Pages

Subscribe:

29 November 2010

Keras Kepala

Dua ekor kambing berjalan dengan gagahnya dari arah yang berlawanan di sebuah pegunungan yang curam, saat itu secara kebetulan mereka secara bersamaan masing-masing tiba di tepi jurang yang dibawahnya mengalir air sungai yang sangat deras.

Sebuah batang pohon telah dijadikan jembatan untuk menyebrangi jurang tersebut.

Pohon yang dijadikan jembatan tersebut sangatlah kecil sehingga tidak dapat dilalui secara bersamaan oleh dua ekor kambing.

Jembatan yang sangat kecil itu akan membuat orang yang paling berani pun akan menjadi ketakutan.

Tetapi kedua kambing tersebut tidak merasa ketakutan.

Rasa sombong dan harga diri mereka tidak membiarkan mereka untuk mengalah dan memberikan jalan terlebih dahulu kepada kambing lainnya.

Saat salah satu kambing menapakkan kakinya ke jembatan itu, kambing yang lainnya pun tidak mau mengalah dan juga menapakkan kakinya ke jembatan tersebut.

Akhirnya keduanya bertemu di tengah-tengah jembatan.

Keduanya masih tidak mau mengalah dan malahan saling mendorong dengan tanduk mereka sehingga kedua kambing tersebut akhirnya jatuh ke dalam jurang dan tersapu oleh aliran air yang sangat deras di bawahnya.

_________________________________

Sifat keras kepala dan tidak mau mengalah akan membuat kita celaka..

26 November 2010

Burung Gagak yang cerdik

Pada suatu musim yang sangat kering, dimana saat itu burung-burungpun sangat sulit mendapatkan sedikit air untuk diminum, seekor burung gagak menemukan sebuah kendi yang berisikan sedikit air.

Tetapi kendi tersebut merupakan sebuah kendi yang tinggi dengan leher kendi sempit.

Bagaimanapun burung gagak tersebut berusaha untuk mencoba meminum air yang berada dalam kendi, dia tetap tidak dapat mencapainya.

Burung gagak tersebut hampir merasa putus asa dan merasa akan meninggal karena kehausan.

Kemudian tiba-tiba sebuah ide muncul dalam benaknya.

Dia lalu mengambil kerikil yang ada di samping kendi, kemudian menjatuhkannya ke dalam kendi satu persatu.

Setiap kali burung gagak itu memasukkan kerikil ke dalam kendi, permukaan air dalam kendipun berangsur-angsur naik dan bertambah tinggi hingga akhirnya air tersebut dapat di capai oleh sang burung Gagak.

__________________________________

Kemauan, kreatifitas, dan pengetahuan bisa menolong diri kita pada saat yang tepat.

23 November 2010

Bulan yang sombong

Langit ditaburi bintang dan bulan yang bersinar indah. Senang sekali rasanya melihat keindahan malam dari ketinggian.

Alam di bawah tampak sunyi. Hampir di setiap beranda rumah, tampak orang duduk-duduk. Mereka memandang ke langit.

Bulan merasa senang, lalu katanya kepada bintang-bintang,"Lihat, teman-teman. Mereka mengagumiku."

"Mengagumimu? Belum tentu. Mungkin mereka mengagumi kami," kata sebuah bintang.

"Tapi dari bawah, aku kelihatan lebih besar dan indah!" sahut Bulan.

"Huh, sombong!" sungut sebuah bintang pada teman-temannya.


"Dia boleh saja sombong. Tapi, dia tak kan dapat mengalahkan Matahari," kata bintang yang lain.

"Apa?" sahut Bulan terkejut. "Ya, kau tak bisa mengalahkan Matahari. Karena Matahari lebih banyak penggemarnya".

Pagi hari, saat Matahari terbit, orang-orang ingin menyaksikannya.

Waktu Matahari naik, orang-orang berjemur untuk kesehatan.

Selain disukai, Matahari pun disegani. Walaupun ia bersinar terik, orang-orang tidak mengumpat.

Mereka hanya mencari tempat yang teduh. Matahari mempunyai jasa yang besar, mengeringkan jutaan pakaian yang dicuci orang.

"Terus terang, kami pun lebih menyukai Matahari karena ia hebat," kata sebuah bintang. "Tidak sombong lagi!" sahut bintang yang lain.

Bulan diam. Ia sangat kesal. Betulkah Matahari sehebat itu? Sepanjang malam ia tak bisa tenang. Ia terus berpikir bagaimana mengalahkan Matahari. Akhirnya Bulan mendapat akal.

Pagi datang. Matahari segera menghampiri bulan.

"Selamat pagi, Bulan. Sudah saatnya aku bekerja. Sekarang kau boleh beristirahat."

"Tidak!"

"Lo, kenapa?" tanya Matahari heran.

"Aku pun ingin bekerja pada siang hari," sahut Bulan.

"Bulan, siang hari akulah yang bertugas. Kau harus beristirahat supaya bisa tampil segara nanti malam," kata Matahari.

"Tidak! Sebenarnya aku ingin bertarung denganmu," kata Bulan.

"Bertarung? Bertarung bagaimana?" Matahari makin bingung.

"Bintang-bintang mengatakan kau lebih hebat dariku. Aku ingin lihat, apa benar kau lebih hebat?"

"Bagaimana caranya?" tanya Matahari.

"Aku akan tetap tinggal di sini bersamamu. Lalu kita lihat, siapa yang lebih disukai orang-orang," kata Bulan.

"Ha ha ha," Matahari tertawa geli. "Bulan, di pagi hari kau tak kan terlihat. Sinarku lebih kuat dari sinarmu. Jadi apa gunanya?"

Bulan tidak perduli. Ia ingin tetap tinggal bersama Matahari.

Tetapi, kemudian ia kecewa. Sepanjang hari ia di sana, tak seorang pun menyapanya. Mereka hanya menyapa Matahari. "Hu hu, tak seorang pun menyukaiku. Bintang-bintang benar, Matahari lebih hebat dariku," Bulan menangis sedih.

"Benar 'kan Matahari lebih hebat," kata bintang-bintang yang mengelilinginya.

"Sekarang beristirahatlah, Bulan. Malam segera tiba."

"Tidak, aku tidak mau! Tak seorang pun menyukaiku. Apa gunanya aku ada di sana?" sahut Bulan sedih.

"Bulan, dengarlah! Matahari itu tak sehebat yang kau kira. Tapi, kami senang pada Matahari. Karena ia tidak sombong. Kami pun senang padamu, asalkan kau tak sombong. Sebenarnya kau dan Matahari tak bisa dibandingkan. Masing-masing punya kelebihan. Sudahlah, jangan menangis lagi," hibur sebuah Bintang pada Bulan.

Bulan berhenti menangis. Benar apa yang dikatakan Bintang. Ia tak boleh sombong. "Bulan, coba lihat!" kata sebuah bintang. Di bawah, sekelompok anak melambai-lambaikan tangan.

"Ya, mereka menginginkan kau menerangi tempat itu. "Tapi uaaaah...." Bulan menguap.

"Bulan mengantuk karena sepanjang siang tidak tidur. Biarlah untuk malam ini ia istirahat," kata bintang-bintang.

Malam itu Bulan tidak bekerja. Ia tertidur dengan nyenyak. Biarlah malam itu langit tak dihiasi Bulan. Yang penting, Bulan telah menyadari kesalahannya. Ia tak lagi sombong dan tetap hadir setiap malam.