tenang dengan kesederhanaan, ketulusan dan kedamaian, maka orang tersebut dapat menahan godaan duniawi yang penuh warna warni, dengan demikian dapat menjaga hati nurani ini tetap tenang dan baik.

Hati nurani, adalah modal dasar kita hidup didunia ini, didalam hati ini tersimpan kecerdasan dan bakat kita, juga tersimpan kualitas kita sebagai manusia.

Kita berkewajiban menjaga hati nurani kita dengan baik dan lurus.

Kita bisa mengenali siapa diri kita sebenarnya, dapat sebesar mungkin mengembangkan potensi kita, sehingga akhirnya dapat memenuhi cita-cita kita menjadi manusia yang baik dan berguna bagi masyarakat ini.

30 April 2011

Harapan yang terlalu tinggi

Ada seorang pengemis, setiap hari dia selalu berpikir, betapa senangnya bila punya uang 1 juta.

Pada suatu hari, pengemis ini tanpa sengaja, melihat seekor anjing kecil yang lucu sedang tersesat.

Pengemis ini melihat disekelilingnya tidak ada seorangpun, lalu ia menggendong anjing kecil ini pulang ke gubuknya dan mengikatnya disana.

Rupanya pemilik anjing ini adalah orang yang paling kaya di kota ini.

Orang kaya ini membuat pengumuman bahwa siapa yang menemukan anjingnya akan diberi hadiah 1 juta.

Keesokan harinya ketika pengemis ini keluar untuk mengemis, melihat pengumuman ini, lalu tergesa pulang kerumahnya membawa anjing itu pergi mengambil hadiahnya.

Ketika dia membawa anjing itu ke rumah orang kaya itu, dia mendengar bahwa hadiahnya sudah bertambah menjadi 2 juta.

Pengemis ini menghentikan langkah kakinya, setelah dipikir-pikir akhirnya dia membawa anjingnya kembali ke gubuknya diikat kembali.

Setelah hari ketiga, benar saja hadiahnya bertambah lagi jadi 3 juta, pada hari keempat hadiah bertambah lagi jadi 4 juta.

Setelah hari yang ke tujuh, hadiahnya sudah sangat mencengangkan, pada saat ini pengemis ini lari pulang ke gubuknya, untuk mengambil anjing ini.

Tetapi diluar dugaannya sungguh kasihan anjing kecil itu sudah mati kelaparan.

_____________________________________________

Sebenarnya didalam kehidupan kita ini, banyak barang bagus bukan karena kita tidak berjodoh mendapatkannya, tetapi harapan kita terlalu tinggi, ketika kita sudah hampir mendekati sebuah target, terkadang kita akan merubah arah mendekati target yang lebih tinggi.

”Harapan manusia bagaikan sebuah gunung, jika kita tidak dapat mengontrolnya akan melukai diri sendiri.”

24 April 2011

Harapan yang membawa terang

Ada dua orang buta yang seorang yang sudah tua dan yang seorang masih muda, mereka adalah guru dan murid, mereka mencari nafkah dengan bermain kecapi.

Pada suatu hari orang buta yang tua ini jatuh sakit, dia tahu umurnya sudah tidak panjang lagi, lalu dia memanggil muridnya ke samping tempat tidurnya.

Tangannya yang gemetaran menggengam tangan muridnya dengan susah payah berkata,” Anakku, didalam sini ada sebuah resep rahasia, resep rahasia ini akan membuat engkau melihat dunia terang lagi, aku menyembunyikannya didalam kecapi ini, tetapi kamu harus ingat, kamu harus bermain kecapi sampai seribu senar kecapi ini terputus, baru boleh mengeluarkan resep rahasia ini, jika tidak kamu tidak akan melihat cahaya terang lagi.”

Si buta kecil ini sambil menghapus air matanya berjanji kepada gurunya, gurunya dengan tersenyum damai pergi meninggalkan dunia ini.

Sehari demi sehari berlalu, setahun demi setahun berlalu, si buta kecil selalu ingat kepada pesan gurunya, selembar demi selembar tari senar putus disimpannya baik-baik, selalu menghitungnya didalam hati. Ketika dia bermain sampai tari senar yang ke 1000 terputus, pemuda kecil buta yang lemah yang dulu sekarang sudah menjadi si buta tua renta.

Dia tidak dapat mengekang rasa bahagia yang ada didalam hatinya, dengan tangan gemetar dia membuka kecapinya, mengeluarkan resep rahasia yang ada didalam kecapi.

Kemudian, orang lain memberitahu kepadanya bahwa itu adalah sepotong kertas kosong, diatas kertas itu tidak tertulis sepatah katapun, air matanya menetes diatas kertas, dia tertawa.

Apakah si buta tua membohongi si buta kecil?

Si buta tua yang dahulunya adalah si buta kecil, memegang kertas putih yang tidak ada tulisan sama sekali, lalu kenapa dia malahan bisa tertawa?

Pada saat dia membuka resep rahasia itu, seketika itu juga dia menjadi mengerti makna yang terkandung didalam hati gurunya, walaupun hanya sepotong kertas putih, tetapi itu merupakan sebuah resep rahasia tanpa tulisan, resep rahasia yang tidak akan ada orang tahu.

Hanya dia sendiri yang dari kecil menemani gurunya bermain kecapi yang mengerti makna yang terkandung dalam resep rahasia yang tanpa tulisan ini.

Resep rahasia itu adalah "HARAPAN" yang memancarkan sinar terang, yang ketika dia berada dalam kesusahan menghadapi perjalanan hidup ini gurunya menyalakan sinar terang ini untuk menemani menjalani perjalanan hidup yang susah ini, jika tidak ada sinar terang ini, dia mungkin sudah ditelan oleh kegelapan hidup ini, mungkin dari dahulu dia sudah tersungkur jatuh oleh kesusahan hidup ini.

Karena "HARAPAN" akan seberkas terang ini, dia dapat bermain kecapi sampai seribu senarnya terputus, karena dia ingin bisa melihat cahaya terang lagi, dengan teguh tanpa goyah mempercayai pesan gurunya.

Kegelapan bukan selamanya terjadi, asalkan tidak mudah melepaskan keyakinan, setelah semua kegelapan ini berlalu, akan ada cahaya yang tidak terbatas.

Setelah menaklukkan berbagai rintangan dan kesusahan, kepercayaan yang teguh ini akhirnya membuat hatinya bisa melihat cahaya terang yang sebenarnya.

Apakah akhirnya dapat melihat sinar terang didunia ini hal yang perlu dibanggakan?

Manusia memiliki sepasang mata yang terang, tetapi memiliki sisi hati yang gelap, apakah ini berguna?
_______________________________________________________

SELAMAT PASKAH


BERKAT TUHAN
SELALU BERSERTA KITA

07 Maret 2011

Wajah Seorang Anak Ketika Melihat Sesuatu yg Tak Mampu Ia Beli

Sudah biasa kalau anak-anak kecil sangat suka dengan yang namanya permen, gula-gula, dan makanan yang manis lainnya. Tapi, mereka yang hidup di negara "ketiga" dan dalam kehidupan yang susah, barang-barang yang sangat murah bagi kita pun tidak sanggup mereka beli. Bagi mereka, tidur di tempat yang mempunyai atap nya saja sudah sangat beruntung.












Sumber :Vivanews Forum

03 Maret 2011

Pendidikan yang sebenarnya

Artikel dibawah ini adalah tulisan dari RHENALD KASALI, Ketua Program MM UI. Yang saya rasa sangat bermanfaat bagi guru-guru dan kita semua selaku pendidik di keluarga kita

________________________________________________

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”

“Dari Indonesia,” jawab saya.

Dia pun tersenyum.


BUDAYA MENGHUKUM

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap.
Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafikgrafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian. *

Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna),tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.


MELAHIRKAN KEHEBATAN

Bisakah kita mencetak orang orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru,sundutan rokok, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.