15 Maret 2012

Miskin yang sesungguhnya

Dahulu, ada sebuah keluarga yang sangat kaya, karena ingin memberi pelajaran kepada putranya untuk menghargai kekayaannya, maka dia menitipkan putranya dirumah saudaranya yang tinggal di desa supaya putranya merasakan bagaimana menjadi orang miskin.

Setelah beberapa minggu berlalu, putranya kembali dari desa dan bapaknya bertanya kepadanya, “Sekarang engkau sudah mengerti apa artinya menjadi “fakir miskin”?

Dengan percaya diri, putranya berkata, “Sekarang saya sudah tahu ayah!”

Ayahnya berkata lagi, “Kalau begitu coba jelaskan kepada ayah!”

Putranya berkata, “Di beranda rumah kita malam hari ada lampu listrik, tetapi di rumah penduduk desa mempunyai langit yang penuh dengan bintang-bintang; dirumah kita tempat bergeraknya walaupun luas, tetapi tempat bergerak penduduk desa lebih luas lagi; makanan dirumah kita harus dibeli dengan uang, tetapi penduduk desa makanan mereka ditanam sendiri, tidak habis dimakan malahan dapat dibagikan kepada tetangga; saya dirumah setiap hari dilayani pelayan, tetapi penduduk desa selain mengurus diri sendiri juga dapat melayani orang lain; rumah kita dikelilingi oleh empat dinding, tetapi dikelilingi oleh sekelompok teman yang melindungi mereka !”

Orang kaya ini setelah mendengar penjelasan anak terbengong disana, putranya melanjutkan berkata lagi :
“Ayah terima kasih engkau membuat saya mengerti betapa miskinnya kita yang sebenarnya!”

12 Maret 2012

Cara cerdik menaklukkan serigala

Ada dua orang anak kecil pengembala sapi tak bersenjata yang sangat pemberani dan gagah, mereka berdua bersama-sama naik keatas gunung mengembala sapi, ditengah perjalanan mereka melihat ada sebuah sarang srigala.

Lalu mereka berdua berunding, “Serigala adalah binatang buas, sering mencelakakan orang, memangsa ternak orang kampung, kita harus memusnahkannya.” Tetapi hanya mengandalkan kita berdua apakah mungkin? Serigala yang demikian buas dan bertenaga besar?”

Ketika sedang berunding mereka berdua memandang ke arah sarang serigala, melihat induk srigala sedang tidak berada ditempat, hanya terdapat 2 ekor anak srigala yang masih kecil. Lalu mereka mendapat akal, mereka berdua masing-masing menangkap seekor anak srigala, masing-masing naik ke atas pohon yang jaraknya beberapa meter jauhnya.

Setelah beberapa saat, induk serigala ini pulang ke sarangnya, melihat anak-anaknya telah hilang, dengan panik dia memanggil-manggil anaknya, pada saat ini satu satu anak pengembala sapi yang berada diatas pohon dengan sekuat tenaganya menarik telinga anak serigala yang dipegangnya, anak srigala merasa kesakitan dan berteriak kesakitan, induk srigala mendengar teriakan anaknya, dia lari ke tempat asal suara teriakan berada.

Melihat anaknya telah ditangkap oleh pengembala sapi dan berada diatas pohon, induk serigala sangat marah, berusaha memanjat dan melompat ke atas pohon, dengan cakarnya berusaha mencakar batang pohon tetapi pohon terlalu tinggi dia tidak bisa naik keatas. Pada saat ini ditempat yang tidak jauh salah satu pengembala sapi melihat kejadiannya seperti dengan pengembala sapi yang lain dia menarik telinga anak serigala yang satu lagi, anak serigala merasa kesakitan lalu berteriak.

Mendengar teriakan anaknya yang satu lagi, induk serigala lari ke tempat asal suara, melihat anaknya yang satu lagi berada diatas pohon ditangkap oleh pengembala sapi yang lain, dia semakin marah, berusaha dengan sekuat tenaga memanjat dan melompat tetapi pohon terlalu tinggi dia tidak bisa naik.

Sedangkan pengembala sapi yang diseberang melihat kejadian ini langsung menarik telinga serigala kecil ini lagi, serigala kecil menjerit kesakitan mereka lakukan bergiliran, sehingga induk serigala berlari mondar mandir dengan panik, akhirnya langkah induk srigala semakin lama semakin lemah dan akhirnya terjatuh karena kecapekan.

Mereka berdua mengintip dari atas pohon melihat induk srigala sama sekali tidak bisa bergerak lagi, lalu mereka turun dari pohon memeriksa induk serigala yang kecapekan.

Kedua gembala kecil ini dengan akal yang bijaksana dan kepintaran mereka, akhirnya mereka dapat mengalahkan serigala besar dan buas ini.
______________________

Kita juga sama jika menghadapi musuh yang lebih kuat daripada kita, kita harus mengunakan akal dan kepintaran kita dengan demikian kita baru bisa mengalahkan musuh yang lebih kuat dari kita.

09 Maret 2012

Si Pintar & Pendayung Sampan

Pada suatu hari seorang pandai sedang duduk disebuah sampan untuk menyeberangi sungai, dalam perjalanan professor mulai mengobrol dengan pendayung sampan ini.

Si pandai bertanya kepada pendayung sampan, “Apakah engkau mengerti sejarah?”

Pendayung sampan menjawab, “Saya tidak mengerti”

Si pandai bertanya lagi, “Apakah engkau mengerti perekonomian?”

Pendayung sampan menjawab, “Saya tidak mengerti”

“Lalu apa yang engkau bisa? Berhitung saya rasa engkau tentu bisa.” Si pandai dengan penasaran bertanya lagi.

“Maaf! Saya tidak mengerti apapun.” Pendayung sampan ini menjawab dengan jujur.

Si pandai dengan sombong menjawab, “Aduh! orang yang tidak mengerti apapun hidupnya sangat menyedihkan!”

Pendayung sampan bertanya kepada si pandai, “Apakah engkau bisa berenang?”

Si pandai berpikir sejenak menjawab, “Apapun saya bisa, hanya berenang saya belum belajar.”

Pada saat ini tiba-tiba angin kencang bertiup, karena angin kencang ini ombak berubah menjadi besar, sampan kecil ini  terbalik, dan kedua orang ini jatuh ke dalam sungai. Si pandai yang tidak bisa berenang sangat ketakutan dan berteriak teriak gelagapan meminta tolong.

Dengan keahliannya berenang, pendayung sampan ini menyelamatkan Si pandai naik keatas pantai. Ketika sampai di tepian ia berkata, “Apapun saya tidak bisa, tetapi jika hari ini bukan karena saya, engkau sudah tidak mungkin bisa hidup lagi.”