Pages

Subscribe:

07 Oktober 2011

Bertemu Bunda Maria

Pada suatu pagi di musim dingin, banyak orang yang berjalan menuju suatu tempat, mereka semua mendengar bahwa tempat tersebut akan dikunjungi Bunda Maria.

Dalam perjalanan menuju ketempat tersebut, terlihat semua orang sibuk saling mengejar berjalan didepan supaya dapat duluan sampai ketempat tersebut mereka mempunyai alasan yang pertama ingin cepat-cepat melihat Bunda Maria, yang kedua adalah mengungkapkan ketulusan hati mereka.

Diantara orang ramai ini, ada seorang bapak-bapak yang separuh baya, dia adalah seorang guru di sebuah sekolah dasar, dia sangat menghormati Bunda Maria.

Ditengah jalan dia melihat ada seorang nenek tua. Nenek tua tersebut bajunya compang camping, tidak tahu apa sebabnya, mungkin karena terlalu lapar atau alasan yang lain, tergeletak ditepi jalan.

Kelihatannya sudah banyak orang yang mengetahui keadaan nenek malang tersebut, karena didekatnya terdapat uang dan makanan yang menumpuk. Tetapi tidak ada seorangpun berhenti bertanya kepadanya bagaimana keadaannya? tidak ada seorangpun yang berusaha menolong nenek yang malang ini, karena mereka semua sibuk melanjutkan perjalanan ingin bertemu dengan Bunda Maria.

Hanya bapak paruh baya ini, melihat keadaan bahaya yang menimpa nenek malang ini, dia berhenti lalu memapah nenek ini sambil mengambil mantelnya dipakai ke tubuh nenek malang ini.

Kemudian dia bertanya kepada orang yang lewat sebentar, dan memikul nenek tersebut melalui sebuah jalan kecil didesa ini menuju ke puskesmas mencari pengobatan untuk nenek malang ini.

Sambil memangkul nenek ini dia berjalan dijalan yang tidak rata , berusaha dengan cepat dengan susah payah, pada saat ini dia sama sekali tidak ingat tujuan sebenarnya ingin bertemu ke Bunda Maria.

Dia hanya ingin dengan cepat menyelamatkan nenek ini, akhirnya disebuah jalan yang sepi, nenek ini tiba-tiba berkata, “Anak baik, berhenti disini saja, tolong turunkan saya, sekarang saya merasa sudah baikan!”.

Dengan hati-hati dia menurunkan nenek ini dari punggungnya sambil membalikkan badannya melihat keadaan nenek ini, dia menjadi tertegun- nenek yang tadinya bajunya compang camping kelihatannya tua, lemah dan sakit-sakitan, pada saat ini kelihatan wajah yang anggun dan welas asih.

Seketika itu dia tidak bisa mengucapkan sepatah katapun, tetapi didalam hatinya segera mengerti keadaan yang terjadi di depan matanya…

Bunda Maria berkata kepadanya, orang yang benar-benar ingin bertemu dengan-Nya bukan dengan perkataan atau gerakan mereka, tetapi adalah orang yang seperti kamu dengan hati yang berbelas kasih, cinta kasih dan tulus hati yang benar-benar keluar dari hati nuraninya.

Siapapun tidak menyangka, selain pria paruh baya ini yang dengan susah payah tanpa memperdulikankan keadaannya menyelamatkan seorang nenek yang tidak dikenal yang akhirnya hanya dia sendiri yang benar-benar bertemu dengan Bunda Maria sedangkan mereka semua yang bergegas pergi ingin bertemu dengan Bunda Maria akhirnya mereka sama sekali tidak bertemu dengan Bunda Maria yang sebenarnya.

26 September 2011

Jadilah singa yang menyisakan makanan untuk orang lain

Ada seseorang melihat ada seekor serigala yang tidak punya kaki.

Walaupun serigala ini tidak mempunyai kaki, tetapi kelihatan serigala ini sangat gemuk dan sehat, kelihatannya dia tidak kekurangan makanan.

Dia merasa sangat heran :”seekor srigala tanpa kaki bagaimana dapat hidup dihutan belantara dan memburu mangsa untuk makanannya?

Kemudian, dia melihat seekor singa menggigit seekor rusa. Dengan sangat rakus dan tergesa-gesa singa ini mengerogoti mangsanya, lalu setelah perutnya kenyang, berlalu dari tempat itu: lalu baru kemudian serigala ini memakan remah-remah daging rusa yang ditinggalkan singa itu, dengan demikian dia mengisi perutnya sampai kenyang.

Keesokan harinya, kejadian ini berulang kembali.

Rupanya setiap hari srigala ini mempertahankan hidupnya dari bekas sisa-sisa makanan singa.

Ketika orang ini melihat kejadian ini, merasa Tuhan sangat adil dan berbelas kasih, terhadap seekor srigala tanpa kaki saja sudah diatur santapan yang dapat mengenyangkan perut setiap hari.

Oleh sebab itu, mulai saat ini orang tersebut tidak mengerjakan pekerjaan apapun lagi, menunggu Tuhan memberi dia makan.

Sesudah beberapa hari berlalu, Tuhan tidak memberi dia sebutir beras, teman dan saudaranya juga tidak datang menanyakan keadaannya, akhirnya dia menjadi kurus kering, pada saat dia merasa sangat lapar.

Suatu saat dia mendengar sebuah suara yang berkata :
”Manusia! Engkau seharusnya seperti seekor singa itu menyisakan makanan untuk orang lain, kenapa harus sama dengan srigala yang tergantung kepada orang lain, menunggu belas kasihan orang lain memakan sisa makanan dari orang lain?

Selagi muda mempunyai tenaga harus bekerja dengan giat mencari makan dan membagi kepada orang lain, jangan hanya bermalas-malas menunggu belas kasihan dari orang lain, orang bijak harus giat bekerja untuk menghidupkan diri sendiri dengan begitu kehidupan yang dijalani akan berarti.

Hanya orang bodoh yang menunggu belas kasihan dan pemberian orang lain untuk kelangsungan hidupnya membuat dia menjadi orang yang tidak berguna dan diremehkan orang lain."

23 September 2011

Anjing, Ayam, dan Rubah

Seekor anjing dan seekor ayam jantan yang berteman akrab, berharap bahwa satu saat mereka akan dapat berkeliling dunia dan menemukan petualangan baru. Sehingga mereka kemudian memutuskan untuk meninggalkan tanah pertanian dan melakukan perjalanan keliling dunia melalului sebuah jalan yang menuju ke hutan.

Kedua sahabat itu berjalan bersama dengan semangat dan tidak bertemu dengan petualangan yang mereka sering bicarakan.

Pada malam hari, ayam jantan, mencari tempat untuk bertengger seperti kebiasaannya, dia melihat sebuah pohon yang berlubang dan dipikirnya pohon tersebut sangat baik untuk dijadikan tempat menginap.

Sang anjing dapat menyelinap ke dalam lubang pohon tersebut dan sang ayam dapat terbang ke atas salah satu dahan pohon tersebut. Keduanya lalu tertidur dengan nyenyak di pohon tersebut.

Disaat fajar mulai menyingsing, ayam jantan tersebut terbangun dan sejenak dia lupa dimana dia berada. Dia mengira dirinya masih di tanah pertanian dimana tugasnya adalah membangunkan seisi rumah pada pagi hari.

Sekarang dengan berdiri diatas jari kakinya, dia mengepakkan sayapnya dan berkokok dengan semangat.

Tetapi bukannya petani yang terbangun mendengar dia berkokok melainkan dia membangunkan seekor rubah yang tidur tidak jauh dari pohon tersebut.

Rubah tersebut dengan cepat melihat ke arah ayam tersebut dan berpikir bahwa dia mendapatkan sarapan pagi yang sangat lezat.

Dengan cepat dia mendekati pohon dimana ayam jantan bertengger, dan berkata dengan sopan:

"Selamat datang di hutan kami, tuanku yang agung. Saya tidak dapat berbicara bagaimana senangnya saya bertemu dengan anda di tempat ini. Saya merasa yakin bahwa kita akan menjadi teman baik."

"Saya merasa tersanjung, tuan yang baik." kata ayam jantan tersebut dengan malu-malu. "Jika kamu memang mau, pergilah ke pintu rumahku di bawah pohon ini, pelayanku akan membiarkan kamu masuk."

Rubah yang sedang lapar itu tidak mencurigai apapun, berjalan ke arah lubang dibawah pohon tersebut seperti yang disuruhkan, dan dalam sekejap mata anjing yang tadinya tidur di dalam lubang pohon itu menyergapnya.

Pesan Moral: Siapa yang akan menipu, akan menerima akibatnya sendiri.